Pameran ″Was Ist Deutsch″ Di Nürnberg | Sosial | DW | 21.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Pameran "Was Ist Deutsch" Di Nürnberg

Apa sebenarnya yang dianggap sebagai "bersifat" Jerman, atau merupakan "ciri khas" Jerman?

Lebkuchen, kue berbentuk hati salah satu yang khas dari Jerman

Lebkuchen, kue berbentuk hati salah satu yang khas dari Jerman

Sepertinya cuma di Jerman orang sedemikian banyak mempertanyakan identitasnya sendiri. Contoh paling aktual adalah perdebatan mengenai soal naturalisasi atau mengenai budaya yang dipakai sebagai acuan. Yah, apa sebenarnya yang menjadi ciri khas Jerman? Jajak pendapat menjelang penyelenggaraan Piala Dunia menunjukkan bahwa "tepat-waktu" dan "ketekunan" tidak lagi terpateri dalam benak warga asing sebagai hal-hal "khas Jerman" melainkan bir dan mobil berkecepatan tinggi.

Mengenal Jerman dan Manusianya

Kini Museum Nasional Jerman di kota Nürnberg mempertanyakan hal itu lewat sebuah pameran bertemakan "was ist deutsch?" – "apa ciri khas Jerman?", khususnya untuk kurun waktu 200 tahun terakhir. Sampai dengan tanggal 3 Oktober ditonjolkan karya dan nama-nama tokoh terkenal Jerman, seperti juga yang banyak dijumpai sehari-hari. Misalnya, anjing herder dari porselen atau tongkat "nordic walking" untuk berolahraga jalan di hutan-hutan Jerman. Pameran ini tidak hendak memaparkan secara kronologis sejarah Jerman, melainkan memberikan gambaran tentang Jerman dan manusianya. Antara anggapan klisé dan realita.

Jawabannya Beragam

Apa sebenarnya yang "bersifat" Jerman? Matthias Hamann, pimpinan pameran di Nürnberg, menggeluti tema ini sudah selama tiga tahun dalam mempersiapkan pameran tersebut. Dikatakannya: "Kami sampai pada kesimpulan, tidak ada jawaban yang mengikat. Karena 'khas Jerman' sangatlah beragam. Sebenarnya mempertanyakannya pun sudah 'khas Jerman'. Masalahnya orang Jerman bersikap menjauhi mentalitas dan identitasnya. Bukan hanya belakangan ini. Katakanlah sejak 200 tahun orang Jerman sudah selalu mempertanyakan, siapa mereka itu sebenarnya? Dan jawabannya sangat beragam. Di bidang kebudayaan jawabannya lain daripada di bidang politik. Inilah yang menarik."

Setiap Orang Berbeda

Persilangan antara sejarah dan soal aktivitas di waktu senggang, kiranya cocok dengan diskusi hangat dalam surat-surat kabar maupun berbagai talk-show mengenai patriotisme dan pemahaman kebangsaan yang sehat. Berdasarkan sejumlah dokumen, lukisan, karya pahatan, buku-buku, barang-barang sehari-hari dan peradaban tinggi, para pengunjung di Nürnberg dapat menemukan jawaban, apa artinya ciri atau kekhasan Jerman bagi dirinya sendiri. Selain itu terdapat pula tema-tema khusus yang membahas pemahaman akan "tanah air", "kerinduan" atau "kepercayaan" dan dalam hal ini dengan penuh kesadaran juga tidak segan-segan diperlihatkan hal-hal yang sama sekali bertolak belakang.

Mengenali Luarnya Dulu

Hamann memaparkan: "Di depan tiap ruangan kami memasang sesuatu yang pada pandangan pertama bisa membuat orang risih. Misalnya, saat memasuki bagian pameran berjudul "Geist" orang terlebih dulu harus melalui sejumlah kata Jerman yang digunakan di luar negeri. Ibaratnya orang terlebih dulu harus berkenalan dengan sisi luarnya untuk memasuki lubuk hati Jerman."

