Pameran ″The Guggenheim Collection″ Di Bonn | Sosial | DW | 26.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Pameran "The Guggenheim Collection" Di Bonn

Dalam pameran yang berlangsung sejak tanggal 21 Juli sampai 7 Januari mendatang, digelar sebanyak 200 karya seniman dunia.

default

Pameran besar ini digelar di Bangsal Seni Dan Pameran, Kunst- und Ausstellungshalle termasuk di Museum Kesenian –Kunstmuseum Bonn. Dengan pameran Guggenheim itu Bundeskunsthalle melanjutkan rangkaian pameran "Koleksi Besar" yang menampilkan koleksi dari museum-museum terkenal lainnya di dunia. Yang pernah menjadi tamu a.l. misalnya Museum of Modern Art tahun 1992, lalu Eremitage St. Petersburg tahun 1997 atau Museum Nasional Tokyo tahun 2003.

Lukisan sapi kuning karya Franz Marc, perempuan berambut keemasan karya Picasso, lalu nama-nama seperti Renoir, Cézanne, Manet, Rauschenberg atau Rothko dan Kandinsky. Sepertinya orang tak akan kunjung puas melihat karya-karya besar yang dipamerkan, dan kemungkinan jumlah pengunjung pameran ini juga akan memecahkan rekor. Tetapi pameran di Bonn ini diharapkan mencapai lebih dari sekedar pameran karya-karya akbar.

"Di Bonn saya bukan hanya ingin memperlihatkan koleksi karya-karya besar yang kami miliki, melainkan lebih mencerminkan suatu institusi hidup yang dikembangkan oleh Guggenheim."

Demikian dikatakan Thomas Krens, direktur Guggenheim Foundation, yang juga merupakan salah seorang kurator, yang berperan dalam mengembangkan konsep pameran. Lukisan yang dipamerkan sekaligus dimaksudkan sebagai dokumentasi sejarah koleksi Guggenheim. Ada ruangan yang hanya memamerkan karya-karya satu seniman, dan yang lainnya memperlihatkan berbagai koleksi perorangan yang dibeli oleh Guggenheim. Demikian menurut Kay Heymer yang bersama-sama dengan Susanne Kleine bertanggung jawab atas penyelenggaraan pameran di Bonn Kay Heymer mengatakan:

"Itu sengaja dilakukan untuk menonjolkan betapa selektifnya koleksi Guggenheim. Bukan seperti Museum of Modern Art yang koleksinya mirip ensiklopedi, dimana dari setiap seniman yang penting harus ada lukisan yang dimiliki."

Solomon Guggenheim mengkoleksi karya seni abstrak, sedangkan keponakannya Peggy mengoleksi karya-karya surrealis dan ekspresionis abstrak seperti karya Jackson Pollock atau Willem de Kooning. Koleksi Tannhauser membawa karya-karya impresionis, sedangkan koleksi Giuseppe Panza di Biumo melengkapinya dengan Pop Art, jadi seni setelah tahun 1960.

Karya-karya dari 50 tahun terakhir hampir semua berukuran besar, dan dalam ruang pameran yang cukup besar di Bonn, keindahannya dapat dinikmati sepenuhnya. Ruangan-ruangan yang terbuka dan sudut pandang menempatkan masing-masing obyek dalam kaitannya dengan obyek lainnya. Tetapi mungkin tidak setiap pengunjung dapat segera menyadarinya.

Kekayaan Solomon Guggenheim sebagian besar berasal dari pertambangan tembaga. Perkenalannya dengan pelukis Hilla Rebay, seorang perempuan keturunan bangsawan Jerman, dengan nama Hildegard Rebay von Ehrenwiesen, membawa perubahan dalam hidupnya. Semula Solomon Guggenheim hanya ingin dilukis oleh Hilla Rebay. Tetapi ia terpesona oleh kelincahan hidup Hilla Rebay yang kemudian berhasil membujuknya untuk menginvestasi uangnya dengan mengoleksi seni modern, khususnya seni abstrak. Lukisan yang bentuk dan warnanya mencolok. Boleh dikatakan koleksi dimulai dengan lukisan karya Wasily Kandinsky yang dikenal baik secara pribadi oleh Hilla Rebay.

