Optimisme Menuju Kopenhagen | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 23.09.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Optimisme Menuju Kopenhagen

Jika bencana dahsyat iklim ingin dihindari, maka penambahan suhu global tak boleh melebihi 2° Celsius. Di Markas Besar PBB di New York, lebih dari 100 kepala negara dan pemerintah berupaya menyamakan langkah.

Presiden Barack Obama berpidato dalam konferensi iklim PBB di New York, Selasa (22/09).

Presiden Barack Obama berpidato dalam konferensi iklim PBB di New York, Selasa (22/09).

Sekjen PBB tampak puas. Diskusi tentang iklim, kata Ban Ki-moon Selasa malam di New York, kini berada di urutan teratas agenda bangsa-bangsa. Peluang untuk mencapai perjanjian yang adil, efektif dan berambisi di Kopenhagen kini meningkat.

"Hari ini kita mencapai apa yang kita inginkan. Kita memusatkan perhatian para pemimpin dunia tentang sangat mendesaknya waktu untuk segera bertindak", kata Ban.

Semua pihak sepakat, tanpa kontribusi para pemimpin di tingkat tertinggi, tidak mungkin tercapai terobosan di Kopenhagen. Karena itu Presiden Perancis Nikolas Sarkozy menuntut dilakukannya pertemuan puncak lanjutan, sebelum KTT Iklim di Kopenhagen bulan Desember.

Tuan rumah KTT, PM Denmark Lars Lokke Rasmussen, segera mengundang semua pemimpin negara dan pemerintahan ke Kopenhagen untuk mengakhiri KTT, yang awalnya direncanakan hanya di tingkat menteri.

Yukio Hatoyama auf Klimakonferenz bei den UN

PM Jepang Yukio Hatoyama.

Namun tepuk tangan paling meriah diterima PM baru Jepang Yukio Hatoyama. Ia berjanji mendukung negara-negara berkembang dengan bantuan dana dan pengetahuan teknis know-how.

Selain itu ia juga menyatakan, "Untuk tujuan jangka menengah, Jepang akan menurunkan emisinya 25% sampai tahun 2020, dibanding tahun 1990, sejalan dengan tuntutan ilmu pengetahuan untuk menghentikan pemanasan global.

Sasaran kongkret jangka menengah adalah yang paling menjadi sengketa. AS misalnya, mendukung target menurunkan separuh emisi gas rumah kaca sampai tahun 2050, tetapi mengayuh langkah lambat ke arah itu.

Dalam pidatonya yang ditunggu-tunggu, Presiden Barack Obama mengakui, AS terlalu lama mengabaikan luasnya dampak perubahan iklim. Tapi era baru telah dimulai.

"Saya bangga mengatakan, dalam 8 bulan terakhir AS berbuat lebih banyak untuk memajukan energi bersih dan mengurangi polusi karbon, dibandingkan periode manapun dalam sejarah kami", kata Obama.

Namun ia tak menyebut target kongkret dalam pengurangan emisi gas rumah kaca. Karena itu Menteri Lingkungan Jerman Sigmar Gabriel mengatakan, pidato Obama jauh dari harapan. Presiden baru AS seharusnya mengatakan apa yang dilakukan sampai 2030 untuk mengejar ketinggalan akibat kelalaian pemerintah lama.

Jerman sendiri masih harus melakukan banyak hal untuk mencapai target penurunan 40% emisi gas rumah kaca sampai tahun 2020. Instalasi-instalasi untuk energi terbarukan masih harus terus dibangun.

Janji kongkret pengurangan emisi, seperti dicontohkan Jepang, tidak banyak terdengar dalam konferensi iklim di New York. Janji Presiden Cina Hu Jintao untuk mengurangi penggunaan bahan bakar dari fosil saja sudah dianggap langkah maju.

Malediven Präsident Mohamed Nasheed gewinnt Wahlen

Presiden Maladewa Mohamed Nasheed.

Masih banyak yang harus dilakukan menjelang KTT iklim dunia di Kopenhagen, Desember. Mohammed Nasheed, Presiden Maledewa, negara pulau di samudera Hindia menghimbau dunia internasional:

"Kami tidak menyebabkan pemanasan global. Tapi jika semua berlanjut seperti sekarang, kami tidak akan bertahan hidup dan akan binasa. Negara kami tidak akan eksis. Kita tidak bisa membiarkan KTT di Kopenhagen gagal. Jangan sampai yang muncul adalah perjanjian untuk bunuh diri", tandas Nasheed.

Christina Bergmann/ Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan