1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Orang Jerman, Kaus Kaki dan Sandal Gunung Andalan Mereka

31 Juli 2020

Ada satu gambaran klise tentang orang Jerman, mereka gemar sekali memakai sandal gunung, tetapi dipadu kaus kaki tenis. Mengapa?

https://p.dw.com/p/3gBxz
Ilustrasi gambaran klise tentang Jerman
Ilustrasi gambaran klise tentang JermanFoto: picture alliance/dpa Themendienst

Kombinasi sandal gunung dan kaus kaki tenis mungkin membuat sebagian orang bingung. Kalau memang cukup panas untuk bisa pakai sandal, kenapa pula harus pakai kaus kaki? Lantas, bagaimana kalau hujan? Banyak orang melihat gaya beralas kali seperti ini sungguh membingungkan, dan tidak sedap dipandang.

Kombinasi ini jadi semakin terkenal di dunia gara-gara turis Jerman. Mereka enak saja berjalan-jalan dengan kombinasi kaus kaki tenis dan sandal gunung dari kulit. Kombinasi tersebut lebih banyak dipakai para orang tua yang tidak peduli dengan mode dan tren. Namun yang menarik, kombinasi ini lantas jadi stereotip nasional Jerman.

Dari mana asalnya?

Hasil pencarian di internet tidak banyak mengungkapkan tentang asal usul klise ini. Ada laman Wikipedia tentang "Socks and Sandals" dalam bahasa Inggris dan beberapa bahasa lainnya, tapi laman ini tidak ada dalam bahasa Jerman. Disebutkan bahwa bukti pertama terkait pemakaian kaus kaki dan sandal ditemukan selama penggalian ditemukan di situs arkeologi kuno di North Yorkshire, Inggris. Analisis sisa-sisa sandal menunjukkan bahwa orang-orang Romawi telah menyatukan pemakaian keduanya bahkan sejak 2000 tahun lalu.

Kaus kaki antik dari zaman Romawi-Mesir bentuknya terbelah di ujung jari kaki dan dirancang untuk dipakai dengan sandal. Kaus kaki semacam ini digali dari situs pemakaman di Mesir pada akhir abad ke-19. Benda-benda ini kemungkinan berasal dari abad ke-4 dan ke-5 dan telah menjadi koleksi Museum V&A di London sejak tahun 1900. 

Kaus kaki antik yang dipamerkan di Museum V&A London
Kaus kaki antik yang dipamerkan di Museum V&A London.Foto: V&A Museum London/Robert Taylor/Major Myers collection

Orang Jepang juga mengembangkan gaya mereka sendiri dari kombinasi ini, seperti yang dilaporkan sejarawan mode Birgit Haase, yang merupakan profesor di Universitas Hamburg. Kaus kaki Tabi tradisional abad ke-15 juga secara khusus dikembangkan untuk dipakai dengan pemisah jempol kaki. Kaus kaki ini dikenakan oleh perempuan dan laki-laki dalam konteks yang berbeda dan masih menjadi bagian dari pakaian formal, seperti pada upacara minum teh, hingga kini.

Utamakan rasa nyaman

Gambaran klise asal Jerman tentang sandal-kaus kaki menyebar ke seluruh dunia berkat turis-turis asal negara ini, kata Lena Sämann, kepala departemen mode Vogue Germany Online. "Selama bertahun-tahun, turis Jerman di luar negeri terkenal sebagai pendosa gaya," ujarnya kepada DW.

Orang Jerman terkenal sebagai orang yang paling sering bepergian ke seluruh dunia. Selama di luar negeri itulah mereka juga ingin tetap merasa seperti berada di rumah, jadi Sämann percaya bahwa orang Jerman pun memilih bergaya seperti itu untuk kenyamanan.

Editor mode ini juga mengatakan bahwa "orang Jerman senang membuat persiapan dan bersiaga untuk setiap situasi. Titik lemah mereka selalu pada pakaian fungsional, bisa juga dibuat tampil matching dengan pasangan – dan jika Anda mengenakan kaus kaki bersama dengan sandal gunung, kaki Anda mungkin tidak akan cepat lecet." Sedangkan sejarawan mode Birgit Haase memberi alasan praktis lain dari kombinasi ini: kaus kaki dapat menyerap keringat yang membasahi sandal.

Dipakai hippie hingga artis terkenal

Satu hal yang pasti, orang Jerman bangga dengan sandal gunung ortopedi mereka, salah satu merk yang terkenal di dunia yaitu Birkenstock. Sejarah alas kaki ini dapat dilihat kembali ke tahun 1774 ketika seorang pembuat sepatu asal Jerman bernama Johann Adam Birkenstock memulai bisnis keluarga. Namun baru pada tahun 1945 sepatu dengan insol gabus dikembangkan. Model pertama sandal Birkenstock yang mirip dengan yang banyak dipakai saat ini baru dibuat tahun 1964.

Sandal gunung ini memperoleh statusnya yang ikonik berkat desainer Jerman-Amerika, Margot Fraser. Dalam perjalanan ke Jerman pada tahun 1966, Fraser menyadari betapa nyamannya sandal itu. Ia lalu menjualnya di California, Amerika Serikat, yang langsung populer di kalangan hippie.

Sementara itu, raksasa sepatu Jerman Adidas juga kebagian jadi kultus sandal. Sandal Adilette dari Adidas dirancang pada tahun 1963 atas permintaan atlet renang yang ingin memiliki sepatu yang bisa mereka pakai di ruang ganti dan kamar mandi. Dengan sol karet ortopedi dan garis khasnya, model legendaris kini telah berpindah tempat dari kolam renang ke jalan-jalan, lagi-lagi, seringnya dipakai bersama dengan kaus kaki.

"Di sudut jalan-jalan di Berlin dapat ditemui remaja laki-laki yang terlihat seperti reinkarnasi turis Jerman dari masa lampau - celana pendek, topi memancing, kaus kaki tenis, dan sandal gunung," kata editor Vogue, Lena Sämann. Tren ini juga dipakai mulai dari penyanyi Justin Bieber ke rapper Tyler the Creator, dari si kembar Mary-Kate dan Ashley Olsen hingga M.I.A. (Ed.: ae/yp)