Orang Asing yang Menjadi Kawan di Jerman | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 03.04.2021

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

BLOG

Orang Asing yang Menjadi Kawan di Jerman

"Boleh minta nomormu?" Itu adalah kalimat yang akan selalu teringat setelah kurang lebih dua bulan tinggal di negeri roti dan selada. Oleh Regina Sotya.

Penerbangan ke Jerman untuk magang menjadi suatu perjalanan baru bagi saya untuk melihat seberapa keras “ombak di lautan Eropa”. Sebuah analogi bagi keingintahuan saya tentang bagaimana rasanya bekerja di Jerman yang selalu dipandang sebagai negara hebat.

Setelah sampai di Jerman dan menjalani satu setengah bulan petualangan adaptasi, satu persatu daftar mimpi saya mulai saya coret, dan salah satunya adalah merasakan Natal di luar negeri. Inilah rupanya jawaban dari mimpi saya selama ini, di tahun 2019, bermula di sebuah desa di daerah Seevetal, lebih detailnya lagi di sebuah gereja kecil bernama St. Ansgar Hittfeld, dimana petualangan menikmati Jerman dimulai.

Pagi itu, 25 Desember 2019, saya merasa ceria sekali karena akan merayakan ibadah Natal di gereja yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saya senang karena selain bisa menabung uang perjalanan dengan kereta Metronom, saya juga bisa rileks merasakan jalanan desa yang sejuk. Biasanya saya pergi untuk merayakan ibadah setiap minggu di Harburg. Tapi kali ini, keajaiban mendorong saya untuk merayakan Natal di St. Ansgar.

Gambar menunjukkan foto penulis

Regina Sotya

Ketika pertama tiba dan merasakan teduhnya berada didalam gereja, satu hal yang saya pikirkan adalah mama, papa dan adik saya harusnya ada disini. Ikut mendengarkan lonceng yang berdenting menggema di ruangan, disahuti suara seorang penyanyi dari atas balkon. Bahagia sekali, menyejukkan sekali. Yang saya tahu saya hanya bersyukur bisa berada di sana. Ibadah berjalan sangat khusuk, saya kagum sekali dengan gadis penyanyi di balkon atas. Bahkan dia mendapatkan tepuk tangan dari seluruh jemaat, juga saya. Saya berandai, “Kalau saja saya bisa bertemu dan berkenalan, akan menjadi hal yang menyenangkan bergabung dalam pelayanan. Ahh, sudahlah, lupakan saja”.

Hari itu, setelah selesai menjalani misa perayaan Natal, ada yang mendorong hati saya untuk tidak segera pulang. Setelah menunggu semua jemaat selesai, saya maju berdoa di depan altar. Saya tidak meminta apapun yang spesifik, hanya kekuatan untuk menahan rindu akan rumah, bersyukur karena semalam saat momen tukar kado saya mendapatkan hadiah buku resep masakan Jerman, dan bersyukur karena Natal hari ini menjadi salah satu impian saya yang terwujud.

Saya ingat beberapa orang masih berbincang dengan kencang di sisi lain ruangan, dan saya pikir mungkin itu gadis penyanyi diatas balkon, tentu saja, siapa yang tidak ingin berterimakasih untuk pelayanan tulus yang ia lakukan hari itu. Tapi saya melanjutkan doa saya. Selepas berdoa, saya siap untuk pulang. Pulang dan beristirahat karena tidak ada agenda apapun. 

Tapi, saya menyadari ketika saya keluar seorang gadis melihat kearah saya, dan saya mengangguk ramah. Ia membalas dan berlalu, namun saya juga sadar ia seakan ingin berkata sesuatu. Dia berjalan didepan saya dan seakan tersadar lupa untuk mengatakan sesuatu lalu menoleh, “Selamat Natal!” sapanya. “Ya, selamat Natal!” balas saya.

Percayalah, itu pertama kalinya saya merasakan sebuah respon di mana ada seorang muda yang menghargai keberadaan saya di sebuah gereja. Setelah beberapa langkah berlalu, ia kembali menghampiri saya secara tiba-tiba. “Eehh, apakah kamu merayakan Natal sendiri atau bersama-sama?” mungkin kurang lebih seperti itu tanyanya.

