Palestina Melancarkan Mogok Umum | Fokus | DW | 16.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Palestina Melancarkan Mogok Umum

Berikut sejumlah reaksi Palestina membalas serangan militer Israel terhadap penjara Palestina di Yericho.

Presiden Pálestina Mahmud Abbas

Presiden Pálestina Mahmud Abbas

Situasinya mengambang antara rasa takut dan demonstrasi adu kekuatan. Warga Palestina cemas masyarakat internasional akan menghentikan bantuan dananya, akbiat aksi penyulikan terakhir, yang dilakukan kelompok ekstremis Palestina. Walaupun demikian, sejumlah kelompk Palestina tetap menyerukan turun jalan untuk berdemonstrasi. Kelompok militan bahkan mengancam melancarkan gelombong kekerasan baru. Tentu aparat keamanan Israel menganggap ancaman tersebut tidak main-main dan keadaan siaga pun telah ditingkatkan. Namun, juru bicara penjara Israel Ofer Leffler merasa lega, Ahmad Sadat dan lima tahanan lainnya - mereka melarikan diri dari penjara di Yericho - berhasil ditangkap dan ditahan di penjara Israel. Dalam sebuah wawancara radio Israel Leffler mengatakan:

„ Para tahanan tersebut setiap harinya harus apel lima kali. Dengan demikian, mereka dapat merasakan bagaimana besarnya penjara ini. Mereka dibolehkan menikmati matahari hanya satu jam saja saat jam keluar. Selebihnya, mereka disel bersama 3 sampai 12 tahanan lainnya selama 23 jam seharinya. Tentu bukan hidup yang menyenangkan – ditambah peraturan ketat lainnya.“

Menurut pemerintah Israel, Saadat bertanggung-jawab atas aksi pembunuhan terhadap menteri pariwisata Israel di tahun 2001. Meskipun demikian, selama dipenjara, Saadat disediakan sejumlah ruangan dan komputer, agar dapat menghadiri sidang parlemen lewat internet. Ia merupakan pemegang mandat parlemen Palestina yang diperolehnya dalam pemilihan terakhir.

Penduduk Palestina berupaya sebaik mungkin, supaya situasinya kembali normal. Di wilayah perbatasan, para pengamat Uni Eropa, demikian juga dari Jerman, kembali memulai keaktifan mereka. Untuk menjamin keamanan, mereka memantau warga yang keluar-masuk melewati perbatasan di Rafah.

Palestina menyerukan Rabu kemarin gelombang demonstrasi baru. Namun, bentuk demonstrasi yang diselenggarakan di Gaza dan Tepi Barat Yordania, berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini, semua perguruan tinggi dan sekolahan ditutup, karena melancarkan mogok umum. Dengan aksi tersebut, Palestina membalas serangan aksi militer Israel di Yericho. Tetapi, Menteri Pertahanan Israel Mofaz tetap membenarkan serangan mereka:

„Untuk mempertahankan keamanan nasional, pemerintah Israel tidak bersedia berkompromi. Tidak ada kompromi sama sekali. Semua pembunuh akan diadili. Bila ada yang tidak berpegang pada perjanjian yang telah disepakati, maka ia harus menanggung risikonya. Sebaliknya Israel akan berupaya untuk memenuhi seluruh kesepakatan. Saya pikir, perdana menteri sementara Olmert telah mengambil keputusan tepat.“

Israel berulang kali telah menegaskan, akan membebaskan Saadat. Oleh karena itu, Israel bertindak. Amerika Serikat dan Inggris diminta untuk menarik pengamat mereka dari Yericho. Palestina sempat terkejut dan menganggapnya sebagai kesempatan untuk menyerang penjara di Yericho. Padahal, sebelumnya tidak pernah ada masalah di Yericho. Demikian keterangan dari Gaza Rabu kemarin.