Pakistan Bangun Pagar Pembatas dengan Afganistan | dunia | DW | 06.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pakistan Bangun Pagar Pembatas dengan Afganistan

Presiden Musharaf jemu dituduh membiarkan Taliban masuk dari Pakistan ke Afganistan, dan sebaliknya.

Protes merebak di Chaman, satu-satunya penyeberangan di perbatasan antara Pakistan dan kawasan selatan Afganistan yang terus bergejolak.

Etnik Pashtun di wilayah Pakistan mengkritik rencana pemerintahnya untuk membangun pagar pembatas. Sebuah rencana yang akan membatasi tradisi pertukaran warga suku Pastun yang berdomisili di kedua daerah perbatasan yang saling berkerabat, jauh maupun dekat. Seorang warga Pashtun yang berdemo menegaskan, perbatasan itu tak pernah ditutup dan tak pernah boleh ditutup.

Namun sejak akhir pekan lalu, Presiden Pakistan Perves Musaraf memberi ijin untuk mendirikan pagar pembatas sepanjang 35 km di kawasan perbatasan kedua negara. 250 kilometer sisanya akan menyusul dipagari. Dengan tindakan itu, Musharaf ingin mempertegas komitmennya dalam perang melawan teror.

Ia mengatakan, "Saya tahu ada masalah di sana. Saya tahu ada sementara orang yang menutup mata terhadap apa yang terjadi di perbatasan. Saya tahu itu, tapi bukan berarti bahwa strategi kita secara umum keliru.

Nagara tidak memberi dukungan kepada Taliban, begitu ditekankan Musharaf dalam sebuah reaksi berapi-api menanggapi tuduhan yang berulang-ulang ditimpakan pada Pakistan.

Semakin buruk situasi keamanan di Afganistan tahun lalu, maka semakin keras tuduhan dari kabul dan Washington bahwa para anggota Taliban dididik di Pakistan, dipersenjatai kemudian menyeberangi perbatasan dengan gampang. Musharaf mengakui adanya Taliban yang melintas dari Pakistan masuk ke Afganistan.

Tetapi ia mengatakan, "Ini adalah tanggungjawab bersama antara Pakistan, Afganistan, pasukan AS dan pasukan pelindung internasional ISAF dari NATO. Kami menolak untuk mengambilalih seluruh tanggungjawab untuk menghentikan semua aksi di perbatasan."

Sejumlah madrasah di Pakistan menjadi tempat lahirnya Taliban pada tahun 90-an. Setelah terjadinya serangan 11 September 2001, bertambah besar tekanan terhadap Pakistan untuk menindak para ekstrimis.

Namun sampai saat ini, sejumlah madrasah di Pakistan secara terbuka menunjukkan simpati kepada Taliban.

Abdul Rashid Ghazi dari salah satu madrasah terbesar di Pakistan yang berlokasi di Islamabad mengatakan, "Taliban melakukan tindakan mempertahankan diri, karena tentara AS datang ke Afganistan tanpa alasan, seperti yang mereka lakukan di Irak. Di kedua negara itu merkea melakukan pertahanan diri, jihad. Perbuatan yang benar melawan tiran dan agresor."

Ideologi serupa berkembang di pemukiman suku-suku di perbatasan. Taliban menemukan banyak dukungan di sana. Namun kalangan pemimpin di Islamabad tidak bisa menyatakan perang terhadap rakyatnya sendiri.

Di sisi lain, sejalan dengan pernyataan ikut dalam perang melawan teror, Pakistan kehilangan ratusan tentaranya. Negeri itu sendiri menjadi sasaran teror.

Perves Musharaf mengeluhkan, betapa Pakistan dianggap bersalah, sekalipun menjadi korban dan menjadi kontributor utama dalam perang melawan teror.

Kritik membanjir dari dalam maupun luar negeri. Najam Sethi, editor “Friday Times”, koran mingguan terkenal di Pakistan memperingatkan, "Semakin Musharaf bertindak sebagai boneka Amerika, akan semakin tidak stabil seluruhan sistem di Pakistan karena sentimen Anti Amerika yang ada dalam masyarakat."

Iklan