Saya yang masih gagap Jerman menjawab sekenanya, “Tidak, saya sendiri dan baru disini, eehh..”
“Ah, kamu bisa berbahasa Inggris?”
“Ya!”
“Aha! Okay… Ehmm, aku akan ngobrol dengan kamu kalau kita bertemu lagi.”
“Oh okay” kata saya mengakhiri percakapan.

Dia nampak tergesa-gesa dan saya masih bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan ketika suatu hari bertemu lagi. Lalu saya melanjutkan langkah saya. Dia berjalan bersama seorang wanita tua yang mobilnya ia tumpangi. Ia berhenti sebelum masuk ke dalam mobil. Wanita itu melihat ke arah saya, namun gadis itu tidak. Setelah lima menit berlalu, sebuah mobil tiba-tiba berhenti disamping saya.

“Halo, maaf, boleh aku minta nomormu?” kata seseorang dari dalam mobil.
Apa?! – kata saya membatin. Ternyata itu gadis yang berada di gereja.
“Apakah kamu merayakan Natal sendirian?” tanyanya lagi.
“Ehm, iya”
“Apakah kamu punya agenda hari ini?”
“Eeh, aku rasa tidak”
“Okay. Jadi begiti, ada acara makan siang dengan beberapa pelajar di Hamburg dan kelompok biarawati. Jika kamu mau, kamu bisa ikut, tapi aku sedang terburu-buru, karena aku akan bernyanyi di misa lain, jadi bolehkah aku meminta nomormu? Aku akan menghubungimu. Oh iya, namaku Josma.” – Dan itulah yang ingin dia katakan sejak pertama kali menegur saya. 

Setelah itu terjadi sedikit drama kebingungan, karena dia meminta nomor Jerman saya dan saya memberi nomor Indonesia untuk dihubungi melalui Whatsapp. Lalu dia meminta saya menelepon dia, tapi dia sendiri lupa memberikan nomornya.
“Telepon aku sekarang, ya? Segera, ya.”
“O-okay okay, kamu bisa pergi sekarang dan aku akan segera menghubungimu,” kata saya kebingungan.

Kawan, bayangkan saja betapa bingungnya saya kala itu, saya kira dia akan memberi saya tumpangan karena jalan pulang yang searah dan memudahkan percakapan, nyatanya? Tidak. Saya tidak punya paket internet di handphone pertama dan harus melakukan beberapa drama tethering menggunakan handphone. Kedua, di bawah gerimis hujan karena saya tidak tahu bahwa nomor Jerman saya dapat melakukan telepon gratis ke sesama nomor Jerman (maklum baru tiga minggu menggunakannya). Akhirnya kami saling berkontakan juga.

Antara terkejut, senang, dan merasa mendadak sibuk. Di bawah langit sendu Seevetal–Hittfeld pagi itu, saya mendapat ajakan untuk makan siang bersama beberapa pelajar di Hamburg dan sebuah kelompok biarawati. Setelah mendapat informasi tersebut dan melalui kembali drama handphone yang mati, saya mempercepat langkah saya pulang ke mes. Apa yang membuat saya senang adalah dia mengatakan bahwa teman saya Raka yang beragama Muslim pun diundang ikut bergabung. Tentu saja saya tidak akan membiarkan teman saya menganggur di mes ketika saya makan gratis, betul kan?

“Cuy, ada orang, pelajar India kayaknya, tiba-tiba ngajak aku dong, makan siang sama pelajar lain dan kelompok biarawati. Terus aku tanya deh boleh nggak kamu ikut, katanya boleh, jadi ikutlah ya nemenin. Nggak papa kan?” Tanya saya dengan bahasa ala Malang campuran.

“Ya nggak papa, tapi aku baru makan sih.”
“Kemungkinan antara jam 11 atau 12 kita berangkat, siap-siap deh,” kata saya.
“Jam 12 aja dong, baru makan nih.”
Dan ya, akhirnya kami berangkat pukul 12.

"Keine Ahnung," [red - tidak tahu sama sekali]. Itu yang bisa saya katakan untuk menggambarkan situasi ketika itu. Saya tidak tahu akan dibawa kemana, perlu membeli tiket tipe apa, dengan siapa saja, juga apa dan seperti apa yang akan terjadi nanti. Yang saya tahu pasti, kita bertemu di Hamburg Hauptbanhof pukul 12.30, atau kita akan terlambat.