Pameran pertama koleksi Guggenheim diselenggarakan di Museum for Non-Objective Painting di New York. Tahun 50-an Solomon Guggenheim menugaskan arsitek kenamaan Frank Lloyd Wright membangun Museum Guggenheim yang kenamaan di New York.

Pada saat bersamaan keponakan Solomon Guggenheim, Peggy juga memulai koleksi seni modern. Mula-mula karya seni surrealis, dan setelah PD II ia membeli istana tua di Canale Grande di Venesia untuk dirinya sendiri sekaligus untuk menempatkan karya-karya seni yang dibelinya. Baru beberapa waktu sebelum kematiannya tahun 1979 ia memutuskan untuk mewariskan koleksinya kepada museum milik pamannya yang meninggal dunia 30 tahun sebelumnya.

Yayasan yang didirikan Guggenheim, yaitu Guggenheim Foundation, dewasa ini merupakan semacam konglomerat seni, yang bertanggung jawab untuk lima museum unik di dunia. Diantaranya yang paling terkenal tentu saja Museum Guggenheim di New York, kemudian Museum di Bilbao dan Koleksi Peggy Guggenheim di Venesia. Yang masih dalam perencanaan adalah gedung baru di Abu Dhabi, di Rio de Janeiro atau Taichung di Taiwan.

Selebihnya Yayasan Guggenhein mengorganisasi pameran di berbagai bagian dunia. Mayoritas lukisan yang dipamerkan di Bonn berasal dari New York. Kay Heymer mengemukakan:

"Beberapa lukisan pending memang benar-benar dicopot dari Museum Guggenheim di New York. Jarang terjadi, bahwa ada museum yang mau mengijinkannya. Kami benar-benar memperoleh lukisan terbaik dari Guggenheim."

Thomas Krens dari Guggenheim Foundation hendak memasyarakatkan koleksi yang dimiliki, dan ini tidak selamanya mendapat persetujuan penuh. Selain itu uang juga memainkan peranan, karena sebagai yayasan swasta, Guggenheim Foundation harus bekerja secara ekonomis. Dari segi keamanan, tidak selamanya mudah mengirim karya-karya lukisan yang berharga itu untuk dipamerkan di luar negeri. Pengepakan dan pengeluarannya dari kemasan boleh dikatakan merupakan ritual tersendiri, termasuk pengamatan cermat sebelum pengemasan dan sesudah dikeluarkan, karena goresan sedikit saja dapat membuat asuransi harus mengeluarkan biaya besar sebagai ganti rugi.

Beberapa lukisan yang dipamerkan di Bonn tidak dapat diangkut, karena terlalu besar dan terlalu berat. Yang tersedia hanyalah sketsa dari seniman yang bersangkutan, dan baru direalisasikan di Bonn. Misalnya saja labyrinth karya Robert Morris, yaitu jalan labyrinth melingkar sepanjang 200 meter, dengan garis tengah 11 meter dan dinding kayu setinggi lima meter. Karya seni modern ini bukan hanya dapat dilihat melainkan juga dapat dihayati dalam sebuah ruangan seluas 1200 meter persegi. Untuk masuk ke tengah labyrinth itu diperlukan waktu tiga menit, demikian pula untuk keluar kembali.

Dengan demikian, dilihat dari berbagai sudut "The Guggenheim di Bonn" juga merupakan pameran superlatif. Selain memamerkan karya-karya paling termashur dan menceritakan kisah yang terkandung di balik koleksi itu, pameran itu juga merupakan bagian dari sejarah museum. Demikian disampaikan Kay Heymer, penanggung jawab pameran di Bonn:

"Inilah yang harus dimiliki oleh sebuah museum bagi karya seni saat ini. Yaitu ruangan yang luas. Orang tidak dapat lagi hanya punya sebuah rumah kecil, dimana lukisan dapat digantung di dinding belakang sofa. Inilah sebenarnya wujud koleksi Guggenheim. Tidak banyak koleksi museum serupa ini."

Agar semua biaya dapat kembali, pameran itu harus dapat menarik paling sedikit 600.000 pengunjung. Dan berdasarkan pengalaman dari berbagai pameran sebelumnya, hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Dan pada akhir pekan sesudah pembukaannya tanggal 21 Juli lalu, sudah terdapat sekitar 13.500 pengunjung.