Palang Merah dan Bulan Sabit bantu korban tsunami di kepulauan Solomon | Fokus | DW | 02.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Palang Merah dan Bulan Sabit bantu korban tsunami di kepulauan Solomon

Ribuan warga yang selamat mengungsi ke atas bukit, sementara gempa susulan terus bergetar beberapa jam setelah gempa pertama terasa di kepulauan Solomon.

Tsunami hantam kepulauan Solomon

Tsunami hantam kepulauan Solomon

Di propinsi Barat kepulauan Solomon, jenazah para korban belum diangkat dari air yang menggenangi berbagai desa. Ombak tsunami setinggi 5 meter telah menghantam Gizo, ibukota propinsi Barat kepulauan Solomon yang berpenduduk 7000 orang itu. Di televisi, Alex Lokopio, Gubernur Gizo menceritakan,

„Getaran gempa terasa di seluruh pulau pagi hari ketika kami berangkat kerja. Kemudian gelombang tsunami menerjang, menghancurkan semua rumah di pesisir Gizo.“

Sementara saksi mata lainnya mengatakan, air laut yang masuk sampai dua ratus meter ke pedalaman pulau menggenangi rumah, pertokoan, rumah sakit, kantor polisi dan sekolah-sekolah. Sejumlah kapal dan perahu terseret dan terdampar di dalam kota Gizo.

Kepulauan Solomon yang termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Transportasi dan hubungan komunikasi tidak bagus, sehingga informasi dari berbagai pulau masih belum lengkap. Nexon Silus, seorang nahkoda kapal ferry di negara yang terdiri dari sekitar 1000 pulau itu mengatakan bahwa sejumlah pulau lain terendam banjir. Kebanyakan warga Solomon yang kurang dari setengah juta orang itu tidak tahu mau pergi kemana. Diperkirakan kebanyakan rumah-kayu milik masyarakat nelayan itu habis diterjang tsunami.

Di Honiara ibukota kepulauan Solomon, Perdana Menteri Manasseh Sogavara mengatakan, pemerintahnya akan melakukan segalanya untuk membantu warga yang menjadi korban. Menurut Perdana Menteri Sogavara,

“Semua telah diatur agar tenda-tenda, air minum dan makanan tersedia bagi para korban.“

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit telah menyediakan dana 53 ribu dolar untuk segera mengirimkan bantuan darurat. Sementara Australia menyiapkan 2 juta dolar untuk hal yang sama.

Sementara ini, Pusat Peringatan Dini Tsunami di Pasifik sudah mengangkat peringatan ancaman bagi negara-negara sekitar kepulauan Solomon, termasuk Indonesia, Papua New Guinesa, Jepang, Caledonia Baru, Selandia Baru, Australia dan kepulauan Mikronesia. Sedangkan Badan Geologi AS memperingatkan kemungkinan terjadinya gempa-gempa susulan yang besar dalam hari-hari mendatang.

Hari Senin, Badan Geologi AS ini serta Observatorium di Hong Kong menyatakan bahwa gempa pertama terjadi sekitar 350 km dari ibukota Honiara, sebelum pukul 8 pagi waktu setempat.