Sebagai keterangan: "Geist" artinya roh, akal, intelek, pikiran, atau juga semangat. Sedangkan kata-kata Jerman yang berkonotasi negatif dan digunakan di luar negeri misalnya "Gruebelsucht" yang artinya senang merenungkan hal-hal yang buruk. Kata ini yang digunakan orang Inggris. Atau kata "Zeitnot" yang maksudnya terdesak waktu, kata yang digunakan orang Rusia.

Karya Budaya Jerman

Dalam pameran "was ist deutsch?"ini orang tentu akan menemukan pujangga besar seperti Goethe dan Schiller. Ada pula kue kayu manis "Lebkuchen" berbentuk hati yang banyak dijumpai di pasar-pasar malam, atau juga poster dari jaman Nazi. Buku-buku karya pengarang besar Jerman lainnya seperti Eichendorffs atau partitur opera "Meistersinger" juara nyanyi - karya komponis Richard Wagner atau juga grafik berjudul "melancholia" karya pelukis Albrecht Dürer.

Selain sejumlah lukisan dari berbagai jaman, juga diperlihatkan karya-karya di bidang teater, film dan televisi sebagai "lembaga moral". Misalnya dengan skenario asli dari film "Blechtrommel" karya sutradara Volker Schlöndorff yang ditampilkan bersama dengan genderang kaleng dari Oskar Matzerath, yaitu tokoh dalam roman karya Günter Grass yang difilmkan itu.

Karakter

Agar pemilihan barang-barang yang dipamerkan itu tidak terkesan sembarangan, ditempatkan obyek-obyek yang menjadi pokok. Misalnya figur "Gartenzwerg" atau kurcaci kebun ibaratnya dijadikan pelopor untuk bagian yang menyangkut karakter.

Mengenai barang yang dipamerkan, lebih lanjut Hamann mengatakan: "Ada sebuah ruangan yang disebut karakter, dimana dipertanyakan dengan ironis, apa yang selama ini dipuji. Misalnya sehubungan dengan perkereta-apian Jerman Atau, Dalam kaitan ini diperlihatkan berbagai jenis tong sampah untuk menyortir sampah menurut jenisnya. Disini kami bertanya pada para pengunjung dan mengajak mereka untuk berpikir, apakah ini ada relevansinya dengan saya? Apakah yang dianggap kebajikan itu masih aktuil buat saya? Apakah tidak ada hal lain?"

Untuk Anda ketahui, di Jerman ada tong sampah abu-abu untuk sampah rumah tangga. Ada tong sampah bertutup biru untuk kertas, lalu yang tutupnya kuning adalah untuk sampah lain yang dapat didaur ulang, khususnya berbagai jenis kemasan seperti plastik, alumunium foil dan sebagainya. Lalu ada pula tong sampah berwarna coklat untuk sampah yang bisa dijadikan kompos. Selain itu di sejumlah tempat tertentu disediakan tong sampah berukuran lebih besar lagi untuk gelas atau botol, yang perlu disortir lagi, antara yang putih, coklat dan hijau.

Sisi Gelap Jerman Juga Ditampilkan

Babak kelam dari sejarah Jerman juga tidak diabaikan dalam pameran di Nürnberg ini. Patung sedada Adolf Hitler sengaja dipasang sebagai batu sandungan memasuki sebuah bagian tentang arsitektur. Foto-foto aktual dari kamp konsentrasi Auschwitz yang terpampang pada balok-balok besar, mengingatkan orang akan holocaust, yaitu pembunuhan massal terhadap warga Yahudi. Apakah itu khas Jerman?
Atau apakah tesis dari Martin Luther yang lebih bersifat Jerman?

Pameran "was ist deutsch?" ini melontarkan lebih banyak pertanyaan daripada memberikan jawaban. Bukan menelusuri secara kronologis hal-hal yang berkaitan dengan Jerman, melainkan suatu pencarian identitas nasional yang berhasil, antara kelucuan dan keseriusan.