NATO Rundingkan Sistim Pertahanan Rudal | dunia | DW | 20.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

NATO Rundingkan Sistim Pertahanan Rudal

Rencana Amerika Serikat menempatkan sistem pertahanan rudal di beberapa negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO kembali dibahas di Brüssel.

Pertemuan NATO di Brussel

Pertemuan NATO di Brussel

Kali ini Amerika Serikat berusaha menenangkan kecemasan Rusia yang selama ini menolak perluasan sistim pertahanan itu. Di Brüssel, Dewan NATO tidak memasalahkan sistim pertahanan rudal.

Anggota NATO menyadari bahwa sistim itu tidak saja bertujuan melindungi Amerika Serikat, tapi juga melindungi sebagian besar wilayah Eropa. Malah mayoritasnya menginginkan agar sistim pertahanan yang sudah ada di sejumlah negara NATO di Eropa diintegrasikan ke dalam sistim pertahanan rudal yang baru itu.

Selain itu, para anggota NATO sangat menyadari bahwa dari sudut pandang militer baik rudal-rudal penangkal dan sistim radar pelacak harus berada di Eropa. Yakni di Polandia, Ceko dan Inggris.

Dalam pertemuan di Brüssel, Sekretaris Jenderal NATO, Jaap de Hoop Sheffer menegaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di dalam NATO:

„Hal ini sudah jelas dari dulu, dan sekarang menjadi lebih jelas lagi. Di NATO, kami semua sepakat mengenai adanya ancaman serangan rudal jarak menengah dan jarak jauh.“

Ancaman yang disebut oleh Scheffer itu diperkirakan datang dari Korea Utara, Iran atau Pakistan, tiga negara non NATO yang memiliki kemampuan mengembangkan peluru kendali.

Dalam pertemuan itu, John Rood dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat bukan saja menjelaskan rinci rencana pembangunan sistim rudal itu kepada ke-25 mitra NATO, melainkan juga kepada Duta Besar Rusia.

Amerika Serikat mengharapkan kerjasama dengan Rusia. Khususnya untuk mengatasi masalah teknis dan dalam pertukaran informasi awal sebagai peringatan dini terhadap ancaman. Sistim radar pelacak yang akan dibangun di Ceko nantinya akan dikaitkan dengan sistem peringatan dini yang rencananya akan berada di wilayah Kaukasus. Oleh sebab itu tidak tertutup adanya kerjasama pertahanan rudal dengan Rusia. Begitu tutur John Rood.

“Kemungkinannya luas. Kami siap untuk membahas hal ini dengan rekan-rekan dari Rusia. Hanya saja, kami berada di tahap awal dan perlu melihat perkembangan serta reaksi rekan-rekan dari Rusia ini“

Duta Besar Rusia yang hadir, Konstantin Totskiy tetap mengkritik rencana ini sebagai gangguan terhadap keseimbangan strategis global. Rusia curiga bahwa Amerika Serikat ingin menangkan supremasi dunia. Namun Rusia tetap diplomatis dan pragmatis.

Bila memang ada ancaman, maka dampaknya bukan saja terhadap NATO, melainkan juga terhadap Rusia. Demikian Konstantin Totskiy, ia menambahkan,

„Ini merupakan awal sebuah dialog. Dan kami menyambutnya. Bisa jadi dialog ini akan bermuara pada negosiasi yang lebih riil“

Minggu depan di Oslo, para menteri Luar Negeri NATO akan berkonsultasi mengenai sistem pertahanan rudal yang masih kontroversial di Jerman.

Partai sosial demokrat menolak tegas sistim itu dan mengingatkan tentang bahayanya persaingan persenjataan yang baru. Meski begitu, sepuluh rudal pertahanan yang tak mengandung bahan peledak itu akan ditempatkan di Eropa, diperkirakan akan siap operasi setelah tahun 2010.

Iklan