Pakistan Dilanda Kerusuhan | Fokus | DW | 14.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pakistan Dilanda Kerusuhan

Gara-gara presiden Pervez Musharraf memecat hakim agung yang dihormati rakyat, Pakistan dilanda gelombang protes yang berujung huru-hara.

default

Pakistan dilanda kekacauan besar. Kerusuhan di Karachi buntut dari bentrokan antara pendukung dan penentang pemerintah, sudah menewaskan lebih dari 40 orang. Aparat pemerintah Pervez Musharraf dituding cuma berpangku tangan dan mengambil langkah serius untuk memulihkan situasi.

Namun pakar studi wilayah Asia Selatan dari Universitas Humbolt Berlin, Bettina Robotka, yang saat ini mengajar di Karachi tidak terlalu terkejut atas terjadinya kekerasan itu. Disebutkan Bettina Robotka:

"Senjata memang mudah didapatkan di mana-mana. Semua partai politik memiliki senjata dan nyawa manusia sudah tidak begitu berharga lagi."

Presiden Pervez Musharraf sebenarnya memicu sendiri krisis terberat dalam pemerintahannya itu. Tanggal 9 Maret lalu, ia memecat Hakim Agung Iftikhar Muhammad Chaudhary dengan tuduhan penyalah-gunaan jabatan. Tetapi oposisi menganggap, pemecatan itu dilakukan karena sikap Chauwdry yang independen dalam memutuskan kasus-kasus yang terkait kepentingan pemerintah Musharraf. Dikatakan Bettina Robotka:

"Saya membaca alasan yang dituduhkan kepada Chaudry. Dan saya pikir, semua itu omong kosong. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Hakim Agung Chaudhary ingin melakukan reformasi. Misalnya, dia menghentikan privatisasi ‘Pakistan Steel Mills’. Nah, banyak orang yang merasa dijegal. Chaudhary juga mendesak dinas rahasia mengambil sikap mengenai nasib orang-orang hilang, yang beberapa di antaranya ternyata berada di tahanan dinas rahasia negara."

Sikap independen Hakim Agung Chaudhary dianggap tidak sejalan dengan pemikiran Musharraf, menurut banyak pengamat di Pakistan. Karena, Musharraf ingin kembali menjadi presiden untuk masa jabatan kedua, sebelum pemilihan parlemen musim gugur mendatang. Sesuatu yang tidak sesuai dengan undang-undang. Karenanya Musharraf memecat Iftikar Chauwdry.

Demonstrasi memprotes pemecatan Chaudry berlangsung di aman-mana. Dan sejak awal, pemerintah Pakistan menanganinya dengan keras. Wartawan ditekan, stasiun televisi diserang. Musharraf tidak memberikan ruang gerak bagi media. Talat Hussain, pemimpin redaksi stasiun televisi Aaj TV, yang kantornya ditembaki Sabtu lalu:

"Situasi saat ini sangat berbahaya karena pemerintah menutup mata. Mereka tidak berusaha menjejakkan kaki pada kenyataan:"

Situasi makin tidak menentu, setelah seorang pejabat Mahkamah Agung, Hamad Reza, dibunuh orang tak dikenal. Oposisi memastikan, ini meruipakan pembunuhan politik, karena Hamad Reza merupakan saksi kunci untuk gugatan Iftikar M Chaudry terhadap pemerintah atas peristiwa pemecatannya.

Selama ini presiden Pervez Musharraf selalu mampu mengatasi tekanan oposisi dan kalangan Islam garis keras yang berusaha menjatuhkannya, karena keputusan Musharraf memihak Amerika dalam perang Melawan Teror. Namun kini, nasib kekuasaan Pervez Musharraf sepertinya berada di ujung tanduk. Gara-gara secara semena-mena memecat hakim agung yang dipercaya rakyat.