Niat Kritik Kesalahan Eja pada Grafiti, Partai FDP di Jerman Malah Kena Batunya | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 26.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jerman

Niat Kritik Kesalahan Eja pada Grafiti, Partai FDP di Jerman Malah Kena Batunya

Masih ingat waktu Kemendikbud lewat media sosial menyunting kesalahan berbahasa Indonesia di sejumlah poster demonstrasi mahasiswa September lalu? Sebuah partai di Jerman juga melakukannya, tapi malah jadi bumerang.

Dalam sebuah iklan, Partai FDP yang berhaluan liberal demokrat menampilkan aktivitas pengeditan terhadap kata-kata salut yang lazim digunakan oleh Nazi yaitu "Sieg Heil" sebagai bagian dari video yang dimaksudkan untuk menyoroti kebijakan di bidang pendidikan. Namun langkah ini malah menuai kritik di Twitter pada Kamis (24/10) karena partai ini dianggap lalai dan menampilkan slogan-slogan Nazi.

Iklan yang memiliki tagar #Orthograffiti ini menampilkan seorang lelaki dengan wajah yang disamarkan berkeliling kota memperbaiki ejaan berbagai slogan di grafiti. 

Di video tersebut, terlihat orang memperbaiki ejaan dari kelompok berhaluan ekstrem kiri, seperti "f**k the police" dan "anarki." Ada pula slogan-slogan dari kelompok ekstrem kanan yang merendahkan pengungsi, seperti kalimat "pengungsi tidak disambut" bahasa Inggris.

Namun iklan itu juga menampilkan slogan kontroversial "Sieg Heil," yang dalam video salah dieja sebagai "Sieg Hail."

"Dengan kian banyaknya debat politik kasar di negara ini, semakin jelas pula bagi kami kaum liberal: Pendidikan tidak pernah jadi lebih penting seperti dalam situasi sekarang ini. Itulah sebabnya kami memperjuangkan kampanye #Orthograffiti ini, untuk kebijakan pendidikan yang lebih baik," tulis Tweet itu.

Di akhir video, FDP menguraikan pesan mereka dengan mengatakan "Pendidikan adalah jawabannya. Ini tidak hanya berlaku untuk ejaan, tetapi juga bagi ekstremisme, vandalisme dan kekerasan. Dengan pendidikan yang baik, kami ingin memastikan, seperti yang ditunjukkan film ini, bahwa kami akhirnya menghapus grafiti yang bersifat permusuhan terhadap kemanusiaan dari kota kami. "

Hujan kritik

Hanya beberapa jam berselang setelah diposting, video itu menduduki topik trending nomor satu di Twitter Jerman dan telah dikomentari ribuan orang. Sebagian besar berkomentar dengan nada mengkritisi. Mengecam apa yang mereka lihat sebagai trivialisasi iklan Nazi dan bahasa kelompok sayap kanan.

Beberapa orang memperingatkan kejadian di kota Halle yang hanya berjarak dua minggu sebelumnya. Serangan bermotif kebencian di Halle menyebabkan diskusi yang lebih luas di kalangan politisi dan media tentang bahaya nasionalisme sayap kanan dan meningkatnya anti-Semitisme di negara ini.

Komedian Yahudi Jerman, Shahak Shapira, membalas iklan ironis ini dengan ironinya sendiri. "Bahkan jika Jerman kembali ke kediktatoran sayap kanan yang melakukan genosida, @FDP setidaknya akan memastikan bahwa kita semua mengeja 'Sieg Heil' dengan benar," tulis Shapira.

Moderator penyiar TV ZDF, Dunja Hayali, mengatakan sebenarnya frasa tersebut sudah akan hilang dari ingatan orang. "Bisakah kita para demokrat terus memastikan bahwa 'Sieg Heil' akhirnya menghilang dari pikiran kita! Tidak ada lagi yang harus tahu bagaimana cara mengejanya dengan benar," tulisnya. 

Namun kaum FDP membela iklan mereka di Twitter, dengan mengatakan bahwa video itu memang dimaksudkan untuk bernada ironis dan memperkuat anggapan bahwa partai itu menentang simbol sayap kanan. Selain itu mereka juga berkeras bahwa pendidikan masih merupakan jawaban utama atas permasalahan saat ini.

Pada musim panas ini, FDP telah memperoleh 8 persen dari pemilih potensial. Partai ini menduduki posisi di belakang Partai Hijau, Partai konservatif kanan CDU-nya Angela Merkel, Partai ekstrem kanan AfD sayap kanan dan Demokrat Sosial (SPD).

Partai FPD mengkampanyekan diri sebagai pilihan alternatif bagi partai ekstrem kanan maupun konservatif kanan. Partai ini berfokus pada upaya penurunan pajak dan integrasi Uni Eropa secara lebih luas. Namun mereka juga menentang perbatasan negara yang bersifat terbuka dan mengadvokasi "ketertiban sistem" yang menguntungkan kaum migran yang memiliki keterampilan.

ae/rap

Laporan Pilihan