Pasukan Perdamaian Cina di Libanon | Fokus | DW | 19.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pasukan Perdamaian Cina di Libanon

Awal tahun ini Cina sudah mengirim 180 tentara perdamaian PBB ke Libanon. Sekarang Cina meningkatkan jumlah tentara perdamaiannya menjadi 1.000 orang.

Pasukan Baret Biru Cina

Pasukan Baret Biru Cina

Cina mempunyai hubungan baik dengan kedua negara, Libanon dan Israel. Menurut Jin Canrong, seorang pakar hubungan internasional dari Peking, dengan pengiriman pasukan perdamaian PBB ini, Cina ingin menunjukkan, bahwa sebagai anggota tetap dewan keamanan PBB mereka siap mengambilalih tanggung jawab di dunia.

Cancrong: "Menurut saya, alasan pengiriman ini adalah, bahwa negara-negara Eropa telah menuntut hal tersebut. Tentang konflik Israel dan Libanon, sudah diputuskan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa seharusnya bertanggung jawab untuk pengiriman pesukan perdamaian ke wilayah itu. Negara-negara Eropa telah mendorong perkembangan ini dan mereka memikul beban yang berat. Diberitakan 7.000 tentara perdamaian PBB berasal dari negara-negara Eropa. Tetapi jumlah ini masih jauh dari target mengirim 15.000 tentara perdamaian. Jika Cina juga ikut serta dalam pengiriman, maka kekuatan pasukan perdamaian PBB akan kurang lebih seimbang.“

Pasukan perdamaian PBB dari Cina belum mempunyai sejarah yang panjang. Baru sejak tahun 1989 Cina ikut serta dalam misi perdamaian seperti ini. Pada awalnya, mereka hanya mengirim pengamat militer, lalu 800 insinyur teknik sipil dari Cina dikirim ke negara tetangga, Kamboja, dalam rangka misi PBB. Sementara itu 6.000 prajurit perdamaian Cina ditempatkan di seluruh dunia, misalnya di Sudan, Kongo, Haiti atau pun di Kosovo.

Pasukan perdamaian Cina dapat dikenali melalui lambang PBB dan bintang merah dengan tulisan Cina. Seperti pasukan perdamaian lainnya, mereka juga bertugas mencari ranjau, mengosongkan wilayah perang, menolong dalam pembangunan kembali serta memperbaiki jalan dan jembatan yang rusak. Ini memang strategi Cina. Di tahun-tahun belakangan, Cina lebih terlibat dalam penempatan pasukan perdamaian, demikian dikatakan oleh Pakar Jin Canrong.

"Dengan melibatkan diri dengan penempatan pasukan perdamaian, Cina ingin menunjukkan bahwa rasa tanggung jawab mereka juga meningkat. Negara-negara lain selalu melihat Cina dengan rasa curiga. Semakin kuat Cina, semakin juga Cina dilihat sebagai sebuah ancaman. Oleh karena itu, ada strategi politik luar negeri: Semakin banyak Cina menunjukkan kepada dunia bahwa mereka ikut serta dalam penempatan pasukan perdamaian, semakin besar juga peluang Cina untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa mereka benar-benar merupakan negara yang bertanggung jawab.“

Memang Cina ikut serta dalam penempatan pasukan perdamaian PBB dan selain itu juga selalu aktif dalam mencari solusi perdamaian. Tetapi negara besar ini memang tidak ingin menduduki posisi politik yang besar. Seperti pada krisis atom Iran atau Korea Utara yang semakin rumit. Cina menolak sanksi-sanksi yang mungkin dijatuhkan – hubungan perekonomian dengan kedua negara dirasakan terlalu penting.

Dengan pengiriman 1.000 prajurit perdamaian PBB ke Libanon, Cina mendapat nilai tambah. Hal ini dapat mengalihkan perhatian dari keputusan tentang Iran dan Korea Utara dan juga dari diskusi tentang tentang situasi hak asasi manusia yang buruk atau kurangnya kebebasan pers di Cina.