1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Gambar ilustrasi laba-laba
Gambar ilustrasi laba-labaFoto: Fabian Schmidt/DW
IptekGlobal

Obat Mujarab bagi Manusia dari "Senjata Maut" Hewan

Markus Plawszewski
23 April 2022

Racun atau bisa adalah senjata sangat ampuh pada hewan. Tapi ada juga yang mengandung substansi untuk obat bagi manusia. Seorang ahli biologi mencari harta karun itu.

https://www.dw.com/id/obat-mujarab-dari-bisa-dan-racun-hewan/a-61559277

Tidak semua harta karun terdiri dari perak dan emas. Kadang orang juga menemukannya, di tempat yang paling tidak diduga. Yaitu di dalam racun mematikan dari hewan! Di seluruh dunia ada sekitar 200.000 jenis racun, dan dari beberapa racun itu sudah diperoleh unsur aktif bagi obat penting. Bagi ilmuwan, ini harta karun yang sangat berharga!

"Upaya menemukan unsur aktif bahan obat dari dalam racun hewan memang mirip upaya mencari harta karun", kata Dr. Tim Lüddecke, kepala Animal Venomics Research Group pada Fraunhofer Institut IME. Kemungkinan, generasi obat berikutnya yang akan mereka kembangkan, dapat ditemukan dalam racun dari hewan. Mereka hanya perlu mengidentifikasi racun itu.

Tapi itu tidak mudah. Karena dalam racun hewan terdapat jutaan molekul. Tim Lüddecke yang memimpin penelitian pada Fraunhofer Institut IME, juga melakukan pencarian dalam racun jenis laba-laba yang endemik di Jerman. Berbeda dengan jenis laba-laba tropis, belum banyak yang diketahui tentang racunan hewan asli Jerman.

Obat dari Racun Hewan Mematikan

Misalnya, di dalam racun laba-laba jenis Wespenspinne peneliti menemukan sejenis protein istimewa. Tapi bagaimana cara berfungsinya? Hewan-hewan itu biasanya menggunakan racun untuk menarik mangsa atau mempertahankan diri.

Jarang ditemukan tapi efektif

Racun pada binatang berfungsi melumpuhkan dan membuat mangsanya mati rasa. Selama evolusi, racun berkembang menjadi semakin tepat sasaran. Racun kerap sangat efektif terhadap reseptor tertentu pada tubuh. Apakah para manusia juga demikian?

Tim Lüddecke mengungkap, sampai sekarang hanya ada sedikit obat yang dikembangkan dari racun hewan. Tetapi yang sampai sekarang berhasil dikembangkan, menjadi obat-obatan terbaik yang kita kenal. Sangat jarang, tapi sangat efektif.

Setidaknya di laboratorium, semakin banyak unsur aktif dari racun hewan yang berhasil ditemukan dengan kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Chlorotoxin misalnya, yag merupakan unsur aktif dari racun saraf pada kaajengking kuning dari Laut Tengah, tumor otak pada manusia jadi bisa terlihat.

Contoh lain, di dalam racun dari tawon terdapat Melitin. Protein ini membantu peneliti memerangi jenis kanker payudara yang agresif. Sejak dahulu kala orang sudah tahu bagaimana memanfaatkan racun dari hewan.

Di Cina dan Jepang, orang sudah menggunakan kura-kura beracun sejak 4.000 tahun lalu. Di dalam kulit kura-kura terdapat racun yang mendukung aktivitas jantung manusia.

Racun dari hewan juga mematikan bagi manusia

Tapi tidak semua racun memiliki daya guna positif bagi manusia. Sesuai sifatnya, banyak racun yang bersifat mematikan bagi manusia. Itu sebabnya, berdasar kisah yang dituturkan, Iskandar Agung membubuhkan racun dari laba-laba jenis Russell pada pucuk anak panah tentaranya. Akibatnya: tekanan darah dari mereka yang terkena tembakan panah merosot dengan cepat, demikian pula detak jantungnya. Dan akhirnya mati!

