Pemerintah Impor Lagi Beras | Fokus | DW | 13.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pemerintah Impor Lagi Beras

Pemerintah Indonesia, hari ini mengumumkan rencana untuk kembali mengimpor beras demi mengamankan cadangan beras nasional. Protes muncul dari sana sini.

default

Dalam Rapat Kabinet Terbatas yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla, di gedung Badan Urusan Logistik Bulog, pemerintah memutuskan untuk kembali mengimpor, 500 ribu ton beras. Langkah ini diambil untuk menjaga stok beras nasional dan mendukung operasi pasar besar-besaran dalam menstabilkan harga. Dengan tambahan Impor ini, maka sepanjang tahun ini saja, pemerintah telah mendatangkan 1 juta ton beras ke indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla beralasan, impor kali ini dilakukan, karena pemerintah tidak ingin mengambil risiko keamanan stok beras, mengingat cuaca yang tidak bisa diprediksi. Saat ini, cadangan beras di Bulog, hanya mencapai 700 ribu ton atau kurang dari angka aman sekitar 1 juta ton. Kalla menjelaskan, tender pengadaan beras impor akan dimulai hari ini, agar beras impor sudah masuk pada bulan Maret dan April mendatang.

"Masalah hari ini yaitu, tingginya harga beras. Kita tidak ingin harga ini berlanjut, maka keputusanya, adalah, pemerintah harus menyiapkan supply yang cukup, dalam bentuk operasi pasar sebesar besarnya, mau 200 mau 300 mau berapapun kita penuhi. Tapi untuk kelanjutan stok boleh import, tambah lagi, karena itu saya instruksikan import tambah 500 ribu ton lagi, tujuannya satu, demi masyarakat umum, tidak boleh ada gejolak harga yang berlebihan"

Dalam rapat kabinet sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memang menginstruksikan operasi pasar besar besaran, setelah harga beras di sejumlah daerah melonjak melampaui harga normal sekitar 4000 rupiah. Namun, keputusan impor beras ini, tetap saja mengejutkan karena sebelumnya, Departemen Pertanian menyatakan, optimistik tahun ini stok beras berada dalam angka aman. Impor beras ini juga dilakukan bertepatan dengan pencanangan revitalisasi pertanian, dengan target tambahan produksi beras minimal 2 juta ton. Inilah yang membuat anggota komisi 6 DPR Aryo Bimo menuding, rencana impor beras itu, semata mata untuk mencari keuntungan. Apalagi, pengalaman sebelumnya, meski impor beras terus dilakukan, namun harga beras dipasaran masih tinggi.

"Impor beras ini ironi, karena dalam keadaan kemaren dimana mana, Menteri Pertanian melakukan panen raya, alasan impor akan berdampak pada penurunan harga beras, ini gak pernah terjawab. Kapan harga beras turun. Karena kecanduan pemerntah melakukan import beras, motifnya kita ragukan bukan untuk menstabilkan beras tapi motifnya hanya untuk mendapatkan selisih harga beras yang dinikmati bersama pemburu rente yang kongkalingklong dengan kebijakan politik

Sikap serupa juga dinyatakan Federasi Serikat Petani Indonesia. Menurut Juru Bicara FSPI Ahmad yakub, keputusan impor beras berulang ulang ini, semakin menunjukan, buruknya manajemen pemerintah dalam mengelolah beras nasional. Padahal menurut Yakub, untuk mencegah terulangnya hal itu, pemerintah hanya perlu sebuah langkah sederhana.

"Yang harus dibenahi adalah Manajemen antar waktu panen oleh pemerintah. Ketika panen beras, bulan maret atau april pemerintah harus membeli sebanyak banyaknya beras untuk stok ketika bulan seperti oktober november, dimana beras berkurang itu dilepas Dan kedua, subsidi subsidi langsung pemerintah itu dipastikan sampai langsung ketangan petani"

Bagaimanapun, menurut Ahmad Yakub, keputusan pemerintah mengimpor beras akan sangat merugikan petani, karena harga beras impor jauh lebih murah.

Zaki Amrullah