Nongkrong Bersama Komunitas ruangrupa di Berlinale | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 29.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Berlinale

Nongkrong Bersama Komunitas ruangrupa di Berlinale

Bagaimana para pembuat film bisa menjadi lebih kreatif dengan bekerja secara kolektif? Berlinale Talents mengundang ruangrupa untuk berbagi pengalaman sebagai pekerja kolektif seni rupa selama 20 tahun.

"Apa arti kolektivitas?" Dengan pertanyaan ini, Mirwan Andan, salah satu dari 10 anggota ruangrupa, membuka acara nongkrong bersama di Berlinale di ruang teater Hebbel am Ufer – HAU 1, Berlin.

Para pengunjung duduk mengelilingi Mirwan dan beberapa orang memilih tiduran di lantai. Berbeda dari banyak acara diskusi lainnya, format santai seperti di ruang tamu sengaja dipilih untuk kesempatan ini dan setiap orang bisa berkomentar kapan saja mereka mau.

Mikrofon yang berbentuk kubus kecil lalu dilempar dari satu peserta ke peserta lain.

"Kolektivitas adalah lawan dari individualisme dan lebih dari hanya jumlah semua individu yang digabungkan," jawab seorang peserta. "Yang menarik adalah apa yang muncul dari sebuah kolektif, dibandingkan dengan jika semuanya bekerja sendiri-sendiri."

"Kolektivitas tidak hanya tentang tujuan bersama, tetapi juga tentang pengetahuan dan kepemimpinan yang terdistribusi," ujar peserta lain. Ada juga yang membandingkan konsep kolektivitas dengan tubuh manusia: "Ini adalah sebuah fenomena alami, di mana berbagai entitas bekerja bersama dan berbagi sumber daya."

Dengan mendalami konsep kolektif, Berlinale Talents ingin menjelajahi bentuk-bentuk kolaborasi baru yang bisa terjadi di balik hierarki yang sudah ada di dunia perfilman sekarang.

Format yang tidak biasa di Jerman

Bagi sejumlah orang yang datang ke acara Hang Out with ruangrupa, format nongkrong ini terasa tidak biasa jika dibandingkan dengan kebanyakan presentasi yang mereka kenal di Jerman atau negara-negara Eropa lain. Ketika Mirwan sedang mengumpulkan pendapat penonton, seorang perempuan sempat mengatakan: "Anda dong yang bercerita, jangan kami!“

Tapi dengan cara berbagi seperti ini, Mirwan Andan juga ingin menunjukkan bagaimana kolektif ruangrupa bekerja. "Kami selalu mencoba untuk berkumpul dengan banyak orang ketika mengorganisasikan acara untuk melibatkan mereka," ceritanya kepada penonton. "Ketika kami nongkrong, kami mendiskusikan buku, pameran, atau dan kenalan-kenalan baru. Nongkrong adalah bagian dari konsep kami."

Seorang peserta lain menunjukkan perbedaan antara kolektif di Eropa dan Indonesia. "Kolektivitas di Eropa banyak mendapat sokongan dari pendanaan pemerintah," ujar seorang perempuan. "Jakarta mempunyai konteks budaya yang sangat berbeda dari Eropa. Pendanaan pemerintah tidak banyak, tetapi orang-orang begitu murah hati dengan waktunya. Nongkrong adalah cara royal untuk berbagi waktu dan melihat apa yang bisa dihasilkan bersama."

"Acara ini agak tidak terstruktur dan mempunyai rasa waktu yang berbeda," ujar seorang peserta. "Tapi acaranya mengingatkan saya akan Indonesia. Saya suka karena segar dan penuh energi," tambah perempuan yang sempat bekerja di Jakarta ini.

Persiapan Documenta 15

Di sela-sela obrolan, Mirwan Ardan juga menunjukkan berbagai kegiatan ruangrupa sejak didirikan tahun 2000, yang dikemas dalam bentuk video: Festival seni kontemporer  dan konser musik di banyak kota di Indonesia dan di mancanegara, proyek Gerobak Bioskop yang ingin menyebarkan budaya visual dengan konteks lokal, serta ekosistem untuk belajar seni kontemporer Gudskul.

Kolektif asal Jakarta yang terpilih menjadi pengarah artistik dan kurator Documenta 15 tahun 2022 juga sedang sibuk mempersiapkan pameran seni kontemporer yang berlangsung di Kassel, Jerman, setiap lima tahun ini. Konsep lumbung yang diangkat ruangrupa menjadi tema utama Documenta 15 dijelajahi oleh Mirwan Ardan lebih lanjut, salah satunya dengan mengunjungi pertanian organik di Bulukuma, Sulawesi Selatan.

"Kami ingin tahu tentang cara bertani alami yang mereka praktikkan. Mereka tidak menggunakan pestisida dan bertani dengan cara tradisional. Bagi kami inilah yang menjadi inspirasi untuk mengerjakan konsep lumbung nantinya. Lumbung 'kan praktik masyarakat pertanian, karena itu kami harus tahu dan paham tentang masyarakat pertanian," jelas Mirwan.

Menghadapi konflik dengan konsep musyawarah

Di ujung acara, pertanyaan terakhir datang dari seorang peserta yang ingin tahu cara ruangrupa menghadapi konflik di dalam kolektifnya. Nongkrong juga menolong dalam situasi konflik, ujar Mirwan. "Konflik ada di mana-mana dan kadang terlalu didramatisasi. Tapi kami selalu menemukan cara untuk menguranginya, seperti masak bersama, karaoke atau nongkrong," jelasnya. 

Mirwan menambahkan bahwa pengambilan keputusan memang merupakan tantangan bagi sebuah kolektif. "Untungnya kita di Indonesia, kata musyawarah mufakat itu sudah kita dengar sejak kecil dan itu menjadi bagian dari kesadaran kita. Diskusi dan debat pasti ada tapi yang penting tidak beracun sehingga musyawarah dan mufakat pasti terjadi," tutupnya. (ae)