Palestina-Israel Masih Terlalu Rumit | Fokus | DW | 12.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Palestina-Israel Masih Terlalu Rumit

Pertemuan Olmert-Abbas nyaris tanpa hasil. Al Qaida mengecam kesediaan Hamas membentuk pemerintah Palestina Bersatu . Sementara di Gaza meletus lagi bentrokan antar fraksi.

Abbas-Olmert

Abbas-Olmert

Kelompok radikal Palestina Hamas menolak tudingan Al Qaida, bahwa sikap mereka dalam memperjuangkan Palestina telah melembek. Dalam sebuah pesan audio, orang nomor dua Al Qaida, Ayman Al Zawahiri, menyatakan berduka cita atas sikap Hamas yang bersedia membentuk pemerintah persatuan bersama Fatah.

Disebutkan AL Zawahiri, Hamas telah menghina perasaan dan pikiran umat Islam. Namun Hamas menyatakan, Al Qaida tak memahami masalahnya. Disebutkan, untuk memperjuangkan Palestina, selain jalan senjata, harus juga ditempuh jalan politik.

Pernyataan Al Zawahiri muncul di tengah berlangsungnya pertemuan puncak antara Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dan Presiden Palestina Mahmud Abbas. Pertemuan kedua dalam tempo kurang dari sebulan ini sejak awal tidak dibebani harapan yang muluk-muluk.

Niat Pertemuan Puncak hari Minggu (11/03) kemarin memang semata untuk menjaga agar Peta perdamaian yang disponsori Kuartet Timur Tengah PBB, Uni Eropa, Amerika dan Rusia, tetap berada di jalurnya. Tidak lebih.

Digambarkan Wakil Perdana Menteri Israel Simon Peres:

"Pada dasarnya, Peta Jalan Damai beserta persayaratan-persyaratannya tetap berlaku. Dan tidak ada yang berubah tentang itu."

Tiga persyaratan Peta Jalan Damai Palestina adalah pengakuan terhadap Israel, penghentian kekerasan dan penghormatan atas semua perjanjian terdahulu. Kelompok Hamas sejauh ini hanya bersedia patuh pada butir penghormatan terhadap perjanjian yang sudah disepakati. Padahal Hamas akan menjadi tulang punggung Pemerintah Bersatu yang tengah disiapkan Palestina.

Itu sebabnya agenda pembicaraan Ehud Olmert - Mahmud Abbas lebih dititik-beratkan pada urusan kemanusiaan. Urusan vital seperti garis perbatasan, pemukim Yahudi, pengungsi Palestina, status Jerusalem, hampir tidak disentuh.

Satu-satunya hasil nyata pertemuan ini adalah kesepakatan bahwa lintasan angkutan barang yang sangat vital antara Israel dan Gaza, yang disebut Gerbang Karni, akan dibuka lebih lama setiap harinya. Dengan begitu angkutan makanan dan barang-barang kebutuhan lain bisa lebih lancar keluar dan masuk Gaza. Sebelumnya, Israel terlalu sering menutup Gerbang Karni, dengan alasan keamanan.

Betapapun, pertemuan Olmert dan Abbas tetap dianggap penting. Terutama sebagai bagian dari persiapan menuju KTT Kuartet Timur Tengah April mendatang yang akan berlangsung di Mesir. Sebagaiamana dikatakan Pejabat urusan luar negeri Komisi Eropa, Benita Ferrero-Waldner, dalam sebuah konferensi di Berlin:

"... prosesnya harus berjalan terus. Dan saya pikir, status akhir ujung dari perundingan-perundingan ini harus sudah dibicarakan. Sehingga perundingan bisa dilakukan melintasi suatu horison politik. Dan dengan dengan pandangan politik jauh ke depan. Itu akan merupakan satu langkah ke depan yang sangat berarti."

Sementara itu di Gaza, terjadi lagi bentrokan antara kelompok bersenjata Hamas dan Fatah. Peristiwa ini merupakan yang pertama sejak Fatah dan Hamas menandatangani Kesepakatna Perdamaian di mekah, 8 Februari lalu.

Seorang anggota kelompok bersenjata Hamas tewas. Baik Hamas maupun Fatah saling menuduh satu sama lain sebagai pihak yang memulai serangan. Bentrokan bersenjata antara Fatah dan Hamas kembali meletus di Beit Hanoun. Ketegangan pun menjalar ke seluruh Gaza.