Nasib Dua Sandera Jerman di Irak Belum Jelas | Fokus | DW | 21.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Nasib Dua Sandera Jerman di Irak Belum Jelas

Para penculik mengancam akan menghabisi keduanya jika tentara Jerman tidak angkat kaki dari Afganistan. Batas waktunya, Selasa (20/03) tengah malam.

Gambar dari rekaman video saat para penculik membacakan tuntutan.

Gambar dari rekaman video saat para penculik membacakan tuntutan.

Kekhawatiran dan tanda tanya masih meliputi nasib kedua warga Jerman yang disandera di Irak.

Pemerintah Jerman tetap bekerja keras mengupayakan pembebasan Hannelore Krause dan putranya, Sinan, walaupun tenggat waktu yang ditetapkan para penculik berakhir hari Selasa (20/03) tengah malam. Staf krisis tetap bekerja dengan intensif, demikian kata seorang juru bicara Kantor Kementrian Luar Negeri di Berlin, Selasa malam (20/03).

Kedua warga Jerman tersebut diculik di Irak 6 minggu silam. Tanggal 10 Maret lalu, para penculik, kelompok pemberontak tak dikenal yang menamakan diri ‘Panah Keadilan', menyebarluaskan rekaman video berisi ancaman, lewat internet. Tampak perempuan Jerman berusia 61 tahun itu menangis disamping putranya yang berusia 20 tahunan.

Para penculik menetapkan batas waktu 10 hari bagi Jerman untuk mulai menarik tentaranya keluar dari Afganistan. Jika tuntutan tak dipenuhi, kedua sandera akan dihabisi.

Jawaban diberikan Kanselir Angela Merkel Senin malam (19/03). Ia menekankan, pemerintah Jerman tak akan tunduk kepada para pemeras yang memperlakukan manusia begitu keji.

Saat menerima kunjungan Presiden Afganistan Hamid Karzai di Berlin, Kanselir Merkel mengatakan, keputusan itu memang pahit, tetapi sudah menjadi ketetapan pemerintah Jerman. Walau demikian staf krisis dari Kementrian Luar Negeri tidak mengurangi upayanya, sekalipun tenggat waktu yang diberikan para penculik berakhir.

Jürgen Chrobog, mantan ketua staf krisis yang pernah menjadi korban penculikan di Yaman mengatakan, "Biasanya para penculik tidak terburu-buru. Itu salah satu peluang untuk memperbesar tekanan, karenanya butuh waktu lebih panjang. Tapi ini betul-betul spekulatif, tidak bisa diramalkan. Saya hanya bisa berharap, jangan sampai ada keputusan yang diambil karena panik. Dan saya menilai pemerintah Jerman bertindak sangat baik dengan menyerahkan masalahnya pada Staf Krisis Kementrian Luar Negeri. Kita harus percaya sepenuhnya pada institusi ini, bahwa mereka akan melakukan segala yang mungkin untuk menolong."

Berbagai cara telah ditempuh pemerintah Jerman. Sebelumnya, Presiden Jerman Horst Köhler dan anggota keluarga korban, menyerukan kepada para penculik untuk membebaskan kedua sandera.

Pemerintah Irak sendiri menyatakan akan mengupayakan solusi damai bagi drama penculikan tersebut. Selasa (20/03) kemarin, hari terakhir ultimatum, Wakil Presiden Irak Tarik al-Hashimi mengimbau para penculik untuk melepaskan sandera sebagai isyarat adanya niat baik.

Irak harus membangkitkan rasa simpati dunia internasional terhadap penderitaan yang dihadapi rakyat Irak. Menculik orang tak bersalah dan memaksa mereka bertanggungjwab atas kebijakan pemerintahnya, tak akan membantu tercapainya tujuan itu, kata Hashimi.