1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Netanyahu dan Erdogan Sambangi Rusia Bahas Suriah

9 Maret 2017

Jelang akhir pekan Rusia kedatangan tiga tamu penting, antara lain PM Israel Benyamin Netanyahu yang akan meminta Vladimir Putin untuk mengekang Iran dalam perang di Suriah.

https://p.dw.com/p/2YsFF
Symbolbild Erdogan Netanjahu
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan PM Israel Benyamin NetanyahuFoto: AP

Presiden Rusia Vladimir Putin mendapat agenda padat jelang akhir pekan. Pasalnya Rusia hari Kamis (9/3) kedatangan kepala negara dari Israel dan Turki, serta menteri luar negeri Jerman. Kehadiran tiga tamu penting tersebut diyakini terkait pembahasan keamanan regional dengan konflik Suriah dan Ukraina sebagai agenda utama.

Menurut siaran pers Kremlin, Presiden Putin dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu untuk membahas "perang melawan terorisme internasional" dan "aspek terpenting dalam isu pemukiman di Palestina dan Israel."

Netanyahu diyakini akan mendesak Putin buat menggunakan pengaruhnya di Teheran untuk menarik mundur Garda Revolusi Iran dari Suriah, termasuk kelompok militan Syiah, Hizbullah. Yerusalem mengkhawatirkan Iran ingin memanfaatkan konflik Suriah untuk perlahan membangun kekuatan militer di dataran tinggi Golan.

Menurut harian pemerintah, "Isvestiya" Netanyahu diyakini ingin meminta "akses informasi atas apa yang terjadi di kawasan perbatasan untuk memonitor aktivitas Hizbullah dengan lebih seksama."

Sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang dijawadlkan tiba di Moskow pada Kamis (9/3) malam, juga diyakini akan membahas konflik Suriah dengan Vladimir Putin. Selain itu penguasa Ankara itu juga akan membahas sejumlah perjanjian perdagangan, antara lain di bidang pertahanan dan energi, antara lain ihwal pembangunan pipa gas dan pembangkit listrik bertenaga nuklir.

Sebaliknya Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel membawa misi yang lebih pelik. Ia ditugaskan meredakan ketegangan dengan Moskow, sembari tetap membahas sejumlah isu sensitif semisal konflik di Ukraina. Perang antara separatis pro Rusia dan pemerintah itu saat ini berusaha dimediasi oleh Perancis dan Jerman.

Namun hingga kini perjanjian damai Minsk yang disepakati dua tahun silam masih sulit diimplementasikan, antara lain akibat sikap keras kepala pasukan pemberontak. Sebab itu Eropa ingin melibatkan Amerika Serikat sebagai mediator. Hal tersebut juga akan dibahas di Moskow. Namun Gabriel mewanti-wanti, "kembalinya Perang Dingin," ujarnya, "harus dihindari dengan cara apapun."

rzn/yf (dpa,ap)