Pembicaraan Perdamaian di New Delhi | Fokus | DW | 20.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pembicaraan Perdamaian di New Delhi

India dan Pakistan bertekad tingkatkan pendekatan antarnegara

KA India-Pakistan Setelah Ledakan 19.02.07

KA India-Pakistan Setelah Ledakan 19.02.07

Setelah serangan terhadap kereta api perdamaian India-Pakistan yang menewaskan 67 orang, India dan Pakistan menyatakan keinginan untuk tetap melanjutkan dialog politik.

Masih belum jelas siapa yang berdiri dibelakang ledakan hebat yang menimbulkan kebakaran mengerikan di kereta api India-Pakistan hari Senin (19/02) kemarin. Dugaan diarahkan kepada ekstrimis islam dan militan Hindu. Seorang penumpang kereta telah ditangkap, namun terlalu dini untuk membicarakannya. Demikian kata Sekretaris Kementrian Dalam Negeri India, Vinod Kumar Duggal.

Lain dari pada serangan-serangan dan insiden sebelumnya, kali ini tidak terdengar saling tuduh dari politisi India maupun Pakistan. Ini juga disebabkan karena korban yang jatuh tidak hanya warga India, tetapi juga banyak warga Pakistan. Penderitaan bersama menimbulkan kesadaran bersama, demikian dikemukakan aktivis hak warga India, Urvashi Butalia: „Ironi peristiwa tragis itu adalah kenyataan bahwa hasil dari serangan itu berlawanan dengan tujuannya semula. Peristiwa itu menyatukan warga. Karena rakyat biasa India dan Pakistan yang menderita. Jika pelaku serangan hendak menghambat jalan menuju perdamaian, maka mereka telah mencapai sebaliknya.“

Kini, kedua negara secara demonstratif menekankan rencana untuk perundingan perdamaian mereka. Menteri Luar Negeri Pakistan Kurshid Kasuri tiba seperti yang direncanakan di New Delhi Selasa sore waktu setempat. Dia dijadwalkan hadir dalam perundingan perdamaian India-Pakistan. Kasuri: „Pemerintah India dan Pakistan sama sekali tidak boleh membiarkan pelaku serangan mencapai targetnya. Kami akan mempercepat proses perdamaian. Hanya penyelesaian menyangkut sengketa terbuka yang akan membantu permasalahan.“

Dua minggu ke depan, para pakar antiteror India dan Pakistan untuk pertama kalinya akan merembukkan langkah-langkah nyata pembasmian teroris. Pertemuan para menteri luar negeri kedua negara tersebut pekan ini di New Delhi diharapkan membuahkan gagasan politik yang penting.

Namun perbedaan pandangan antara Pakistan dan India, tampak nyata. Banyak politisi dan diplomat India menilai, Pakistan merupakan „episentrum terorisme“. India menuntut Pakistan untuk lebih keras menindak kamp pelatihan dan pedukung kelompok ekstrimis islam, terutama di wilayah Kashmir. Tetapi Pakistan memperingatkan untuk tidak menekannya. Sekretaris Jenderal partai pemerintah Pakistan PML-Q, Mushahid Hussein Sayed mengatakan: „Kita semua adalah korban terorisme. Kedengarannya aneh jika selalu menuntut Pakistan untuk lebih bertindak. Kami berusaha menangani masalah terorisme. Itu tidaklah mudah. Tetapi kami melakukan sebisa kami dan tidak perlu saran dari luar untuk melaksanakannya.“

Penyelesaian konflik inti antara India dan Pakistan mengenai masa depan Kashmir tampaknya tidak dapat diselesaikan dengan cepat. Para pakar berpendapat, selama masalah itu tidak terselesaikan, maka para ekstrimis kedua negara akan terus mengganggu proses perdamaian melalui tindak kekerasan.