Norodom Sihanouk dan Jatuh Bangun Politik Kamboja | dunia | DW | 15.10.2012
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Norodom Sihanouk dan Jatuh Bangun Politik Kamboja

Bekas Raja Kamboja Norodom Sihanouk, hari Senin (15/10) meninggal dunia di Beijing dalam usia 89 tahun.

Raja Kamboja saat ini Norodom Sihamoni yang merupakan anak Sihanouk, melakukan perjalanan ke Beijing untuk menjemput jenazah ayahnya, didampingi Menteri Informasi Khieu Kanharith. Usia tua disebut sebagai penyebab kematian.

Sebuah upacara pemakaman akan digelar di Kamboja, kata Menteri Informasi. Sihanouk telah mendapatkan pengobatan medis selama bertahun-tahun di Beijing untuk penyakit kanker dan penyakit lainnya yang ia derita.

Jatuh Bangun

Bekas Raja kharismatik itu adalah tokoh politik penting bagi Kamboja selama hampir 60 tahun. Dia lahir saat pemerintahan kolonial Perancis masih berkuasa. Sihanouk ikut dalam gerakan memerdekakan negaranya pada tahun 1953.

Pemerintahannya digulingkan lewat sebuah kudeta yang didukung Amerika Serikat pada tahun 1970. Sejak itu ia mulai memimpin gerakan perlawanan di pengasingan.

Kekuatan dominan dibelakang gerakan perlawanan ini adalah para pemberontak komunis yang disebut Sihanouk sebagai "les Khmer Rouge," atau Khmer Merah yang kemudian berkuasa pada tahun 1975.

Selama masa kekuasaan Khmer Merah 1975-79, diperkirakan 1,7 juta hingga 2,2 juta rakyat Kamboja termasuk para anggota keluarga kerajaan tewas akibat kerja paksa, kelaparan, penyakit atau dieksekusi rezim.

Sihanouk yang kembali ke Phnom Penh ditangkap oleh rezim dan ditetapkan sebagai tahanan rumah di istana kerajaan.

Menyusul kekalahan rezim Khmer Merah, Sihanouk menuntut penarikan pasukan Vietnam dari Kamboja dan menjadi tokoh utama dalam perjanjian di Paris pada tahun 1991 yang akhirnya membawa ke arah pemilihan umum dua tahun kemudian.

Kesehatan Memburuk

Sihanouk kembali ke tahta setelah digelarnya pemilu, namun pada tahun 2004 kembali turun takhta karena kesehatannya memburuk. Sebelum meninggal duni, dia sering menghabiskan waktu di Cina untuk mendapatkan perawatan kesehatan

“Karena jantungnya lemah, Yang Mulia akan terus tinggal di Beijing untuk pengobatan sejak Januari tahun ini,” kata Pangeran Sisowath Thomico yang merupakan pembantu pribadi Sihanouk.

AB/ AS (dpa,afp,rtr,ap)

Laporan Pilihan

Iklan