Pemerintah Sebut Pembangunan PLTU Batu Bara Baru Tak Lagi Jadi Opsi | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 06.10.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Energi Terbarukan

Pemerintah Sebut Pembangunan PLTU Batu Bara Baru Tak Lagi Jadi Opsi

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut pembangunan PLTU baru tidak lagi menjadi opsi kecuali yang saat ini sudah dalam tahap konstruksi. Rencana penyediaan tenaga listrik PLN tahun 2021-2030 menurutnya akan lebih hijau.

Foto ilustrasi PLTU Batu Bara

Foto ilustrasi PLTU Batu Bara

Pemerintah tampaknya mulai serius menggenjot pembangkit energi terbarukan atau ramah lingkungan. Hal itu tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) tahun 2021-2030. Pembangunan PLTU tak lagi jadi pilihan, kecuali untuk PLTU yang pembangunannya tengah berlangsung.

"Pembangunan PLTU yang baru tidak lagi menjadi opsi kecuali yang saat ini sudah committed dan dalam tahap konstruksi. Hal ini juga untuk membuka peluang, membuka ruang yang cukup besar untuk pengembangan energi baru terbarukan," kata Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam konferensi pers, Selasa (5/10/2021).

Arifin mengatakan, RUPTL kali ini akan lebih hijau. Dalam RUPTL PLN 2021-2030 terdapat penambahan pembangkit dengan kapasitas 40,6 giga watt (GW). Dalam penambahan pembangkit ini, porsi dari energi baru dan terbarukan (EBT) akan lebih besar yakni mencapai 51,6%.

"RUPTL ini lebih hijau karena porsi penambahan pembangkit EBT hingga mencapai 51,6% lebih besar dibandingkan dengan penambahan fosil yang sebesar 48,4%," katanya.

Dia mengatakan, dengan kecenderungan harga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang semakin murah maka porsinya akan didorong lebih besar.

"Dengan kecenderungan harga PLTS yang semakin murah dan masa pembangunan yang lebih cepat untuk pencapaian target 23% bauran EBT pada 2025 porsi PLTS didorong lebih besar dibandingkan RUPTL yang sebelumnya," katanya.

RI akan ekspor listrik?

Arifin juga mengatakan, Indonesia bakal mengekspor listrik ke Singapura. Interkoneksi sistem ketenagalistrikan Sumatera dengan Singapura dalam kajian.

"Interkoneksi Sumatera ke Malaysia sudah dijadwalkan untuk COD (commercial operation date) 2030. Sedangkan untuk interkoneksi Sumatera-Singapura sedang dilakukan kajian dalam rangka mengekspor energi listrik yang bersih ke Singapura," kata Arifin.

Untuk meningkatkan keandalan dan penetrasi EBT, di mana sumbernya jauh dari pusat permintaan maka pemerintah mendorong interkoneksi ketenagalistrikan di dalam pulau maupun antarpulau.

"Pada 2024 diharapkan interkoneksi dalam Pulau Kalimantan-Sulawesi sudah terwujud sebagai bagian rencana pemerintah untuk interkoneksi seluruh pulau besar yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi," katanya.

Saat ini juga tengah dikaji interkoneksi yang menghubungkan antarpulau besar di Indonesia. Selain meningkatkan keandalan, langkah ini untuk mengatasi kelebihan pasokan pada sistem kelistrikan yang besar. Pada RUPTL ini juga direncanakan relokasi pembangkit yang utilitasnya rendah.

"Selain itu dalam RUPTL ini direncanakan juga relokasi pembangkit yang utilitasnya rendah ke wilayah yang lebih membutuhkan," terangnya.

PLN tinggalkan PLTU Batu Bara mulai 2025

PT PLN (Persero) akan mengganti sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) mulai tahun 2025. Langkah ini sebagai salah satu wujud komitmen PLN untuk mengejar bauran EBT sebanyak 23% di tahun 2025. Serta, mengejar target tambahan pembangkit EBT dengan porsi 51,6% dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030.

"Program selanjutnya setelah tahun 2025 pembangkit yang sebelumnya dirancang menggunakan PLTU batu bara diganti PLT EBT base 1GW. Serta melakukan retirement 1,1 GW PLTU sub critikal di Muara Karang, Tanjung Priok, Tambak Lorok, dan Gresik pada tahun 2030," kata Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dalam konferensi pers RUPTL PLN 2021, Selasa (5/10/2021).

Zulkifli juga menuturkan, pihaknya akan meningkatkan keberhasilan commercial operation date (COD) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kemudian, mendorong program dediselisasi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Kemudian, mendorong implementasi co-firing biomassa pada PLTU.

Lebih rinci, Direktur Perencanaan Korporat PLN Evy Haryadi menuturkan, sejumlah strategi dilakukan untuk mengejar bauran energi EBT 23% di tahun 2025. Sebutnya, meningkatkan keberhasilan COD PLTP 1,4 giga watt (GW) dan PLTA/PLTM 4,2 GW.

"Terdapat juga program dediselisasi PLTD sebesar 588 MW atau setara kombinasi PLTS 1,2 GW dengan baterai storage," katanya.

Kemudian, pembangunan PLTS 4,7 GW dan PLTB 0,6 GW yang tersebar di berbagai wilayah. Lalu, implementasi co-firing PLTU yang diperkirakan meningkatkan bauran energi sekitar 6%.

"Di samping juga seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya pembangkit EBT base load 1 GW, termasuk retirement 1,1 GW PLTU sub critical di periode 2026-2030," katanya. (Ed: gtp/pkp)

Baca artikel selengkapnya di:DetikNews 

Pemerintah Setop Pembangunan PLTU Baru!

PLN Mulai Tinggalkan PLTU Batu Bara Mulai 2025

 

Laporan Pilihan