Keresahan Umat Islam di Yunani Setelah Perubahan Status Hagia Sophia | Mukalama | DW | 06.08.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

rumah ibadah

Keresahan Umat Islam di Yunani Setelah Perubahan Status Hagia Sophia

Setelah Turki mengubah museum Hagia Sophia Istanbul kembali ke masjid, umat Islam di Athena cemas peresmian tempat ibadah yang telah tertunda lebih dari satu dekade akan semakin mundur.

Menanti masjid negara seteklah 10 tahun

Masjid di Athena

Upaya untuk membuka masjid resmi yang diizinkan pemerintah di Athena, sudah berlangsung sejak tahun 2007. Athena adalah satu-satunya ibu kota Eropa yang belum memiliki masjd resmi. Namun rencana itu mendapat tentangan dari gereja Ortodoks yang berpengaruh di Yunani, juga dari kelompok-kelompok nasionalis. 

"Saya rasa setelah kejadian (perubahan status Hagia Sophia) ini, bahkan mungkin lebih sulit untuk membuka masjid yang telah kami tunggu selama sepuluh tahun," kata Imam Atta-ul Naseer, yang mengelola sebuah masjid darurat di sebuah apartemen di pusat kota Athena, sebagaimana dikutip dari AFP. 

Di Turki, Hagia Sophia, sebuah keajaiban arsitektur abad ke-6 yang saat itu berfungsi sebagai gereja berubah menjadi masjid pada tahun 1453 setelah penaklukan Konstantinopel oleh Kekaisaran Utsmaniyah. Pada tahun 1934, pendiri Republik Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk, mengubah monumen itu menjadi museum sebagai simbol Turki yang sekuler. Tetapi pada bulan Juli lalu, pengadilan tinggi Turki memutuskan pembatalan keputusan tahun 1934 tersebut dan membuka jalan bagi Hagia Sophia untuk diubah kembali menjadi masjid. Yunani termasuk negara paling vokal menentang perubahan status Hagia Sophia tersebut.  

"Saya rasa sebuah masjid harus tetap menjadi masjid. Seharusnya tidak menjadi sebuah gereja atau apa pun. Sama seperti orang Kristen mengharapkan Hagia Sophia untuk tetap menjadi sebuah gereja, umat Islam mengharapkan hal yang sama," kata Imam Naseer. 

Dilansir dari AFP,  sebuah masjid resmi tanpa menara dan berada di bawah pengawasan negara Yunani, diperkirakan akan dibuka di Athena pada akhir musim gugur tahun ini di distrik industri Elaionas, timur laut Athena. 

Namun sebelum masjid tersebut diresmikan, guna memenuhi kebutuhan komunitas muslim yang diperkirakan berjumlah hampir 300.000 orang, sejumlah masjid darurat di Athena didirikan untuk sementara waktu. Masjid-masjid darurat ini dapat ditemukan di apartemen, ruang bawah tanah dan bahkan gudang. 

Terhalang ketegangan dua negara 

Naseer percaya bahwa masjid-masjid Utsmaniyah yang bersejarah di Athena, seperti yang berada di alun-alun pusat monastiraki yang telah diubah menjadi museum, bisa berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Islam. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sendiri telah mengusulkan hal ini kepada para pemimpin Yunani. 

Tetapi masalah ini cukup rumit di negara yang pernah diduduki oleh Kekaisaran Utsmaniyah selama berabad-abad, sebelum mendapatkan kembali kemerdekaannya pada abad ke-19. Di Yunani, sentimen anti-Turki tetap kuat dan ketegangan saat ini antara kedua negaraterkait soal migrasi dan eksplorasi energi di Mediterania timur, semakin memperkuat permusuhan. "Dalam hati Yunani, muslim masih dikaitkan dengan penjajah Turki," catat Naseer. 

Tinggal di Yunani selama tujuh tahun terakhir, imam kelahiran Pakistan ini mengaku menghadapi rasisme dan terkadang bahkan kekerasan oleh militan neo-Nazi. "Tetapi secara umum, orang Kristen dan muslim hidup bersama secara damai," katanya kepada AFP. 

Aturan ketat dalam pendirian rumah ibadah resmi 

Dalam upaya untuk mengelola masjid darurat, Yunani menetapkan aturan operasional yang ketat. Pengelola masjid harus mendaftarkan nama perwakilan agama dan latar belakangnya, jumlah jamaah reguler dan sumber pendapatan lembaga. 

Ruang salat juga harus memenuhi standar keselamatan, yang mencakup alarm kebakaran, fasilitas sanitasi, dan pintu keluar darurat. "Prosedurnya rumit dan butuh waktu. Beberapa masjid telah memperoleh izin dari kementerian," kata Naseer. 

Di kawasan yang banyak dihuni warga keturunan Pakistan di Athena, sebuah pintu hijau tampak menonjol di jalur pusat perbelanjaan: inilah pintu masuk ke Masjid Al Jabbar. 

Imam Bangladesh Abu Bakar dengan bangga menunjuk ke arah dokumen kementerian yang terpampang  di dinding. "Sejak 2017, kami telah beroperasi secara legal," katanya. "Masjid resmi yang akan dibuka di Yunani jauh dari pusat Athena di mana banyak pengungsi muslim tinggal dan bagaimanapun hanya dapat menampung 350 orang." 

"Masjid yang tidak resmi tetapi legal, seperti milik kami, akan tetap diperlukan bagi umat muslim yang ingin mempraktikkan keyakinan mereka di Athena," kata Abu Bakar. 

Satu-satunya masjid yang berasal dari era Utsmaniyah dan saat ini beroperasi di Yunani terletak di wilayah perbatasan dengan Turki, yakni di Thrace, yang menjadi rumah bagi sekitar 150.000 penduduk minoritas Turki. 

ap/ae (AFP)