Memiliki Tingkat Kesulitan Tinggi, Operasi Penyelamatan KRI Nanggala-402 Akhirnya Dihentikan | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 03.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

KRI Nanggala-402

Memiliki Tingkat Kesulitan Tinggi, Operasi Penyelamatan KRI Nanggala-402 Akhirnya Dihentikan

Misi salvage KRI Nanggala-402 telah resmi dihentikan. Sejumlah muatan penting berhasil diangkat dari bangkai kapal selam buatan Jerman dalam misi sangat berisiko dan memiliki tingkat kesulitan amat tinggi ini.

Foto kapal selam KRI Nanggala-402

Foto kapal selam KRI Nanggala-402

Operasi salvage kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali resmi dihentikan. Keputusan ini diambil setelah TNI AL menggelar rapat koordinasi pengakhiran dengan atase pertahanan Cina untuk Indonesia terkait operasi penyelamatan kapal selam KRI Nanggala-402 pada Rabu (02/06).

Operasi salvage ini melibatkan tiga kapal Angkatan Laut Cina yakni PLA Navy Ship Ocean Tug Nantuo-195, PLA Navy Ocean Salvage & Rescue Yong Xing Dao-863 dan Research Vessel (R/V) Tan Suo Er Hao.

Dalam pernyataannya, Kepala Gugus Keamanan Laut (Danguskamla) Komando Armada II Laksamana Pertama TNI I Gung Putu Alit Jaya mengatakan, operasi penyelamatan KRI Nanggala di kedalaman laut 838 meter bukanlah "hal yang mudah dan mengandung tingkat risiko serta kesulitan yang sangat tinggi."

"Kami mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada kapal-kapal yang telah bersusah payah melakukan pengangkatan di dasar laut serta permohonan maaf apabila ada ketidaknyamanan yang dirasakan selama melaksanakan operasi ini,” ujar I Gung Putu Alit Jaya dikutip dari laman resmi TNI AL, Kamis (03/06).

Bagaimana nasib seluruh kru KRI Nanggala-402?

Selama operasi penyelamatan ini, tim telah melakukan penyelaman sebanyak 20 kali dan berhasil mengangkat sejumlah material penting dari bangkai kapal selam.

"Liferaft dan bagian belakang anjungan,” jelas Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Julius Widjojono saat dimintai keterangan oleh DW Indonesia perihal material yang dimaksud, Kamis (03/06).

Julius juga menyampaikan, belum ditemukannya bagian badan tekan (pressure hull) yang diperkirakan merupakan tempat di mana seluruh kru KRI Nanggala berada menjadi alasan dihentikannya operasi penyelamatan. Badan tekan kapal selam sendiri diduga kuat masuk ke dalam kawah berdiameter 38 meter yang berada di dasar laut perairan Bali.

"Penghentian karena pressure hull belum ditemukan sebagai badan inti keberadaan ABK 402,” ungkap Julius.

Sementara itu, keluarga kru KRI Nanggala masih berharap seluruh kru dapat ditemukan.

"Kami sekeluarga berharap mereka (seluruh kru) dapat diangkat,” kata Sudarmadji, ayah dari salah satu kru KRI Nanggala dikutip dari AFP. "Tidak masalah jika lama atau kita harus minta lebih banyak bantuan dari negara lain."

Kronologis tenggelamnya KRI Nanggala-402?

Sebelumnya kapal selam yang membawa 53 kru ini hilang kontak di perairan Bali pada tanggal 21 April 2021 lalu. KRI Nanggala-402 diagendakan untuk melakukan latihan penembakan torpedo.

Tiga hari setelahnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengumumkan, kapal selam buatan Jerman 44 tahun lalu ini dinyatakan tenggelam berdasarkan bukti autentik penemuan tumpahan minyak dan serpihan yang ditemukan tim pencari. Kemudian pada tanggal 25 April 2021 KRI-402 dinyatakan tenggelam dan seluruh krunya telah gugur.

Tim pencari telah memastikan KRI Nanggala tenggelam di kedalaman 838 meter dan terbelah menjadi tiga bagian. Saat itu KRI Rigel telah melakukan pemindaian secara akurat dengan multibeam sonar dan magnetometer untuk menghasilkan citra bawah air yang detail. Sementara MV Ship Rescue dari negara tetangga Singapura juga telah menurunkan ROV-nya untuk memperkuat citra bawah air.

Sebelumnya, KSAL Laksamana Yudo Margono menegaskan tenggelamnya KRI Nanggala-402 bukan karena human error atau kesalahan manusia. Yudo memastikan bahwa proses penyelaman kapal selam yang telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1981 itu sudah sesuai prosedur.

"Dari awal saya sampaikan bahwa kapal ini, bukan atau tidak human error. Jadi bukan human error. Karena saat proses menyelam itu sudah melalui prosedur yang betul," tegasnya saat konferensi pers pada 25 April 2021 lalu.

rap/as (berbagai sumber)

Laporan Pilihan