Panik Corona Mulai Lumpuhkan Ekonomi Dunia | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 09.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Panik Corona Mulai Lumpuhkan Ekonomi Dunia

Bursa saham di seluruh dunia melemah menyusul eskalasi wabah corona di Italia. Eropa mulai menyiapkan paket stimulus untuk pelaku usaha kecil dan menengah. AS ditengarai bakal menjadi titik panas corona selanjutnya

Pasar keuangan di seluruh dunia bersiap menghadapi krisis terbesar sejak 2008 menyusul eskalasi virus Covid-19. Kepanikan pasar mulai terasa ketika Italia menempatkan seperempat populasinya ke dalam karantina massal, dengan kota-kota besar di utara seperti Milan dan Venezia ditutup untuk umum.

Sebanyak 16 juta warga Italia tidak diizinkan meninggalkan kawasan tinggalnya.

Saat ini puluhan juta manusia di seluruh dunia ditempatkan dalam karantina untuk mencegah penyebaran virus. Namun peneliti di Universitas Harvard mewanti-wanti, 70% populasi Bumi akan tertular penyakit akibat virus Covid-19 hingga tahun depan. Vaksin untuk menghadang Covid-19 diyakini baru bisa dipasarkan paling cepat satu tahun dari sekarang.

Sebagian bursa saham di Asia mencatat kemunduran terbesar sejak krisis keuangan 2008 pada pembukaan perdagangan pada Senin, (9/3). Pasar saham di Tokyo anjlok sebanyak 5%, sementara SSX di Sidney mencatat kejatuhan sebesar 7,3%, yang memusnahkan miliaran dollar AS pada nilai perusahaan dan komoditas dalam satu pekan. 

Sejauh ini 110.000 orang di 99 negara tercatat mengidap Covid-19. Sementara sejumlah perusahaan di Eropa terpaksa membatasi penjualan menyusul macetnya produksi di Cina.

Sementara itu pemerintah Italia memberlakukan aturan ketat di bagian utara, dengan menghentikan arus perjalanan dari dan keluar kota. Pemerintah juga mengancam denda sebesar 206 Euro bagi yang melanggar. CNBC melaporkan, tindakan dramatis pemerintah di Roma memicu panik pasar yang mengakibatkan anjlok sebesar 11%.

Memasuki bulan ketiga, imbas wabah Corona pada perekonomian dunia mulai terasa. Pemerintah Jerman baru-baru ini menyusun paket stimulus ekonomi untuk mencegah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK. Nantinya pemerintah akan mengambilalih 60% gaji pegawai yang dirumahkan untuk sementara.

Program tersebut berlangsung hingga Oktober 2020 dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan.

Hal serupa sedang diusulkan di Inggris. Menurut laporan The Guardian Bekas Menteri Keuangan George Osborne mendesak pemerintah menerbitkan paket stimulus untuk membantu perusahaan atau pengusaha kecil. Salah satu kebijakan yang diusulkan adalah bantuan langsung tunai.

Saat ini kekhawatiran mulai mengarah kepada Amerika Serikat, menyusul derasnya koneksi dagang antara perusahaan lokal dengan sentra produksi atau pasar di luar negeri. Sejumlah pakar mewanti-wanti, AS bisa menjadi pusat episentrum wabah corona baru, layaknya di Italia atau Iran.

Sejauh ini AS mencatat 21 korban jiwa akibat Covid-19. Sementara kasus infeksi melampaui angka 500 yang muncul di 30 dari 50 negara bagian. Bekas calon presiden dan Senator Partai Republik, Ted Cruz, menempatkan diri dalam karantina selama 14 hari lantaran sempat berjabat tangan dengan seseorang yang kemudian positif mengidap Covid-19.

Lonjakan jumlah pengidap Covid-19 di AS terjadi menyusul kasus infeksi di sebuah kapal pesiar yang berada di pesisir California. Kapal Grand Princess yang menampung 3.500 penumpang dan awak kapal mencatat 21 kasus penularan.

Namun ketika Presiden AS Donald Trump meminta agar semua penumpang ditahan di dalam kapal, Menteri Sekretaris Kabinet Ben Carson mengaku pihaknya sudah memiliki rencana untuk melabuhkan kapal secara aman. Namun dia menolak membahas rencana tersebut secara detail.

Washington acap dikritik kurang serius menghadapi krisis corona.

"Kekhawatiran pasar tidak terbantu oleh bagaimana pemerintah AS bertindak lambat dalam menangani krisis," tulis peneliti pasar di Bank Australia and New Zealand Banking Group (ANZ). "Lambatnya langkah pencegahan, minimnya transparansi seputar kebijakan dan buruknya komunikasi perihal kesehatan publik," dianggap sebagai titik lemah terbesar.

Sementara laporan dari Konferensi PBB mengenai Perdagangan, Investasi dan Perkembangan mewanti-wanti sebaran virus Covid-19 juga bisa berimbas pada investasi asing langsung (FDI) berupa penurunan sebanyak 15 persen.

rzn/ap