Pembahasan Program Atom Iran di Wina | Fokus | DW | 02.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pembahasan Program Atom Iran di Wina

Amerika Serikat menyatakan kesediaan untuk berunding secara langsung, bila Iran mau membekukan program atomnya. Sambutan dari Iran tidaklah seberapa.

Demonstrasi anti-nuklir warga Iran di Wina

Demonstrasi anti-nuklir warga Iran di Wina

Sikap saling curiga antara Washington dan Teheran sangat besar. Sejak lebih dari 26 tahun kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik. Pernyataan AS untuk berunding langsung dengan Iran, menimbulkan secercah harapan. Tetapi pertemuan kelima anggota tetap dalam Dewan Keamanan ditambah dengan Jerman di Wina barulah awalnya, karena tidak ada seorang pun wakil dari Iran yang diundang.

Keenam menteri luar negeri terlebih dulu hendak menyepakati tawaran yang akan diajukan kepada Teheran. Itu pun sudah cukup sulit. Kemudian pemerintah di Teheran akan diinformasikan bahwa mereka berada di persimpangan jalan.

Keputusan yang mereka ambil bukan hanya menyangkut program nuklir nasionalnya, melainkan akan dapat menentukan pula hubungan di masa depan dengan negara-negara lainnya. Tidak ada ultimatum, melainkan hanya tawaran, demikian menurut para diplomat Eropa. Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier melihat terbukanya peluang baru. Ia berharap bahwa pemerintah di Teheran menyadari makna dari pernyataan ini dan memberikan tanggapan yang sepantasnya.

Dalam pertemuan di Wina itu, Steinmeier adalah satu-satunya menteri luar negeri dari negara yang tidak memiliki hak veto dalam Dewan Keamanan PBB. Bersama dengan Jerman, AS, Inggris, Prancis, Rusia dan Cina hendak menggerakkan pemerintah Iran agar mau melepaskan seluas mungkin program pengayaan uraniumnya. Karena uranium yang dikayakan dapat digunakan untuk menghasilkan energi, tetapi juga untuk membuat senjata atom.

Selama ini Cina dan Rusia menentang dikeluarkannya ancaman pemberlakuan sanksi terhadap Teheran. Tetapi menurut menlu AS, Condoleezza Rice, iming-iming positif saja tidak cukup untuk membuat Teheran berubah pendapat. Rice menambahkan bila Iran tidak memilih jalan perundingan, diperlukan tindakan yang lebih tegas dari masyarakat internasional, terutama mitra-mitra dalam Dewan Keamanan PBB. Artinya juga langkah-langkah yang menekan Iran.

Hal ini rupanya belum disepakati dengan suara bulat oleh keenam negara peserta pertemuan.

AS, tiga negara UE, Rusia dan Cina juga hendak menawarkan imbalan kepada pemerintah Iran. Tetapi sesudah pertemuan di Wina pun rinciannya belum akan diumumkan. Mula-mula pemerintah di Teheran akan memperoleh informasi mengenainya. Tetapi beberapa hal sudah disinggung dalam minggu-minggu belakangan ini.

Diantaranya pembuatan reaktor air ringan, kerja sama dalam penerbangan sipil, jaminan keamanan dan juga pemasokan uranium yang diperkaya dari Rusia.
Sedangkan langkah-langkah yang menjadi sanksi adalah dihentikannya pengiriman sarana teknologi atau pencekalan terhadap pegawai negeri dan politisi Iran. Menurut Martin Jäger, juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman, paket kerja sama ini ditujukan untuk meluaskan kerja sama dengan Iran di masa depan.