1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

NATO Mengambil Alih Komando Militer Barat di Libya

24 Maret 2011

NATO akan mengambil alih komando militer di Libya, ungkap menteri luar negeri Turki. Sementara itu 350 pesawat tempur negara barat akan dikerahkan ke Libya, separuh di antaranya adalah dari Amerika Serikat.

https://p.dw.com/p/10h6q
Pesawat tempur F-16 milik Denmark mendarat di pangkalan militer Italia.
Pesawat tempur F-16 milik Denmark mendarat di pangkalan militer Italia.Foto: dapd

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam beberapa hari ke depan akan mengambil alih komando atas operasi militer koalisi internasional di Libya. Hal ini harus berlangsung "secepat mungkin" kata Menteri Luar Negeri Turki Ahmed Davutoglu pada Kamis malam (24/03) seusai berbicara melalui telepon dengan rekan sejabatnya dari AS, Perancis dan Inggris.

Seorang diplomat NATO di Brussels membenarkan laporan tersebut dan menambahkan, penyerahan komando operasi selambatnya akan dilakukan hari "Senin atau Selasa" pekan depan. Serangan terhadap pasukan pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang melibatkan lima negara itu selama ini dikoordinasikan oleh Amerika Serikat.

Perancis dan Turki Akhirnya Merestui NATO

Menlu Turki Ahmet Davutoglu di parlemen Ankara.
Menlu Turki Ahmet Davutoglu di parlemen Ankara.Foto: AP

Sejak beberapa hari silam NATO membahas peranannya dalam menjalankan Resolusi PBB nomor 1973 soal Libya. Hal tersebut didorong oleh sikap Washington yang dengan tegas mengaku akan melepaskan komando atas misi militer di negara di Afrika Utara itu. Ditambah lagi beberapa negara anggota mendesak agar NATO mengambil alih operasi tersebut.

Terutama Turki mengritik aksi pemboman oleh serdadu koalisi dan menuntut penyerahan komando kepada NATO. Namun Perancis selama ini berhasil menepis tuntutan tersebut dengan dalih akan memancing rasa curiga negara-negara Arab.

Menteri Luar Negeri Inggris William Hague hari Kamis (24/03) kembali mengulangi desakannya agar Amerika Serikat "secepatnya" menyerahkan kendali operasi kepada NATO.

"Operasi ini sekarang berada di bawah komando Amerika Serikat, tapi kita ingin agar mereka menyerahkan kendali operasi kepada NATO secepat mungkin. NATO telah menjalankan operasinya untuk menjalankan embargo senjata. Perencanaannya sudah rampung untuk zona larangan terbang. Dan kami di NATO telah membahas semua langkah yang diusulkan oleh Resolusi 1973 untuk melindungi semua penduduk sipil dari serangan Gaddafi. Kita membutuhkan kesepakatan untuk meleburkan garis komando agar lebih kokoh dan kami yakin akan mendapatkan perjanjian itu dalam waktu dekat," kata Hague.

Armada Laut NATO Tiba di Libya

Sementara itu armada blokade NATO telah tiba di perairan Libya. Menurut komandan NATO asal Italia, Laksamana Madya Rinaldo Veri, armada tersebut belum sepenuhnya rampung, namun telah menunjukkan hasil. Veri hari Kamis mengatakan di Napoli, NATO berhasil menutup gerbang utama penyeludupan senjata ke Libya.

"Apa yang saya bisa katakan adalah bahwa sayap maritim Libya adalah jalan termudah dan tercepat untuk menyelundupkan senjata ke Libya. Apa yang kami lakukan adalah memotong akses di wilayah itu. Saya tahu kami tidak bisa menutup semua jendela, tapi yang pasti kita telah menutup pintu utamanya," tuturnya.

Hingga berita ini diturunkan pertempuran masih berlangsung di sekitar ibukota Tripoli. Seorang wartawan kantor berita AFP yang berada di lokasi kejadian melaporkan ia mendengar rentetan tembakan anti serangan udara dan sedikitnya tiga ledakan besar. Stasiun televisi pemerintah menurunkan laporan serupa dengan menyebut angkatan udara koalisi internasional menghancurkan sejumlah fasilitas militer dan sipil di Tripoli dan kota Tajoura.

Rizki Nugraha/rtr/ap/afp/Ed. Luky Setyarini