Pasukan Makar Timor Leste Serahkan Senjata | Fokus | DW | 17.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pasukan Makar Timor Leste Serahkan Senjata

Memenuhi permintaan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao tentara yang makar mulai menyerahkan senjata.

Pasukan Malaysia membantu pengamanan di Timor Leste

Pasukan Malaysia membantu pengamanan di Timor Leste

Para pemberontak yang dipimpin oleh Mayor Alfredo Alves Reinado hari Jumat (16/06) menyerahkan 12 senapan M16, 4 pistol dan amunisi kepada pasukan Australia di Maubise. Senjata-senjata itu lemudian disimpan dalam kotak besi. Menjelang penyerahan senjata, pimpinan pasukan internasional yang berada Timor Leste, Brigadir Mark Slater mengatakan kepada media:

Mick Slater: “Saya berharap bahwa senjata-senjata pertama akan diserahkan hari, tapi saya kira akan membutuhkan beberapa hari untuk menerima seluruh senjata itu.”

Krisis di Timor Leste diawali dengan dipecatnya 600 orang tentara Timor Leste. Ke enam ratus serdadu ini berasal dari wilayah Barat. Karena merasa didiskriminasikan, mereka menuntut agar mendapat hak yang sama dengan pasukan Timor Leste dari wilayah Timur. Tuntutan ini tidak dipenuhi, dan pasukan yang merupakan 40% dari seluruh militer Timor Leste itu dipecat.

Di Timor Leste, tentara di wilayah Barat dianggap lebih dekat kepada Indonesia. Mayor Reinado adalah salah satu diantara hanya tiga orang tentara Timor Leste barat yang mendapatkan pangkat militer yang lebih tinggi. Reinado yang mengaku tidak melakukan desersi karena tetap setia kepada Presiden Xanana Gusmao, sebulan yang lalu hengkang dari posnya dan bergabung dengan tentara yang memberontak. Pasukan ini menuntut mundurnya Perdana Menteri, Mari Al Katiri yang bertanggung jawab atas pemecatan tersebut. Secara terpisah pasukan ini juga meminta Presiden Xanana Gusmao yang masih menjadi Panglima Tertinggi Militer Timor Leste untuk memungkinkan turunnya Perdana Menteri Mari Al-Katiri. Namun di muka parlemen, Presiden Gusmao menyatakan bahwa ia akan tetap menghormati dan bertindak sesuai konstitusi.

Kekerasan yang sebelumnya terbatas pada bentrokan militer, kemudian meluap menjadi kerusuhan brutal yang memporakporandakan ibukota Dili. Menurut Badan Koordinasi bantuan kemanusiaan PBB, OCHA, kerusuhan itu menyebabkan 133.000 orang mengungsi.

Saat ini, di Timor Leste terdapat sekitar 2.500 tentara dan polisi dari Australia, Malaysia, Selandia Baru dan Portugal. Mereka berada di sana atas permintaan pemerintahan Timor Leste. Sementara Sekjen PBB, Kofi Annan memperkirakan bahwa pasukan internasional yang dipimpin oleh Australia akan menetap enam sampai 12 bulan di Timor Leste sebelum digantikan oleh pasukan baret biru dan Polisi PBB.