Obama Inginkan Dunia Tanpa Senjata Nuklir | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 23.09.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Obama Inginkan Dunia Tanpa Senjata Nuklir

Pekan ini, DK PBB menggelar sidang khusus untuk membahas perlucutan senjata nuklir dan konvensional. Presiden AS Barack Obama mendukung hal ini, tapi posisinya dipandang dengan skeptis oleh sejumlah pakar pertahanan AS.

default

Munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan militer bermula saat Perang Dunia kedua. Sejak itu, anggaran Kementerian Pertahanan AS terus meningkat. Setelah serangan teror 11 September 2001, AS dihadapkan pada tantangan keamanan baru. Presiden George W. Bush berinvestasi dalam sistem persenjataan baru dan modern.

Sebaliknya, pengganti Bush yaitu Presiden Obama, berencana untuk mengurangi persenjataan dan memangkas anggaran pertahanan AS. Kebijakan Obama ditentang oleh para pakar yang konservatif. Pakar pertahanan AS Eric Edelman menilai, Obama tidak akan berhasil. Di masa pemerintahaan Bush, Edelman adalah sekretaris negara di Kementerian Pertahanan.

"Amerika Serikat menghadapi situasi keamanan yang kompleks dan sulit, dan ini tidak berubah sejak Presiden Obama memasuki gedung Putih tanggal 20 Januari lalu. Ia menghadapi masalah yang sama dengan Bush, di Irak, Afghanistan, Korea Utara, Iran dan kawasan dunia lainnya. Karena itu tidak mengherankan, bila pengeluaran militer dan pertahanan tidak akan berubah banyak."

Amerika Serikat dan Rusia memiliki lebih dari 80 persen persenjataan nuklir dunia. Amerika Serikat memiliki 2.200 hulu ledak, Rusia sekitar 2.790. Dalam suatu pernyataan bersama yang diluncurkan sebelum pertemuan G20 bulan April lalu, Presiden Obama dan Presiden Rusia Dmitri Medvedev mendesak "pengurangan dan pembatasan senjata ofensif strategis". Suatu kesepakatan sedianya dicapai sebelum 5 Desember mendatang, karena saat itulah kesepakatan START mengenai pengurangan senjata atom strategis, habis masa berlakunya.

Pakar senjata nuklir Richard Weitz dari Hudson Institute di Washington D.C. meyakini bahwa pengurangan senjata atom berpotensi memunculkan konflik baru.

"Kita harus memutuskan, risiko mana yang kita pilih. Apakah kita siap menghadapi perang konvensional karena kita tidak lagi memiliki senjata nuklir, atau kita memilih risiko yang jauh lebih kecil yaitu terjadinya perang nuklir dan di saat sama membuat perang konvensional menjadi tidak mungkin? Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini."

Todd Harrison, pakar anggaran pertahanan AS di Pusat Strategi dan Kajian Anggaran yang bermarkas di Washington skeptis melihat desakan pengurangan senjata yang dirumuskan Obama dalam pidatonya di Praha:

"Saya tidak yakin, pemerintah AS atau Kongres atau pemerintah akan mengurangi senjata nuklir sampai nol. Kami melihat sejumlah langkah kecil, tapi kita masih jauh dari perlucutan sama sekali. Ini lebih menyangkut senjata dan jenis ancaman baru."

Senjata konvensional tidak memainkan peranan penting dalam debat mengenai pengurangan senjata. Ini hanya disoroti bila harga senjata itu terlalu tinggi. Bila senjata hanya diproduksi untuk menjamin lapangan kerja atau untuk menjaga kepentingan industri senjata, maka Barack Obama mengancam Kongres, ia akan menggunakan hak vetonya sebagai presiden.

Terlepas dari perdebatan mengenai pengurangan senjata, anggaran Pentagon kembali ditingkatkan empat persen dibandingkan tahun lalu. Ini adalah anggaran tertinggi sejak akhir Perang Dunia kedua. Tapi ini mungkin merupakan dampak sampingan, karena pemerintahan Obama untuk pertama kalinya memasukkan biaya untuk perang Irak dalam anggaran tersebut.

Isabelle Schaefers/Ziphora Robina
Editor: Hendra Pasuhuk