Operasi Anfal | dunia | DW | 22.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Operasi Anfal

Kampanye berdarah dalam sejarah Irak itu diproses sebagai 'Operasi Anfal’, yang harus dipertanggungjawabkan mantan diktator Saddam Hussein dan enam orang tedakwa lainnya di depan pengadilan di Bagdad.

Saddam Hussein

Saddam Hussein

Dalam proses pertama, Saddam Hussein dituduh melakukan pembunuhan terhadap hampir 150 warga Syiah di desa Dudsyail, 24 tahun lalu. Dalam proses kedua sekarang, dikenakan tuduhan pembunuhan massal. Tahun 1987 dan 88, dalam serangan aparat keamanan Irak ke kawasan Kurdi di Utara negara itu, lebih dari 3.000 desa dihancurkan dan lebih dari 100 ribu orang dibunuh. Sebagian besar adalah penduduk sipil tidak berdosa yang kebanyakan menjadi korban serangan gas beracun.

Dengan jumlah yang hampir 25 juta, warga Kurdi adalah kelompok etnis terbesar tanpa negara di kawasan tersebut. Mereka terpencar di Turki, Irak, Suriah, Iran dan negara lainnya. Semua upayanya untuk membentuk negara kesatuan gagal. Berulang kali mereka menjadi bola ping-pong kepentingan penguasa internasional maupun regional. Juga di Irak. Meskipun di tahun 70-an Bagdad melakukan pengecualian dengan memberi otonomi kepada kawasan Kurdi di Utara Irak, Partai Baath dari rejim Saddam Hussein melanggarnya dan memperkuat tekanan terhadap mereka. Warga Kurdi tidak dilibatkan dalam pemerintahan dan di kawasannya mereka semakin diburu.

Alasan utama adalah kekayaan minyak kawasan Kurdi di Utara. Dengan pengusiran terarah warga Kurdi dan pembangunan pemukiman Arab, sumber daya ini diharapkan memenuhi kebutuhan pemerintah pusat di Bagdad dan bukan bagi kepentingan kelompok milisi Kurdi, yang sejak lama mendapat dukungan Iran, Amerika Serikat, juga Israel. Tapi aliansi ini terpecah setelah pecahnya revolusi Iran. Teheran memalingkan diri dari Amerika Serikat dan Israel. Dan di Washington, Saddam Hussein mulai dipandang tidak terlalu menyebalkan dan mendukungnya guna melawan Teheran. Dukungannya sampai pada pengiriman atau setidaknya ijin untuk menggunakan senjata kimia. Juga perusahaan Jerman diduga terlibat dalam pengirimannya, yang dulu disangkal oleh pemerintah di Bonn.

Selama perang Iran-Irak terjadi aliansi terbatas baru antara Kurdi dan Iran, dimana Bagdad mengakhiri sikap tenggang rasa terakhirnya. Warga Kurdi dituduh bekerja sama dengan Iran, yang mana sebagian besar memang benar. Kawasan Kurdi dibakar dan ditembaki dengan gas beracun. Siapa yang bertahan hidup, diusir atau ditangkap dan kemudian dibunuh. Tindakan ini terutama dilakukan sepupu sang diktator, Ali Hassan el-Masyid, yang dikenal dengan nama 'Ali Kimia’, karena ia yang bertanggung jawab atas serangan dengan gas beracun.

Puncak kekejamannya adalah pembantaian 5.000 warga sipil di kawasan Halabasya yang terjadi tahun 1988, pembunuhan massal terbesar dalam sejarah warga Kurdi. Meskipun demikian dalam proses pengadilan kedua terhadap Saddam Hussein, kasus tersebut tidak akan dibahas. Pengadilan lebih berkonsentrasi pada operasi Anfal dan seperti halnya proses Dudsyail berlangsung di pengadilan khusus di kawasan hijau Bagdad, walaupun demikian di bawah pimpinan hakim lainnya. Tidak ada yang ragu, pada akhir proses akan dijatuhkan keputusan terbukti bersalah dengan vonis hukuman mati, seperti dalam proses pertama. Tapi pelaksanaannya masih akan makan waktu beberapa tahun.

Iklan