1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Partai Sarkozy Menang, Tapi PerolehannyaTurun

18 Juni 2007

Kaum kiri berhasil bangkit secara mengesankan dalam pemilihan parlemen Prancis putaran kedua, hari Minggu kemarin.

https://p.dw.com/p/CP5S
Sekjen Partai Sosialis, Francois Hollande
Sekjen Partai Sosialis, Francois HollandeFoto: AP
Para politikus kiri berhasil meraup 228 kursi, jauh di atas Pemilu parlemen lima tahun lalu yang hanya 178 kursi. Persisnya, Partai Sosialis memperoleh 209 kursi, lebih dari sebelumnya 149, partai Komunis 15 kursi dan Partai Hijak 4 Kursi. Partai Tengah yang baru dibentuk oleh Francois Bayrou memperoleh 4 kursi. Sementara kaum kanan justru melorot. Mereka hanya memoperoleh 345 kursi, dibanding 399 kursi hasil pemilu 2002.

Ini hasil yang mengejutkan, karena hasil pemungutan suara saat putaran pertama pekan lalu, menunjukan anjloknya perolehan suara kaum kiri, dan melonjaknya perolehan suara partai-partai kanan pendukung presiden Nicolas Sarkozy.

Sekjen Partai Sosialis Prancis, Francois Hollande gembira menyambutnya: "Gelombang biru yang pekan lalu diperkirakan itu tak terjadi. Hasil ini akan membuat parlemen baru nanti diwarnai perbedaan dan keberagaman. Ini suatu hal yang bagus untuk negeri kita.

Gelombang biru yang dimaksudkan adalah kemenangan besar partai presiden Sarkozy, UMP, yang warna kebesarannya adalah biru. Memang, jika hasil putaran pertama menjadi patokan, partai UMP bisa menyapu lebih dari 400 kursi di parlemen Prancis yang seluruhnya beranggotakan 577 orang itu. Namun ternyata, di putaran kedua, para pemilih mengambil pertimbangan lain.

Segolene Royal, tokoh partai Sosialis yang tetap populer kendati kalah dalam pemilihan presiden, menyatakan: "Rakyat Prancis menunjukan lewat pemilihan ini, bahwa mereka ingin menjaga kebebasan dan demokrasi republik ini dengan membangun oposisi yang kuat dan konstruktif."

Para politikus kiri memang bekerja keras untuk mengubah kecenderungan mencemaskan yang ditunjukan hasil putaran pertama, yang memperkirakan kaum kiri hanya akan memperoleh sekitar 100 kursi. Para politikus kiri habis-habisan berusaha meyakinkan para pemilih, bahwa dominasi mutlak partai kanan dengan pemerintahan kanan, berbahaya bagi demokrasi. Dan usaha itu tidak sia-sia. Bekas calon presiden Partai Sosialis, Segolene Royal, menggambarkan:

"

Di antara dua putaran Pemilu parlemen ini bangkit suatu kesadaran di kalangan para pemilih. Dan sekarang, kaum oposisi mengemban suatu tugas untuk mengawasi, melindungi dan menawarkan.

Yang dimaksud Segolene Royal adalah mengawasi pemerintahan, melindungi rakyat dari kebijakan yang kontroversial, dan menawarkan perspektif dan kebijakan lain.

Pemerintahan Presiden Sarkozy sejak awal mengkampanyekan sejumlah kebijakan kontroversial untuk merombak sistem kesejahrteraan sosial dan mendongkrak ekonomi Prancis yang memang terpuruk. Seperti kenaikan pajak. Para politikus kiri menyebut, hasil ini menunjukan bahwa rakyat tidak setuju pada kebijakan itu.

Namun perdana menteri Francois Fillon menampik. Kendati perolehan partai-partai kanan jauh di bawah yang diperkirakan, namun tetap saja mereka mayoritas yang menguasai parlemen. Dikatakan Francois Fillon:

"Demokrasi kita telah dikuatkan oleh proses kampanye Pemilu yang begitu panjang. Prancis telah mengambil keputusan dengan pertimbangan sehat yang memberikan dukungan mayoritas bagi presiden Sarkozy untuk mewujudkan kebijakan-kebijakannya. Rakyat Prancis telah memilih perubahan, dan itulah yang akan terjadi. Kita akan mengubah kebiasaan lama dan melawan berbagai tabu yang selama ini menghambat kemajuan negeri kita."

Nyatanya, hasil akhir Pemilu justru memaksa presiden Sarkozy merombak kabinetnya. Terutama karena kekalahan Alain Juppe, yang menduduki posisi kedua terpenting di kabinet, sehingga dijuluki super menteri. Sebelumnya memang ditegaskan, siapapun menteri kabinet yang kkalah dalam Pemilu parlemen, harus mengundurkan diri. Alain Juppe adalah bekas perdana menteri yang dikucilkan sekian lama karena skandal keuangan partai. Para pemilih rupanya menolak upaya presiden Sarkozy untuk memulihkan karir politik Alain Juppe.