1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
BencanaIndonesia

Pemerintah Klaim Kucurkan 268 Miliar bagi Bencana Sumatera

19 Desember 2025

Mendagri Tito Karnavian menegaskan pemerintah sudah mengucurkan dana sekitar Rp268 miliar untuk provinsi terdampak bencana Siklon Senyar di Sumatera. Sejauh ini, korban tewas akibat banjir sudah mencapai 1.071 jiwa.

https://p.dw.com/p/55imq
Penyintas bencana di Aceh Tamiang
Warga terdampak bencana di Aceh Tamiang menunggu bantuan donasi warga, 14 Desember 2025.Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh masih bertambah. Pencarian hari ini ditemukan tiga jenazah.

"Per hari ini jumlah korban meninggal secara total di 3 provinsi ini bertambah 3 dari 1.068, sore hari ini 19 Desember menjadi 1.071 jiwa," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam jumpa pers, Jumat (19/12).

Berikut data jumlah korban tewas 18 Desember 2025:

  • Aceh: 455 meninggal dunia
  • Sumut: 369 meninggal dunia
  • Sumbar: 247 meninggal dunia.

Adapun jumlah korban hilang saat ini sebanyak 185 orang. Dan warga terdampak yang masih mengungsi sebanyak 526.868 jiwa.

"Untuk jumlah yang masih mengungsi dari 537.185 kemarin, ini berkurang menjadi 526.868 jiwa," terang Abdul Muhari.

Dia juga mengatakan 27 kabupaten/kota masih dalam status tanggap darurat. Meski demikian, pemerintah melakukan percepatan pembangunan hunian tetap dan hunian sementara bagi warga terdampak.

"Langkah percepatan pembangunan hunian tetap maupun hunian sementara di lokasi terdampak sudah mulai dikerjakan dan dilakukan percepatan," jelasnya.

Selengkapnya, "Korban Meninggal Bencana Sumatera Kini 1.071 Orang, 185 Masih Hilang"  

Pemerintah kucurkan 268 miliar

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, memastikan kehadiran penuh pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Kehadiran tersebut meliputi penyaluran anggaran, bantuan logistik, hingga percepatan pembangunan hunian tetap bagi masyarakat terdampak.

Banjir Aceh: Jembatan Putus, Warga Antre Perahu

Mendagri menjelaskan, pemerintah pusat telah menyalurkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 268 miliar atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Dana tersebut diberikan kepada tiga provinsi serta 52 kabupaten/kota terdampak bencana.

"Anggaran belanja tidak terduga untuk 52 kabupaten/kota dan provinsi dari Bapak Presiden sebagai tambahan sebanyak Rp 268 miliar. Kami cek sudah diterima semua oleh tiga provinsi masing-masing Rp 20 miliar, kabupaten/kota Rp 4 miliar di 52 kabupaten/kota, dan sudah digunakan sesuai arahan yang sudah kami sampaikan," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (19/12/2025).

Hal itu disampaikan Tito dalam Konferensi Pers Bencana Sumatera bersama Menko PMK, Panglima TNI, dan Kapolri di Posko Bencana Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Selain dukungan dari pemerintah pusat, Tito juga mengapresiasi solidaritas antardaerah yang turut memberikan bantuan anggaran maupun logistik.

Sejumlah pemerintah daerah (Pemda) telah menyalurkan dukungan, di antaranya Kalimantan Timur Rp 7,5 miliar, Jawa Barat Rp 7 miliar, Sulawesi Utara Rp 1,5 miliar, Kalimantan Utara Rp 1 miliar, Sulawesi Selatan Rp 4 miliar, Jawa Tengah Rp 1,3 miliar, dan Jawa Timur Rp 5 miliar.

"Bu Khofifah langsung turun," tambahnya.

Kemudian, bantuan juga datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) Rp 1,5 miliar, Sumatera Selatan berupa barang senilai Rp 2,6 miliar, Banten Rp 3 miliar, Kalimantan Tengah Rp 3 miliar, Sulawesi Barat Rp 1 miliar, serta DKI Jakarta Rp 3 miliar yang disalurkan langsung ke Kota Lhokseumawe beserta bantuan logistik. Menyusul Maluku Utara Rp 2 miliar, Bengkulu Rp 4,3 miliar, dan Gorontalo Rp 1 miliar.

"Total Rp 43 miliar, ditambah dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Lahat, Pak Bursah Zarnubi turun langsung ke sana lebih kurang Rp 5 miliar. Jadi lebih kurang Rp 48 miliar," jelasnya.

Tingkatkan layanan pascabencana

Guna mendukung pelayanan administrasi kependudukan bagi masyarakat terdampak bencana, Kemendagri juga telah membentuk sembilan tim, termasuk tim dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) yang diturunkan ke tiga provinsi sejak 10 Desember 2025. Tim tersebut bertugas mempercepat pengurusan dokumen kependudukan, seperti KTP dan akta kelahiran yang hilang.

Mendagri juga menyampaikan rencana groundbreaking pembangunan hunian tetap bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) serta Menteri Hukum. Pembangunan hunian tetap tersebut mencakup 2.600 unit, dengan rincian 1.000 unit di Aceh, 1.000 unit di Sumatera Utara, dan 600 unit di Sumatera Barat, yang didukung oleh sejumlah yayasan.

"Akan ada groundbreaking di Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Kita akan turun langsung ke sana," ujarnya.

Lebih lanjut, Tito mengapresiasi Kementerian Keuangan, khususnya Ditjen Bea dan Cukai, serta Kementerian Perdagangan yang telah mempercepat proses pengeluaran bantuan pakaian dari kawasan ekonomi untuk keperluan penanganan bencana. Pengiriman bantuan tersebut dilakukan dalam beberapa gelombang dan akan diserahkan kepada masyarakat terdampak.

Terkait infrastruktur pemerintahan desa, Tito menyebut terdapat 360 kantor desa rusak ringan serta 25 kantor desa rusak berat di wilayah tiga provinsi terdampak bencana. Untuk kerusakan ringan, penanganan akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Apabila tidak memadai, pemerintah pusat akan mengambil alih penanganannya. Sementara itu, untuk kerusakan berat akan diajukan kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

"Kami mengucapkan terima kasih atas kekompakan semua Pemda dan semua unsur Forkopimda serta semua pihak yang telah bergerak sehingga bekerja dengan cepat dan kita sudah lihat banyak hasilnya," tandasnya.

 

Baca Detiknews,
Selengkapnya, "Mendagri Pastikan Kehadiran Penuh Pemerintah Tangani Bencana Sumatera"

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait