OPEC Akan Kurangi Produksi Minyak Bumi? | Mukalama | DW | 08.09.2008
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Mukalama

OPEC Akan Kurangi Produksi Minyak Bumi?

Harga minyak bumi merosot jauh dibandingkan Juli lalu, ketika harga minyak mencapai $147,00 per barel. Namun naik lagi sedikit menjelang pertemuan OPEC ke-149 yang dimulai di Wina hari ini.

Ke arah mana kran produksi minyak diputar?

Ke arah mana kran produksi minyak diputar?

Berapa harga yang dikehendaki oleh negara-negara pengekspor minyak? Sampai kini negara-negara pengekspor minyak, OPEC, sedikit banyak masih menentukan harga minyak bumi.

Hitungan yang tergamblang, apabila produksi minyak bumi melebihi kebutuhan pasar, maka harga akan turun. Tapi bila permintaan lebih besar dari pasokan, maka harga minyak akan melejit naik. Bagi sejumlah negara anggota OPEC, rendahnya harga minyak bumi saat ini, dibandingkan Juli lalu, merupakan indikasi bahwa pasar tidak kekurangan pasokan. Bahkan apabila produksi tidak dikurangi, ada kemungkinan harga minyak bumi akan merosot lebih jauh lagi. Hal ini tidak dikehendaki oleh sejumlah negara, termasuk Iran dan Venezuela.

Sejak beberapa waktu kedua negara ini, khususnya Iran mendesak agar produksi dikurangi. Meski begitu sebelum ke Wina Menteri Energi Emirat, Mohammed al-Hamili menegaskan, OPEC akan tetap pada kebijakan untuk menyediakan pasokan cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. Ia sebutkan, kebijakan ini tak akan diganggu gugat pada pertemuan hari Selasa (09/09) di Wina.

Emirat menduduki peringkat ke-empat dalam produksi OPEC, kuota produksinya tinggi. Al-Hamili pun berjanji akan membahas kaitan produksi dengan turunnya harga minyak bumi. Ia mengatakan:„Sumber minyak konvesional ditambah dengan minyak non-konvensional lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan di masa depan. Jadi isu yang kita hadapi sebenarnya tidak terkait dengan keberadaan sumber-sumber minyak, tapi terkait dengan masalah pemasokan yang berkelanjutan. “

Hamily pun mengatakan, harga minyak bumi juga dipengaruhi oleh tindakan spekulasi, masalah strategi geografis dan kondisi iklim global. Kemerosotan harga minyak yang begitu cepat, hanya menunjukan bahwa kenaikannya dulu terlalu pesat. Begitu ungkapnya. Namun diantara ke-13 negara utama pengekspor minyak, bukan saja Iran dan Venezuela yang mencemaskan merosotnya harga minyak. Menteri Energi Ajazair, Chakib Khelil hari Senin juga melihat keresahan para anggota soal produksi yang berlebihan. Karenanya, ia juga mendorong agar OPEC membahas masalah kuota.

Sejumlah pengamat menilai, pertanyaan yang dihadapi OPEC bukan, apakah akan mengurangi produksi. Melainkan, kapan melakukan pengurangan produksi itu. Setiap anggota OPEC memiliki kuota produksi tertentu. Saat ini, produksi negara-negara OPEC rata-rata berada di atas batas kuota. Bulan Mai lalu ketika harga minyak memecah rekor 147 dolar per barrel, Saudi Arabia meningkatkan produksinya atas desakan dari Amerika Serikat. Karenanya diperkirakan, pengurangan terutama akan dilakukan oleh negara-negara yang produksinya memang sudah jauh melebihi kuota. Bila ini disepakati, maka Saudi Arabia tidak perlu secara formal merubah kebijakannya.

Menurut pengamat OPEC, Martin Zägler masih banyak hal yang perlu dibicarakan di Wina, misalnya kepentingan pasar itu sendiri. Banyak negara seperti Eropa yang memang membutuhkan pasokan minyak bumi. Menurut Zägler, dalam jangka panjang harga minyak bumi akan tetap tinggi: “Dalam hal ini harga minyak tidak akan bergerak, secara khusus pasti tidak bergerak ke bawah.”

Memang, bukan berdagang bila tujuannya adalah merugi. Hari Selasa ini, pertemuan OPEC ke-149 dibuka secara resmi di Wina dan para menteri yang menghadiri akan mendorong kepentingan negaranya dalam perdebatan apakah kran produksi minyak akan tetap dibuka lebar atau kebalikannya, diputar supaya produksi minyak yang menggelontor keluar lebih sedikit. (ek).

  • Tanggal 08.09.2008
  • Penulis Koesoemawiria, Edith
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/FDrF
  • Tanggal 08.09.2008
  • Penulis Koesoemawiria, Edith
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/FDrF