Parlemen Afrika Selatan Pilih Presiden Baru | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 25.09.2008
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Parlemen Afrika Selatan Pilih Presiden Baru

Dalam pemilihan hari ini (25/09), Kgalema Motlanthe menjadi calon favorit ANC untuk menjadi presiden sementara. Anggota serikat kerja, menteri dan orang kepercayaan Jacob Zuma ini juga disenangi oposisi.

Kgalema Motlanthe

Kgalema Motlanthe


Ketegangan di ibukota Afrika Selatan, Kapstadt bisa dirasakan dengan jelas. Karena yang sedang berlangsung bukan sidang parlemen biasa. Tetapi suasananya sendiri ramai. Saat pembukaan banyak anggota parlemen yang menari dan bernyanyi di ruang sidang. Karena partai pemerintah ANC menduduki lebih dari dua pertiga kursi di parlemen, kemungkinan besar calon dari partai itu akan terpilih, yaitu Kgalema Motlanthe.

Calon Favorit

Pimpinan ANC memberikan berbagai pujian bagi Motlanthe. Misalnya Ngoako Ramahlodi, yang mengatakan, bahwa ia pemimpin yang terbuka dan dekat dengan rakyat. Ia mengatakan, bisa meyakinkan negaranya, bahwa mereka akan mendapat presiden yang sangat baik.

Jika segalanya berlangsung seperti direncanakan ANC, Kgalema Motlanthe akan menjadi presiden Afrika Selatan yang ketiga setelah demokrasi ditegakkan di negara itu. Bagi partai oposisi, Motlanthe yang berusia 59 tahun juga politisi yang baik.

Steven Swart dari Partai Kristen Demokrat Afrika berkata sebelum sidang parlemen dimulai, partainya tidak menentang Motlanthe. Ia mengatakan, "saya rasa pertikaian belakangan ini berawal dari persaingan intern ANC, dan pengaruhnya atas negara ini sangat kami sesali. Tetapi kami mengharapkan yang terbaik untuk tuan Motlanthe, jika ia terpilih sebagai presiden."

Rakyat Khawatir

Sebagian besar rakyat Afrika Selatan juga berpikir, tentunya baik, jika harapan itu terpenuhi. Banyak orang merasa tidak tenang. Pertikaian di dalam ANC menyebabkan kekhawatiran, karena dapat mengganggu kestabilan politik. Pengamat seperti misalnya Tinyiko Maluleke dari Universitas Afrika Selatan juga berpendapat sama. Menurutnya sengketa politik itu tidak menguntungkan negara. Rakyat melihat sebuah partai yang bisa dibilang terpecah, dan mereka punya alasan untuk merasa dihianati. Demikian pendapat Maluleke.

Hal ini memang dirasakan sebagian orang. Itu dapat dilihat antara lain dari kenyataan, bahwa beberapa ratus anggota ANC keluar dari partai. Inilah konsekuensi dari persaingan kekuatan antara Thabo Mbeki, yang sudah tidak menjadi presiden lagi, dan pemimpin ANC, Jacob Zuma. Bagi analis politik Mohau Pheko, itu logis. Menurutnya, pertikaian di tubuh partai menyebabkan perpecahan. Sehingga sebagian anggota berpendapat, tidak ada gunanya tetap menjadi anggota partai, juga tidak di bawah pemimpin baru, yang akan menjadi presiden sementara.

Harapan bagi Perekonomian

Kamis, 25 September presiden baru Afrika Selatan dipilih. Tetapi ketegangan di dalam partai yang memerintah tetap belum berakhir. Namun demikian satu hal penting sudah jelas. Walaupun sebelumnya mengundurkan diri, Menteri Keuangan Trevor Manuel yang menjadi otak di belakang kemajuan ekonomi negara itu, kini menyatakan bersedia kembali diangkat menjadi anggota kabinet oleh presiden baru. Dengan demikian setidaknya perekonomian Afrika Selatan dan internasional bisa bernapas lega. (ml)