Neraca Kunjungan Merkel ke Timur Tengah | Fokus | DW | 07.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Neraca Kunjungan Merkel ke Timur Tengah

Masalah Timur Tengah menjadi agenda utama kunjungan Merkel ini.

Merkel bersama PM Kuwait Nasser Al Sabah

Merkel bersama PM Kuwait Nasser Al Sabah

Pada akhir kunjungannya ke Timur Tengah Kanslir Jerman Angela Merkel berbicara tentang Mekah dengan tuan rumah, Perdana Menteri Kuwait Nasser Al-Sabah. Keduanya menganggap pertemuan antara kelompok Hamas dan Fatah yang berkonflik ini sebagai pertemuan penting. Jika sebuah pemerintah kesatuan nasional bagi Palestina dapat dibentuk setelah pertemuan ini, maka dapat dilihat sebuah pemecahan untuk masalah pokok konflik Israel-Palestina.

"Sekarang saya menunggu dan berharap, bahwa pembicaraan antara kelompok Hamas dan Fatah yang berlangsung di Arab Saudi minggu ini mungkin dapat membuat suatu kemajuan dalam sengketa intern di dalam wilayah otonomi Palestina. Saya juga berharap, bahwa kita berhasil membentuk pemerintah kesatuan nasional agar keadaannya dapat maju di sana.“

Kanslir Jerman Merkel dan Perdana Menteri Kuwait Al-Sabah juga berbicara mengenai Iran. Merkel berkata, bahwa ada banyak penawaran. "Pintunya terbuka, tetapi hanya jika kita melihat ada kemajuan di Iran.“, lanjut Merkel.

"Sebagai Uni Eropa, kami memberi banyak penawaran kepada Iran. Tetapi Iran tidak pernah memberi tanggapan yang meyakinkan. Pintu menuju perundingan dan pembicaraan selalu terbuka, tetapi tentu saja kami harus melihat kemajuan dan kami tidak dapat melihat hal ini tahun lalu. Oleh karena itu, kami harus menggunakan sanksi dewan keamanan PBB dan saya sangat senang, bahwa masyarakat internasional telah memberikan isyarat dengan suara bulat bagi Iran. Saya harap hal ini akan mengembalikan cara pikir yang sehat dan kami dapat kembali memulai perundingan.“

Perdana menteri Kuwait berkata, bahwa Iran bertetangga langsung dengan Kuwait. Ia menambahkan, perundingan harus berlangsung tanpa prasyarat dan perdamaian tidak dapat ditawar-tawar. Nasser Al-Sabah juga meminta hal ini kepada Merkel sebagai pemimpin Uni Eropa saat ini. Kuwait mengenali reputasi besar Eropa dan Kuwait percaya janji Merkel untuk paling tidak turut mendukung untuk memecahkan masalah-masalah negara-negara Arab dari Eropa.

Permohonan kepada Merkel ini juga diajukan oleh semua mitra bicara Merkel lainnya dalam beberapa hari terakhir ini, baik langsung maupun tidak langsung, di Mesir, di Arab Saudi dan di Uni Emirat Arab. Sekarang ini harus dilihat kelanjutannya. Walaupun datang ancaman besar dari Iran, kemungkinan akan kembali optimisme kecil di Timur Tengah, yaitu di wilayah Israel dan Palestina. Semua ini dapat didukung dan didampingi secara konstruktif oleh Eropa. Tetapi satu kalimat yang juga berlaku dalam hal ini, yang berasal dari hari pertama kunjungan Kanslir Jerman di Timur Tengah, pemecahannya harus datang dari kawasan itu sendiri.