Tapi juga sebaliknya, lalat Spanyol ibaratnya viagra di Abad Pertengahan. Khasiatnya sebagai obat kuat untuk pria, berasal dari unsur di dalam racun kumbang minyak, yang dalam bahasa Jerman disebut Ölkäfer. Obat ini juga masih digunakan sampai sekarang.

Namun demikian, bagi industri farmasi, pengembangan obat yang berdasar pada racun dari hewan tidak terlalu menguntungkan. Perlu biaya besar dan waktu riset lama. Menurut Tim Lüddecke, biasanya butuh sekitar 10 tahun. Itu menyebabkan industri farmasi ragu menginvestasikan dana. Oleh sebab itu, tugas berat ini kerap berada di tangan institut penelitian.

Upaya pencarian unsur aktif racun yang punya potensi pengobatan cukup besar, biasamya berawal pada pencarian hewan-hewan beracun itu sendiri. Karena, pertama-tama orang butuh racun tersebut. Untuk memperoleh carun dari sejenis reptil istimewa misalnya, membawa Tim Lüddecke ke kebun binatang spesial untuk reptil, "Repitilum Landau". Di sini, ia bisa memperoleh air liur beracun langsung dari mulut kadal.

Bagi beberapa jenis hewan, pengambilan racun dari tubuhnya, berarti membunuh mereka. Untuk bisa meneliti racun laba-laba jenis Wespenspinne misalnya, Lüddecke harus mengeluarkan kelenjar racunnya.

Untuk itu dia melakukan metode yang disebut Gelelektrophorese, yaitu metode analitis untuk memisahkan berbagai jenis molekul. Molekul-molekul dari racun hewan menyebar secara merata di seluruh gel.

Molekul juga membentuk semacam garis spektrum yang tampak seperti pita. Pola sekuens pita spektrum molekul ini, kemudian bisa dibandingkan dengan racun hewan lainnya.

Dr. Björn M. von Reumont, peneliti racun dan bisa dari Institut Bioteknologi Serangga mengatakan, dalam pembandingan analisa sekuens, mereka berusaha menemukan kemungkinan terbaik dari racun Wespenspinne, dengan cara membandingkan sekuensnya dengan sekuens racun yang sudah ada.

Menguji obat di dalam bakteri

Perbandingan ini menunjukkan protein unik di dalam racun Wespenspinne. Tapi untuk apa obat nantinya digunakan? Untuk mencari tahu kemungkinan dan potensi yang terbaik dari racun, itu mula-mula harus dikembangkan di dalam bakteri. Setelah itu, racun-racun bisa diuji terhadap berbagai kuman. Dengan demikian bisa dilihat, apakah dan bagaimana racun bisa berkhasiat. 

Laba-laba kerap melumpuhkan mangsanya dengan menggunakan racunnya. Beberapa jenis racunnya juga bisa mempengaruhi transmisi rasa sakit dalam kanal ion tertentu di dalam sel-sel saraf. Jika salah satu racun laba-laba ini merapat pada sel saraf, transmisi rasa sakit akan terhenti. Jadi racun ini terutama menarik dalam hal pengembangan obat anti rasa sakit bagi manusia.

Tapi masih ada kendala berikutnya, dalam upaya membuat obat dari racun. Jika kita mengambil protein dari racun hewan, sistem pencernaan kita akan mengurai protein itu. Sehingga kehilangan potensi racunnya, dan dengan demikian tidak bisa digunakan sebagai obat. Jadi protein itu harus dikonstruksi ulang dengan cara rumit di laboratorium.

Dan akhirnya dosis yang tepat, yang menentukan apakah racun akan menjadi obat atau tetap jadi racun. Jika dosis terlalu rendah, dampaknya tidak ada. Jika dosisnya terlalu tinggi, efek sampingannya akan sangat besar.

Unsur aktif dari air liur beracun kadal Heloderma suspectum misalnya, sekarang bisa membantu penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darah. Ini hanya satu dari belasan obat-obat yang mendapat izin, dan berasal dari racun hewan. 

Sumber harta karun ini belum banyak diteliti. Upaya pencarian protein bermanfaat dari racun laba-laba endemik Jerman "Wespenspinne" terus berlanjut. Mungkin laba-laba itu menyimpan harta karun baru bagi ilmu pengetahuan. (ml/inovator)