1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Agama Adalah Senjata

17 April 2017

Kesamaan agama bisa menyatukan umat. Tapi ada bahayanya: Mereka yang menguasai interpretasi doktrin, bisa menciptakan perdamaian atau merusaknya. Opini Jan D.Walter.

https://p.dw.com/p/2bKsV
Muslim beten Gebet Symbolbild
Foto: picture alliance/dpa

Pertanyaan panas menyangkut eksistensi dan kematian mengarahkan manusia mencari jawabannya di luar dunia material. Spritualitas dan keimanan pada Tuhan mereprentasikan jalan sangat individual untuk mencapai perdamaian internal.

Tapi, jika keyakinan diinstitusikan dalam konteks sosial menjadi agama, tercipta fungsi yang berbeda, yakni menciptakan identitas bersama. Agama mematri kebersamaan kelompok umat, menggerakkan mereka untuk saling membantu. Jika terjadi sengketa, nilai moral yang dianut bersama, membantu mencari solusi yang disepakati bersama.

Dengan cara ini, agama memberikan kontribusi bagi perdamaian masyarakat. Tapi hal yang sama juga berlaku bagi elemen-elemen pembentuk identitas lainnya, seperti budaya, keluarga atau afiliasi etnis. Kohesi sosial memungkinkan anggota komunitas untuk bekerjasama dan membuatnya kuat , baik secara sosial, ekonomi maupun terhadap ancaman dari komunitas lainnya.

Agama dan kolektifisme

Tapi, kohesi sosial juga menyembunyikan ancaman, yakni, jika kelompok individu ini menjadi sebuah kolektif. Makin kuat identitas kolektif, makin besar ancaman bahayanya. Sebab, jika mereka keluar dari komunitas, bisa jadi harus dibayar dengan hilangnya indentitas individu. Hal ini menciptakan kendala psikologis amat tinggi. Dan ini akan mengarahkan individu menjadi sub-ordinat kolektif, baik terkait keinginan dan kebutuhannya maupun moralnya, ketimbang mempertanyakan keduanya.

Walter Jan D. Kommentarbild App
Redaktur DW Jan D.Walter

Agama memiliki potensi besar membangkitkan ketergantungan semacam ini, sama seperti ideologi totaliter. Karena bagi mereka sudah disiapkan banyak jawaban. Bagi banyak orang, ini jauh lebih mudah dan lebih atraktif, dibanding masyarakat liberal, yang menunjukkan keraguan bukannya kepastian pada kecemasan orang. Sisi negatifnya, mereka yang menyuarakan keraguan di dalam kolektif, akan segera disingkirkan. Tapi barang siapa tetap berada dalam kolektif, meraka tidak lagi memiliki kemampuan untuk melontarkan keraguan tanpa mengkhianati diri sendiri.

Dalam perjalanan waktu, sejumlah gerakan moderat terbentuk di dalam arus utama agama dan ideologi totaliter, dimana para pendukungnya bisa menyampaikan keraguan dan juga melakukannya. Dalam dunia Kristen proses tersebut dimulai 500 tahun yang lalu, dan hingga kini masih terus berlangsung.

Tujuan yang memutuskan

Bahaya dari semua itu amat nyata. Sebuah kelompok individu yang kritis boleh jadi bisa dipengaruhi. Tapi manusia yang memandang dirinya sebagai bagian dari kolektif, juga bisa dikendalikan oleh mereke yang berhasil menerapkan doktrinnya. Bagi pemimpin semacam ini, agama dan ideologi menjadi senjata, dimana dengan itu massa bisa dimbolisir sesuai keinginannya.

Hal seperti ini telah terjadi berulangkali dalam sejarah umat manusia. Seringkali hal tersebut menelan ongkos berupa nyawa manusia, kebebasan dan kemerdekaan. Namun dalam kasus lainnya, agama justru memberikan umatnya maupun umat agama lain, kehidupan, kebebasan dann perdamaian.

Memandang konsekuensinya, adalah tidak ada gunanya mendiskusikan, apakah agama digunakan atau disalahgunakan, untuk mencapai sesuatu tujuan. Namun jelas, bahwa agama adalah senjata, yang bisa digunakan untuk tujuan ini atau itu.

Dalam hal ini, adalah sangat tepat, untuk mengimbau para pimpinan religius untuk berpartisipasi dalam negosiasi perdamaian. Dalam ajakan ini harus terkandung tuntutan: gunakan senjata untuk menentang perang dan bagi perdamaian. 

Penulis: Jan D.Walter (as/yf)