Pria AS Tewas Karena Terlalu Banyak Makan Permen Licorice, Pakar Ingatkan Batasi Konsumsi | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 26.09.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kesehatan

Pria AS Tewas Karena Terlalu Banyak Makan Permen Licorice, Pakar Ingatkan Batasi Konsumsi

Seorang pria di Massachussetts, AS, tewas setelah diketahui terlalu banyak memakan permen ekstrak licorice. Pakar ingatkan publik agar tidak berlebihan mengonsumsinya.

Jenis permen dengan licorice

Jenis permen kunyah yang mengandung licorice

Hobi seorang pekerja konstruksi di Massachusetts, Amerika Serikat, memakan permen sari akar tanaman licorice akhirnya membuatnya kehilangan nyawa. Pria itu memakan satu setengah bungkus permen licorice setiap hari selama beberapa minggu. Para dokter melaporkan pada Rabu (23/09) bahwa kebiasaan ini telah mengacaukan kandungan nutrisi di dalam tubuhnya, menyebabkan jantung pria berusia 54 tahun itu berhenti.

“Bahkan apabila Anda memakan licorice dalam jumlah kecil, tekanan darah Anda dapat sedikit naik,” ujar Dr. Neel Butala, seorang ahli jantung di Rumah Sakit Umum Massachusetts yang menjelaskan kasus tersebut di New England Journal of Medicine kepada kantor berita AP.

Masalahnya diduga berasal dari asam glycyrrhizic yang lazim ditemukan di permen licorice hitam dan di berbagai makanan serta suplemen makanan lain yang mengandung ekstrak akar licorice. Zat ini dapat menyebabkan anjloknya kadar kalium dan terjadinya ketidakseimbangan mineral lain di dalam tubuh manusia.

Apa itu licorice?

Licorice atau akar manis berasal dari tanaman Glycyrrhiza glabra yang berbentuk semak dan sebagian besar ditanam untuk tujuan komersial di Yunani, Turki, dan Asia. Karena rasanya, ekstrak tanaman ini sering dipakai sebagai pemanis makanan atau minuman. 

Sudah sejak ribuan tahun lalu manusia mengonsumsi licorice yang dikatakan memiliki khasiat sebagai obat herbal. Licorice sendiri memiliki lebih dari 300 kandungan senyawa dan beberapa di antaranya memiliki sifat antivirus dan antimikroba.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun dan akar licorice bisa membantu meringankan infeksi pada kulit. Sejumlah orang juga percaya bahwa licorice dapat membantu meringankan sakit tenggorokan.

National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat mengatakan akar tanaman ini sudah sejak dulu kala digunakan sebagai obat tradisional dalam pengobatan di dunia Timur maupun Barat. Namun, NIH mengatakan tidak ada cukup data yang tersedia untuk menentukan apakah licorice efektif dalam mengobati kondisi medis apa pun.

Batasi takaran konsumsi

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) memperingatkan bahwa memakan sedikitnya 2 ons licorice hitam setiap hari selama dua minggu berturut-tutur dapat menyebabkan masalah irama jantung, utamanya bagi mereka yang berusia lebih dari 40 tahun.

“Tidak hanya terbatas pada (memakan) permen batangan licorice. Bisa juga berupa (konsumsi) permen jeli berbentuk kacang, teh licorice, dan banyak lagi. Bahkan beberapa bir, seperti bir Belgia, memiliki senyawa ini di dalamnya,” demikian juga beberapa jenis tembakau kunyah, ujar Dr. Robert Eckel, ahli jantung Universitas Colorado dan mantan presiden American Heart Association. Dr. Eckel tidak memiliki peran dalam merawat pria Massachusetts tersebut.

Kasus ekstrem

Kematian ini jelas-jelas adalah kasus ekstrem. Laki-laki itu memang diketahui senang mengunyah permen. Namun sebelumnya, ia lebih suka mengunyah permen merah beraroma buah. Baru beberapa minggu sebelum meninggal ia beralih ke permen licorice hitam. Dia pingsan saat makan siang di sebuah restoran cepat saji. 

Dokter yang memeriksanya menemukan kadar potasium di tubuh pria itu sangat rendah dan menyebabkan gangguan irama jantung dan masalah lainnya. Setelah dilakukan pernapasan buatan, pria itu sadar, namun meninggal keesokan harinya.

FDA memang mengizinkan adanya kandungan asam glycyrrhizic dalam makanan hingga 3,1 persen. Tetapi banyak permen dan produk licorice lainnya tidak mengungkapkan berapa banyak yang terkandung di dalamnya, kata Dr. Neel Butala, ahli jantung di Rumah Sakit Umum Massachusetts. Dokter telah melaporkan kasus ini ke FDA dengan harapan agar risiko ini bisa ditinjau ulang. 

Jeff Beckman, juru bicara Hershey Company, produsen twizzlers yang merupakan merk produk licorice populer di negeri Paman Sam, mengatakan lewat email kepada AP bahwa "semua produk kami aman untuk dimakan dan diformulasikan dengan mematuhi peraturan FDA,” ujarnya. Namun Beckman mengatakan bahwa semua makanan, termasuk permen, "harus dinikmati secukupnya."

Telah ada peringatan

Sebelumnya, kasus-kasus yang melibatkan penyalahgunaan licorice telah menarik perhatian sejumlah ilmuwan. Salah satunya pernah diterbitkan dalam artikel ilmiah berjudul “Penyalahgunaan licorice: waktunya untuk mengirimkan pesan peringatan” yang diterbitkan pada bulan Agustus 2012 oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI). 

Artikel tersebut menuliskan bahwa banyak produk yang mengandung licorice yang tersedia bebas dan bisa saja dikonsumsi oleh individu secara tidak sengaja dalam dosis besar yang kemudian berisiko memicu komplikasi. Makanan ringan yang mengandung licorice antara lain termasuk permen batang licorice, batang toffee, blackcurrant, dan permen karet merk tertentu.

Selain itu, tembakau kunyah dengan rasa licorice manis, yang secara tradisional dikonsumsi oleh pekerja tambang dan pelaut untuk dikunyah selama bekerja di lingkungan yang dilarang merokok juga adalah sumber licorice.

Artikel ini pun menganjurkan pentingnya kampanye membangun kesadaran publik tentang senyawa yang mengandung licorice dan potensi komplikasinya untuk menghindari terlalu banyaknya mengkonsumsi produk itu tanpa disengaja.

“Konsumsi licorice yang berlebihan juga harus dicurigai secara klinis pada pasien yang mengalami hipokalemia (kondisi tubuh kekurangan kalium atau potasium) dan kelemahan otot yang tidak dapat dijelaskan. Petunjuk diberikan ketika riwayat diet pasien menunjukkan asupan licorice yang berlebihan,” tulis artikel tersebut.

ae/vlz (AP, fda.gov, medicalnewstoday.com, ncbi.nlm.nih.gov)

Laporan Pilihan