Pantas Saja Jokowi Malu, Indonesia Impor Pacul 268 Ton! | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 08.11.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

EKONOMI

Pantas Saja Jokowi Malu, Indonesia Impor Pacul 268 Ton!

Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa malu lantaran Indonesia tercatat masih mengimpor pacul, sebanyak 268 Ton. Padahal, industri di tanah air sudah mampu memproduksi sesuai kebutuhan yang ada.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti soal pengadaan barang cangkul yang masih impor. Ada ratusan ribu unit cangkul yang dibutuhkan.

"Ini puluhan ribu, ratusan ribu cangkul yang dibutuhkan masih impor. Apakah negara kita yang sebesar ini industrinya yang sudah berkembang benar, pacul cangkul harus impor?" ujar Jokowi di Rakornas LKPP di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (6/11).

Jokowi menyayangkannya. Padahal di Indonesia masih terjadi defisit transaksi berjalan.

"Enak banget itu negara yang di mana barang itu kita impor. Kita ini masih defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, masih impor. Impor itu enak karena harganya lebih murah," kata Jokowi.

Baca juga: Kenapa Indonesia Hentikan Ekspor Nikel di Tengah Demam Global?

Lalu berapa banyak pacul impor yang masuk ke Indonesia?

Impor dari Cina

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diterima detikcom, Jumat (8/11), impor pacul sepanjang Januari-September 2019 senilai US$ 101,69 ribu dengan total berat 268,2 ton.

Di mana rincian setiap bulannya tercatat, Januari senilai US$ 8.376 dengan berat 51,6 ton, Februari senilai US$ 375 dengan berat 164 kg. Kemudian pada Maret tercatat nihil atau tidak ada impor sama sekali, sedangkan April melonjak menjadi 80,9 ton atau senilai US$ 48.128.

Selanjutnya pada Mei impor pacul tercatat senilai US$ 1.832 atau seberat 10,9 ton dan Juni tercatat senilai US$ 435 dengan berat 153 kg. Sedangkan pada Juli tercatat sebanyak 66,7 ton atau senilai US$ 33.944, selanjutnya pada Agustus masuk lagi sebesar 7 kg atau US$ 65, dan pada September masuk lagi sebanyak 57,6 ton atau senilai US$ 8.539.

Berdasarkan asal negara, impor pacul tercatat hanya dari Cina dan Jepang. Pacul yang diimpor paling banyak dari Cina.

Respon Airlangga Hartarto

Para menteri kabinet kerja pun merespon hal ini, dengan mengatakan bahwa produksi sebenarnya sudah siap namun pihak pembelinya saja yang belum sadar. Kampanye pacul dalam negeri disebut akan dilakukan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa industri dalam negeri bisa memproduksi pacul sesuai kebutuhan yang ada. Salah satu yang mampu memproduksi pacul adalah BUMN, Barata.

"Cangkul itu urusan teknis. Kalau industri dalam negeri kan secara teknis bisa memproduksi, dan itu tentunya bagian yang diperlukan adalah seperti yang disampaikan Pak Presiden, Kementerian yang bisa menyerap cangkul, kalau urusan produksi Barata bisa produksi," jelas Airlangga di kantornya, Jakarta, Kamis (7/11).

Dia akan mencari cara bagaimana menyerap produksi pacul, yang belakangan ini membuat Presiden Jokowi malu. 

"Kalau sekarang kapasitas nasional terserap kira-kira 500 ribu, nanti kita tingkatkan bagaimana dengan Tim TKDN bagaimana user-nya ditambah," kata Airlangga.

Baca juga: Kartu Kuning Tim Ekonomi Jokowi: Dua Menteri di Persimpangan

Tingkatkan Produksi Pacul

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang mengungkapkan masih banyaknya pacul impor yang masuk ke Indonesia dikarenakan rendahnya kesadaran dari para pembeli alias off-taker nasional terhadap pacul asli buatan tanah air.

"Kesadaran dari off-taker, kesadaran dari mereka yang belanja cangkul, pacul. itu yang sekarang kita sosialisasikan, khususnya kalau belanja pacul yang anggarannya dari APBN itu akan kita wajibkan untuk belanja dari dalam negeri," kata Agus di Kantor Kemenko Perekonomian.

Agus sendiri menjabat sebagai Ketua Tim Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), untuk itu dia akan berkampanye kepada seluruh pembeli agar menyerap pacul dalam negeri. Salah satunya dengan meminta kepada para BUMN, kementerian/lembaga ikut mengkampanyekan pacul produksi dalam negeri.

"Sekarang kami dorong adalah mengkampanyekan produk-produk dalam negeri agar bisa diprioritaskan dalam belanja-belanja, baik belanja modal maupun belanja barang dari APBN atau lembaga atau perusahaan khususnya BUMN-BUMN itu kita akan secara masif melakukan kampanye," ucap Agus.

Pengusaha: "Malu-maluin"

Bukan cuma menteri, kalangan pengusaha pun merespon. Menurut pengusaha impor pacul sangatlah memalukan dan tidak masuk akal, mereka meminta pemerintah segera ikut andil dalam menghubungkan produsen dan pemakai pacul.

Ketua umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani, menyayangkan masih adanya impor pacul. Rosan menyebut hal ini sangat memalukan dan menyedihkan.

"Mestinya sih pacul enggak usah impor ya, terus terang saya setuju sama Bapak Presiden. Malu-maluin, apapun alasannya mestinya enggak masuk akal, pacul gitu kan, menyedihkan," ucap Rosan di sela Rakernas Ekonomi Kreatif Kadin, di Hotel Sultan, Jakarta.

Selanjutnya, dia juga meminta pemerintah untuk menghubungkan dan mengintegrasikan produsen dengan pemakai pacul.

"Industri bisa dibangun dan dikerjasamakan dengan UMKM, yang penting gimana satukan produsen dan pemakainya, ini lah pemerintah harus berperan hadir juga," papar Rosan.

Baca selengkapnya di: detiknews

Pantas Saja Jokowi Malu, RI Impor Pacul 268 Ton!

Jokowi Malu RI Impor Pacul, Ini Kata Dua Menterinya

(pkp/na)

Laporan Pilihan

WWW Link