Ini adalah perjalanan dengan orang asing pertama dalam hidup saya. Tentu kalau bukan bermula di St. Ansgar Katolische Kirche, Hittfeld, Seevetal, Jerman, mungkin saya tidak akan merasakannya. “Kita naik U-Bahn?! Kita belum beli tiket sejak tadi!” kata saya panik sesampainya di lorong U-Bahn. Kartu pelajar? Hamburg Card? 9 Uhr-Tages-Karte? Apa itu? Saya selalu membeli Einzelkarte [red - tiket untuk sekali naik kendaraan umum].

Singkatnya, mereka terkejut mengetahui kami belum pernah berjalan-jalan keluar dari Hamburg, atau bahkan mengelilingi Hamburg. Ya, jujur saja, berada di bagian kota Harburg dan main ke pusat perbelanjaan Phoenix Center sudah cukup bikin kami merasa jalan-jalan, hahaha. Alhasil, saya dan Raka menaiki U-Bahn [red - kereta bawah tanah] tanpa membeli tiket. Hush, jangan dicontoh ya, kawan-kawan.

Kereta membawa kami ke Billstedt, di bagian timur Hamburg. Antony, teman Josma di universitas ikut bergabung dan mengarahkan perjalanan kami sampai akhirnya kami tiba di sebuah rumah khusus biarawati. Kami disambut dengan hangat, dan ternyata beberapa orang telah hadir lebih dahulu. Siang itu menjadi waktu yang menyenangkan. Ketika semua orang yang jauh dari keluarga berkumpul bersama, dan menyanyikan lagu Natal. Kami saling berkenalan. 

Ternyata, ini adalah makan siang, di mana seseorang mengajak orang lain yang tidak mereka kenal. Dua hal yang saya kagumi adalah, bagaimana sambutan mereka, ketika melihat kami tiba, dan ekspresi terkejut-bahagia mereka ketika saya bercerita bahwa Raka adalah kawan Muslim saya. Raka memang luar biasa, dia sama sekali tidak keberatan dan loyal, dan bersedia bertemu semua rekan yang beragama Katolik. Makan siang berjalan menyenangkan, dan tibalah “Kafe oder Tee?” [red - kopi atau teh] time!

Di sini kami berbincang lebih bebas dengan satu dan lainnya, dan tibalah kesempatan saya berbincang dengan Josma. Saya masih tidak bisa mengatakan apapun selain bersyukur dan terkejut mendengar jawaban dari pertanyaan saya,
“Jadi kenapa kamu ada di St. Ansgar?”
“Karena aku harus bertemu denganmu” – Itu kejutan pertama pertama.
“Jadi.. apa kamu penyanyi di misa pagi ini?!”
“Ehm.. Yaa”
“Dan siapa yang memainkan piano?”
“Aku juga.”
APA?! Kata saya lagi dalam hati, “Aku penggemarmu!” ucap saya sambil mengulurkan tangan.
Masih ingat keinginan saya untuk berkenalan dengan penyanyi di gereja pagi ini. Siapa menyangka dia sekarang tepat ada di depan saya. Tuhan... saya kehabisan kata-kata.

Setelah selesai berbincang-bincang, kami pun bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sampai sekarang, bagi saya itu adalah hari yang sangat-sangat-sangat menyenangkan, dan akan selalu saya ingat. Yakinlah, keajaiban datang ketika kita percaya. Dan saya percaya. Kini kami adalah orang asing yang menjadi kawan.

Rindu rumah memang berat, tapi kita bisa menemukan rumah baru di setiap pelukan pertemuan dan perpisahan. Saya senang bisa berbagi melalui blog DW ini. Dan saya hanya ingin berkata, jangan pernah ragu untuk mengatakan, “Boleh aku minta nomormu?” kepada orang asing yang sendirian. :D  Terimakasih Tuhan, untuk cerita penutup tahun 2019 di Jerman! (ml)

Regina tinggal di Jerman selama 10 bulan untuk mengikuti program magang. Di Jerman pula dia memutuskan untuk menghubungi penerbit Indonsia dan menerbitkan buku kumpulan puisi yang sudah ia tulis. Melalui perjalanannya, dia mulai banyak mengenal kebudayaan Eropa dan terlebih lagi pertanian yang menjadi bidang kesukaannya.

** DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.