PBB: Afganistan Butuh Bantuan Senilai Rp 70 Trilyun Tahun 2022 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 12.01.2022

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Afganistan

PBB: Afganistan Butuh Bantuan Senilai Rp 70 Trilyun Tahun 2022

Bantuan PBB untuk Afganistan dan pengungsi Afganistan di negeri jiran akan berkisar USD 5,1 milyar tahun ini. Jumlah tersebut dinilai krusial untuk mencegah bencana kelaparan atau malnutrisi, terlebih pada anak-anak.

Seorang ibu membawa dua anaknya mengemis di kota Kabul di tengah musim dingin, (16/12/21)

Seorang ibu membawa dua anaknya mengemis di kota Kabul di tengah musim dingin, (16/12/21)

Pengumuman Kantor untuk Bantuan Darurat (OCHA) di Jenewa, pada Selasa (11/1), merupakan permohonan donasi terbesar yang pernah dilakukan PBB untuk sebuah negara. 

"Tanpa dukungan, puluhan ribu anak-anak terancam meninggal dunia akibat malnutrisi, karena ambruknya fasilitas layanan kesehatan dasar di seluruh negeri,” tulis organisasi tersebut.

Menurut OCHA, sebanyak 4,7 juta penduduk Afganistan terancam kelaparan tahun ini, termasuk 3,9 juta anak-anak. Tanpa bantuan tambahan, setidaknya 131.000 anak-anak bisa mengalami malnutrisi.

"Sebuah bencana kemanusiaan besar sedang megintai,” kata Koordinator Bantuan Darurat PBB, Martin Griffiths. 

OCHA mengkalkulasikan anggaran bantuan kemanusiaan untuk sekitar 22 juta penduduk di Afganistan akan berkisar USD 4,4 milyar. Jumlah itu sudah mencakup bantuan pangan, bibit tanaman dan pupuk untuk petani, layanan kesehatan, suplai air bersih, serta biaya operasi sekolah-sekolah dan kamp pengungsian.

Di luar anggaran tersebut, PBB juga membutuhkan dana tambahan untuk membiayai enam juta pengungsi Afganistan di lima negeri jiran, antara lain di Pakistan dan Iran.

Karena dana bantuan kemanusiaan tidak boleh dialirkan melalui Taliban, organisasi bantuan harus secara langsung terjun ke lapangan. Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) mewanti-wanti terhadap besarnya hambatan bagi penyaluran bantuan PBB.

Uang donasi saja tidak cukup, "jika dunia internasional dan pemerintahan Taliban tidak bisa bersepakat untuk menjamin adanya uang tunai di dalam negeri,” kata Kepala NRC, Jan Egeland, merujuk pada keluhan LSM internasional yang kesulitan mengiriman uang ke Afganistan.

Respon cepat Amerika Serikat

Amerika Serikat menjadi negara pertama yang mengikuti imbauan OCHA. Selasa (11/1), Gedung Putih mengumumkan tambahan bantuan untuk Afganistan senilai USD 308 juta atau sekitar Rp 4 trilyun tahun ini.

"Dana ini menambah nilai bantuan kemanusiaan AS bagi Afganistan dan pengungsi Afganistan menjadi hampir USD 782 juta sejak Oktober 2021,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional di Washington, Emily Horne.

Dia menegaskan dana itu tidak akan dikucurkan melalui penguasa Taliban, melainkan lewat organisasi bantuan independen.

Negeri di Hindukush itu didekap krisis ekonomi menyusul penarikan mundur pasukan AS dan pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban, Agustus 2021. Pembekuan aset Afganistan bernilai milyaran US Dollar di luar negeri dan derasnya arus modal keluar negeri ikut memperparah situasi.

Pemerintahan lama Afganistan setiap tahun menerima dana bantuan militer dan sipil sebesar USD 8,5 milyar dari donor internasional. Kucuran duit tersebut membiayai sekitar 75 persen pengeluaran negara, termasuk untuk sistem pendidikan dan layanan kesehatan.

Pengumpulan donasi untuk Afganistan pada tahun 2021 termasuk yang paling besar dalam sejarah PBB. Sebanyak 88 persen dari USD 870 juta yang dibutuhkan sudah terpenuhi. Dana bantuan darurat yang diminta pasca kolapsnya pemerintahan Afganistan bahkan melebihi perkiraan, yakni USD 823 juta.

Di seluruh dunia, OCHA tahun 2022 ini menganggarkan dana untuk membantu sekitar 274 juta manusia, yang mengalami peningkatan dari 250 juta pada tahun 2021. 

rzn/as (dpa,ap)

Laporan Pilihan