Opa Smend dan Museum Batiknya di Jerman
Di sebuah ruang bawah tanah sempit di Köln Jerman, pria 85 tahun ini masih setia merawat batik dari negeri yang jauh. Bagi Rudolf Smend, batik bukan sekadar kain—melainkan cinta yang tak pernah usai.

Kelana panjang ynag berujung pada batik
Saking sukanya pria Jerman ini pada batik, Rudolf Smend pria Jerman yang usianya sudah 85 tahun ini mendirikan museum pribadi batik pada tahun 1973, sepulangnya dari berburu batik di Indonesia. Koleksinya mulai dari batik Jambi hingga Pekalongan.
Awal Perkenalannya dengan Batik.
Rudolf berkelana panjang dari Jerman tahun 1972 hingga ke India, Afganistan dan beberapa negara lain hingga ke Australia. Ia sempat singgah di Yogjakarta dan melihat penari di pendopo istana yang mengenakan batik. Ia kerkesima pada batiknya.
Jualan batik di Jerman
Kala itu, ia mencoba belajar membatik namun tak selesai. Ia malah jalan-jalan ke pasar dan menemukan penjual batik. Ia beli beberapa dan dibawa pulang ke Jerman. Ia dagangkan di pasar loak dan laku. Uang hasil dagangnya ia pakai buat kembali ke Indonesia memborong lebih banyak batik.
Museum tutup, buka lagi di bawah tanah galerinya
Tahun 2025, museum batiknya terpaksa tutup sejenak karena gedung di mana museumnya berada dijual pemiliknya. Untung ia masih punya dua galeri lain. Akhirnya ia boyonglah koleksi batik dan ornamennya ke bawah tanah galerinya yang kecil. Harga properti di Köln tinggi, sehingga ia tak bisa menyewa ruang lain yang lebih besar.
Masuk museumnya tak perlu bayar
Museumnya juga pernah dibuat berita di DW beberapa tahun lalu. Lewat museum batiknya, beberapa warga Jerman jadi mengenal budaya Indonesia. Pengunjung museumnya tidak dipungut biaya masuk. Biaya sewa ruang dan perawatan ia kelauarkan dari dompetnya sendiri.
Di museum bukan hanya bisa lihat batik
Bukan hanya batik, tapi alat-alat pembuatan batik juga ia koleksi. Termasuk kerajinan tangan yang juga menarik dan berkaitan dengan batik. Semua ini ia rawat dengan penuh kasih.
Batik tertua dan warna-warni pastel
Ini batiknya yang paling tua. Kedua batik Pekalongan ini berasal dari tahun 1880-an. Ia sangat suka dengan aneka warna yang ditorehkan pada kain batik. Secara berkala ia memamerkan batiknya dengan menghamparkan di dinding galerinya jika ruang galerinya sedang tidak disewa seniman lain.
Semangat hingga titik darah penghabisan
Di usianya yang sudah 85 tahun ia berpikir untuk menghibahkan koleksinya, namun hingga kini ia belum putuskan. Ia masih menikmati koleksinya dan sepanjang masih sanggup mengurus, ia tetap ingin merawat harta harunnya sendiri.