Pembunuhan demi Kehormatan di Iran: Kabur dengan Seorang Pria, Remaja Putri Dibunuh Ayahnya Sendiri | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 28.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

iran

Pembunuhan demi Kehormatan di Iran: Kabur dengan Seorang Pria, Remaja Putri Dibunuh Ayahnya Sendiri

Pembunuhan atas nama kehormatan keluarga kembali terjadi. Seorang gadis remaja berusia 14 tahun diduga dibunuh oleh ayahnya sendiri di Iran. Insiden itu menimbulkan kemarahan publik.

Gambar simbol

Gambar ilustrasi

Seorang pria Iran dilaporkan menggunakan sabit membunuh putrinya sendiri saat dia tertidur. Insiden itu telah memicu protes nasional. Reza Ashrafi, yang kini mendekam dalam tahanan, sangat marah karena putrinya Romina melarikan diri bersama seorang pria berusia 34 tahun, Bahamn Khavari. Peristiwa itu terjadi di Talesh, sekitar 320 kilometer barat laut ibu kota Teheran. 

Dalam masyarakat tradisional di Timur Tengah, termasuk Iran, seorang gadis yang melarikan diri sering dipersalahkan, ketimbang pria yang kabur bersamanya, karena dianggap mencemari kehormatan keluarga.  

Romina ditemukan lima hari setelah meninggalkan rumah dan dibawa ke rumah sakit  kantor polisi. Ayahnya kemudian membawanya pulang meskipun gadis itu mengatakan kepada polisi bahwa ia takut akan reaksi keras dari sang ayah. 

Warganet mengutuk pembunuhan itu 

Pada hari Rabu (27/05), sejumlah surat kabar nasional menampilkan berita yang disebut `´honor killing’ atau pembunuhan demi kehormatan. Sementara itu, tagar #Romina_Ashrafi telah digunakan lebih dari 50.000 kali di Twitter, dengan sebagian besar pengguna mengutuk pembunuhan itu dan sifat patriarkal masyarakat Iran secara umum. 

‘Honor Killing' diartikan sebagai pembunuhan yang dilakukan terhadap seorang anggota keluarga yang dianggap memalukan keluarga. Aturan perlindungan hukum bagi korban pembunuhan demi kehormatan tampaknya telah mandek selama bertahun-tahun di antara berbagai badan pengambilan keputusan di Iran. 

Presiden Iran Hassan Rouhani mendesak kabinetnya untuk mempercepat aturan hukum yang lebih keras terhadap kasus-kasus pembunuhan demi kehormatan dan mendorong pengadopsian segera undang-undang yang relevan. 

Sulit mengumpulkan data 

Hanya tercatat sedikit data tentang pembunuhan demi kehormatan di Iran, di mana media lokal sesekali melaporkan kasus-kasus seperti itu. Berdasarkan hukum, usia minimum anak perempuan menikah di Iran adalah usia 13 tahun, meskipun usia rata-rata perempuan yang menikah 23 tahun. Namun tidak diketahui persis berapa banyak perempuan dan anak perempuan dibunuh oleh anggota keluarga atau kerabat dekatnya karena dianggap melanggar norma Islam konservatif. 

Pengadilan Iran mengatakan kasus Romina akan disidangkan di pengadilan khusus. Berdasarkan undang-undang, ayahnya menghadapi hukuman penjara maksimal  hingga 10 tahun penjara. 

Wakil presiden Iran yang bertanggung jawab atas urusan keluarga, Masoumeh Ebtekar, menyatakan harapannya bahwa rancangan undang-undang dengan hukuman yang lebih keras bisa segera disetujui. 

Shahnaz Sajjadi, pembantu presiden untuk urusan hak asasi manusia, mengatakan kepada situs berita khabaronline.ir: ``Kita harus merevisi gagasan bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk anak-anak dan perempuan. Kejahatan yang terjadi menimpa perempuan di tempat umum bahkan lebih sedikit ketimbang kejahatan yang terjadi di rumah-rumah.“ 

 

ap/vlz (ap)