Paus Kunjungi Mesjid Biru di Istanbul | Fokus | DW | 01.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Paus Kunjungi Mesjid Biru di Istanbul

Kunjungan ini merupakan sebuah isyarat penting bagi perdamaian antara gereja Katolik Roma dan Islam

Penjagaan yang ketat di depan Mesjid Biru, Istanbul

Penjagaan yang ketat di depan Mesjid Biru, Istanbul

Paus Benediktus ke XVI mengunjungi Mesjid Sultan Ahmed di Istanbul, yang juga dikenal sebagai Mesjid Biru Kamis (30/11) kemarin. Kunjungan ini merupakan sebuah isyarat penting bagi perdamaian antara gereja Katolik Roma dan Islam – juga dengan latar belakang pidato Paus di Regensburg yang kontroversial. Kutipan tentang Islam yang ada dalam pidato tersebut telah memicu kemarahan umat Muslim.

Benediktus ke XVI memasuki Mesjid Biru bersama ulama besar Istanbul, Mustafa Cagrici. Mesjid Biru adalah rumah peribadatan paling penting di Turki. Semetara sang ulama berdoa dengan suara keras di dalam mesjid, dapat dilihat bagaimana Paus Benediktus menggerakkan bibirnya, jelas juga sedang berdoa. Seperti tata cara Muslim, Paus juga berdiri menghadap kearah Mekah. Di televisi, dapat dilihat bagaimana ia menyilangkan tangannya didepan dada dan memejamkan matanya untuk beberapa detik. Paus Benediktus ke XVI merupakan Paus kedua yang mengunjungi mesjid setelah pendahulunya, Paus Johanes Paulus ke II.

Setelah kunjugan di Mesjid Biru ini, Cagrici memberikan Paus sebuah kenang-kenangan kaligrafi dengan bentuk merpati, sebagai simbol persaudaraan. Secara kebetulan, Paus Benediktus juga meberikan sang Ulama cindera mata dengan motif yang sama.

Sebelum Mesjid Biru, Sri Paus lebih dahulu mengunjungi museum Hagia Sophia. Bangunan terkenal yang dahulu merupakan gereja terbesar di dunia, sebelum diubah menjadi sebuah mesjid setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed pada tahun 1453. Sekarang bangunan ini adalah sebuah museum.

Kamis (30/11) pagi, Paus Benediktus ke XVI dan pemimpin tertinggi gereja Ortodoks dari Istanbul, Bartholomeus I, menandatangani deklarasi bersama tentang pendekatan kedua gereja. Persatuan kedua gereja Timur dan Barat ditetapkan sebagai tujuan. Kekerasan dengan nama agama dikecam. Dengan tegas dikatakan, akar Kristen Eropa harus dilindungi.

Perpecahan gereja merupakan tema dalam doa bersama dengan pemimpin tertinggi gereja Ortodoks tersebut. Dalam hal ini, Benedikt menggambarkan perpecahan itu sebagai "skandal bagi dunia". Pada akhir misa, Paus Benediktus menekankan keinginannya akan persatuan.

Dalam misanya, pemimpin tertinggi gereja Katolik ini sama sekali tidak menyinggung tentang hubungan dengan Islam. Sebaliknya, Paus Benediktus mengundang para pemimpin dari 300 juta umat Kristen Ortodoks di dunia berdialog, untuk menentukan cara, bagaimana jabatan Paus dapat dijalankan di masa depan. Tawaran semacam itu sudah diajukan oleh pendahulunya, Paus Johanes Paulus ke II, pada tahun 1995.