Pemerintah Irak Tutup Mulut | Fokus | DW | 28.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pemerintah Irak Tutup Mulut

Tak seorangpun dari pemerintah Irak yang tahu bagaimana kelanjutan nasib mantan presiden Saddam Hussein.

Berita tentang hukuman mati bagi Saddam di sebuah koran Irak.

Berita tentang hukuman mati bagi Saddam di sebuah koran Irak.

Sampai Rabu (27/12), pemerintah tetap menolak untuk memberikan komentar terhadap pengukuhan hukuman mati bagi Saddam, dan untuk terlibat dalam proses pengadilan selanjutnya. Mentri Kehakiman Irak hanya mengatakan, bahwa ia tidak memperkirakan mantan Diktator itu akan segera dihukum mati.

Keputusan pengadilan banding tersebut harus terlebih dulu diajukan kepada presiden, lalu kepada dinas pelaksanaan hukuman, dan itu jelas butuh waktu. Akhir pekan mendatang dimulailah perayaan Idul Qurban yang berlangsung selama beberapa hari, dan karenanya seluruh kantor pemerintah tutup.

Namun demikian, masih diperdebatkan apakah hukuman mati itu pada kenyataannya memang harus diajukan ke Presiden Jalal Talabani. Juru bicara kepresidenan Hiwa Uthman mengatakan belum menerima berkas-berkasnya.

Uthman: "Kasus itu belum sampai ke Presiden. Presiden Jalal Talabani mengatakan ia menghormati keputusan pengadilan. Keputusan itu sudah final. Bagaimana prosedur dan pelaksanaannya, itu akan kita dengar dari pengadilan. Ini adalah pengadilan khusus yang dibentuk oleh UU khusus, dan kami masih menantikan penjelasan tentang kasus tersebut dari mereka."

Secara prinsip, Talabani menolak hukuman mati. Tapi selama ini ia membiarkan kedua wakilnya yang memberikan pengukuhan yang diperlukan agar sebuah hukuman mati dapat dilaksanakan. Tampaknya Talabani sendiri juga tidak tahu, apakah persetujuannya memang betul-betul dibutuhkan untuk menghukum amti Saddam. Jurubicara Talabani Uthman:

Uthman: "Menurut keputusan pengadilan, tidak seorangpun yang dapat mengubah vonis tersebut atau memberikan grasi kepada Saddam Hussein. Jadi, keputusan itu sudah final. Apakah kami harus ikut menandatangani keputusan itu, kami masih harus menunggu. Menurut pengadilan, presiden tidak bisa mengubah vonis atau mengganti hukumannya. Jadi sekali lagi masih harus kita tunggu, apakah keputusan dari presiden itu perlu atau tidak."

Dalam semacam surat perpisahan yang dipublikasikan Rabu (27/12), Sadam Hussein menulis bahwa ia mengorbankan diri. Jika Allah mengijinkan, maka tempatnya berada di antara para martir. Demikian tulis Saddam. Ia menghimbau pada rakyatnya untuk bersatu dan berjuang melawan musuh rakyat.

Surat itu ia tulis bulan November, setelah ia dijatuhi hukuman mati.

Pengukuhan atas vonis tersebut, Selasa(26/12), disambut rakyat Irak dengan tenang. Tidak ada pesta gembira, juga tidak ada protes massal. Begitu pula di negara-negara Arab lainnya.

Sedikit sekali yang percaya, bahwa hukuman mati bagi mantan diktator itu akan memperbaiki ataupun memperburuk situasi di Irak.