Pemerintah Filipina Klaim Hampir Tumpaskan Abu Sayyaf | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 21.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pemerintah Filipina Klaim Hampir Tumpaskan Abu Sayyaf

Presiden Filipina, Gloria Macapagal Arroyo mengatakan tentara pemerintah kini berada di ambang kemenanganan melawan kelompok militan Muslim, Abu Sayyaf.

Arroyo: Pemberontak hampir dapat ditumpas.

Arroyo: "Pemberontak hampir dapat ditumpas."

Namun pejabat militer dan pengamat mengatakan, selama kelompok Abu Sayyaf masih bergerak, sebenarnya sulit untuk ditumpas. Sebab mereka bergerak di medan yang bergunung-gunung dan hutan. Kelompok Abu Sayyaf merupakan tokoh kunci dibalik ketidakstabilan keaman di kawasan Filipina Selatan. Kelompok ini juga diyakini sebagai pihak yang memberikan perlindungan terhadap dua tersangka peristiwa pengeboman di Bali tahun 2002. Mereka terkait dengan jaringan organisasi teroris, Jemaah Islamiah.

Presiden Filipina Gloria Arroyo menegaskan, tentaranya terus menggempur kelompok teroris Abu Sayyaf di tempat persembunyian mereka, dan kemenangan hampir diraih. Arroyo mengumumkan pencapaian ini dalam pertemuan pemerintah yang disiarkan di televisi.

Para pimpinan teroris dan pengikutnya satu per satu berhasil ditumbangkan, dan kita hampir memusnahkan kelompok Abu Sayyaf secara keseluruhan.”

Pada awal Agustus ini, tentara melancarkan serangan dengan mengerahkan sekitar 6000 tentara untuk melawan Kelompok Abu Sayyaf di Pulau Jolo, lokasi kelompok ini berada. Diberitakan kemudian, sekitar 20 tentara dan polisi tewas dan 80 lainnya cedera dalam pertikaian itu. Pejabat berwenang memperkirakan sekitar 50 pemberontak mati. Jumlah tersebut lebih sedikit ketimbang banyaknya korban yang tidak ditemukan.

Seorang perwira Filipina Francisco Patrimonio mengklaim serangan ofensif terus dilakukan terhadap gerilyawan Islam yang masih gencar bergerak. Namun kelompok pemberontak tersebut menghabiskan banyak waktu untuk menghindari tentara, sehingga mereka tidak punya kesempatan dalam melancarkan serangan balasan.

"Mereka sudah kehabisan stamina, semangat dan juga persediaan logistik karena kami secara terus menerus menekan mereka.”

Patrimonio mengatakan, sulit bagi militer untuk berembuk dengan para gerilyawan dan membuat keputusan bersama. Medan hutan yang berbukit di Pulau Jolo memberikan keuntungan strategis tersendiri bagi para militan. Ramon Casiple dari Institut Manila untuk Reformasi Politik dan Ekonomi mengatakan:

Di perbukitan, perlawanan masih berlangsung. Karena kelompok Abu Sayyaf sangat licin dalam menghindari dari serangan militer sebagai upaya menangkap mereka. Dan ini yang akan memancing pertempuran.”

Casiple mengatakan, lemahnya Badan Intelejen Filipina menyulitkan untuk menggempur para militan secara tuntas.

"Permasalahannya adalah tidak adanya kerjasama dari penduduk setempat. Jadi tidak ada gambaran lengkap tentang wilayah tersebut. Dan pertempuran terjadi di hutan. Jadi situasinya tidak begitu jelas.”

Sementara serangan terus dilancarkan, pejabat berwenang masih bersiaga menghadapi serangan teror. Pekan ini tentara menemukan sekitar setengah ton bahan peledak ammonium nitrat dari kapal feri yang bergerak dari Jolo. Kelompok Abu Sayyaf diduga menjadi dalang pengeboman sebuah kapal feri dekat Manila, yang menewaskan sekitar 100 orang, di tahun 2004.

Iklan