1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Hikmahanto Juwana
Guru Besar Hukum Internasional UI Prof Hikmahanto JuwanaFoto: Ari Saputra/detikcom

Pakar: Jangan Ekspektasi Berlebih Kunjungan Jokowi-Zelenskyy

Detik News
23 Juni 2022

Pakar Hukum Hikmahanto Juwana mengingatkan jangan 'over expectation' soal pertemuan Jokowi dengan Zelenksyy dan Putin. Hikmahanto sebut yang perlu diperjuangkan Indonesia yakni gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.

https://www.dw.com/id/pakar-minta-ri-tak-ekspektasi-berlebih-kunjungan-jokowi-zelenskyy/a-62226950

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menemui Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Kiev dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Guru Besar Hukum Internasional UI Prof Hikmahanto Juwana mengingatkan bahwa yang perlu diperjuangkan Indonesia yakni gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.

Hikmahanto awalnya meminta agar semua pihak tidak terlalu berekspektasi secara berlebihan terkait kunjungan Jokowi bertemu Zelensky dan Putin. Menurutnya, konflik yang terjadi di sana bukan hanya antara Rusia dan Ukraina.

"Yang pasti jangan over expectation soal hasil karena konflik ini tidak sekedar antara Rusia dengan Ukraina, tapi Rusia dengan AS (Amerika Serikat) dan negara-negara sekutunya di mana Ukraina hanya menjadi medan perang," kata Hikmahanto saat dihubungi, Rabu (22/6/2022).

Hikmahanto lantas menyarankan agar pemerintah betul-betul mempersiapkan diri terkait apa yang sebenarnya terjadi antara Rusia dan Ukraina sehingga bisa menghadirkan perdamaian di sana. Dia mengingatkan bahwa konflik di Ukraina merupakan konflik multidimensi.

"Tentu bapak presiden harus dilengkapi dengan amunisi untuk bisa menghadirkan perdamaian yaitu dengan para Kepala Perwakilan Indonesia melakukan kontak dengan pihak-pihak yang berwenang dan mengetahui apa yang diinginkan. Nanti diformulasikan oleh Kemlu di Jakarta dan dibawa oleh presiden untuk ditawarkan baik ke Ukraina dan Rusia," ucapnya.

"Yang penting adalah adanya gencatan senjata bukan menyelesaikan konflik di antara dua negara tersebut. Kalau konflik bisa diselesaikan di meja perundingan. Jangan terlalu ikut campur karena ini sudah multidimensi dan banyak aktor/negara," lanjut dia. 

Meski demikian, Hikmahanto tetap mengapresiasi langkah Jokowi yang berencana bertemu kedua pimpinan negara tersebut. Menurutnya rencana ini sesuai dengan amanat UUD 1945 terkait menjaga perdamaian dunia.

"Hal ini karena perang di Ukraina telah menyengsarakan banyak pihak, termasuk negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik, dan telah berdampak pada perekonomian dunia. Rencana Presiden merupakan inisiatif Indonesia untuk selalu ikut dalam ketertiban dunia sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Dasar 1945. Keberpihakan Indonesia adalah pada perdamaian dunia dan mengakhiri tragedi kemanusiaan," tuturnya.

Lebih lanjut, Hikmahanto juga menilai rencana kunjungan Jokowi ini tidak terlambat. Dia menyebut kunjungan ini juga bisa mendalami terkait hal-hal apa yang sebetulnya diinginkan kedua negara.

"Terakhir, rencana kunjungan dilakukan dalam upaya untuk mencari tahu dan mendalami apa hal-hal yang dapat disepakati oleh Rusia dan Ukraina agar tercipta gencatan senjata. Rencana kunjungan ini sama sekali tidak terlambat mengingat perang di Ukraina masih berlangsung sampai hari ini dan beberapa waktu ke depan," imbuhnya. (pkp)

 

Baca selengkapnya di: detiknews

Pakar Minta RI Tak Over Expectation Pertemuan Jokowi dengan Putin-Zelensky