Musim Kemarau Melanda, 100 Ribu Hektar Sawah Kekeringan | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 10.07.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lingkungan

Musim Kemarau Melanda, 100 Ribu Hektar Sawah Kekeringan

Musim kemarau melanda sejumlah wilayah di Indonesia dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga September dengan puncaknya pada bulan Agustus 2019.

Bendungan Jatigede juga dilanda kekeringan September 2018

Kekeringan di Indonesia

Kementrian Pertanian memperkirakan dari sedikitnya 100.000 hektar sawah yang terdampak, akan ada lebih dari 9.000 hektar tanaman pangan yang mengalami gagal panen. Hal ini diperkirakan dapat berpotensi mempengaruhi produksi tanaman pangan.

“Sudah tidak turun hujan lebih dari 30 hari di beberapa provinsi seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur," ujar Dirjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian Sarwo Edhi, seperti dikutip dari harian The Jakarta Post, Rabu (10/07) di Jakarta.

Sarwo mengatakan Jawa Timur adalah wilayah yang paling terdampak dimana 34.000 hektar sawah mengering dan sekitar 5.000 hektar gagal panen.

Provinsi kedua terparah yaitu Jawa Tengah dengan 32.809 hektar sawah mengering dan 1.893 terancam gagal panen. Sementara wilayah terdampak terparah ketiga yaitu Jawa Barat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam laporannya memperkirakan musim kemarau masih akan melanda sebagian besar wilayah di Indonesia hingga September. 

Puncak kekeringan diperkirakan akan terjadi pada Agustus, yaitu melanda sekitar 68,1 persen wilayah di Indonesia. Puncak musim kemarau adalah saat ketika jumlah curah hujan terrendah dalam satu tahun terjadi selama 30 hari berturut-turut.

Kekeringan di bendungan Katulampa

Bendungan Katulampa di Bogor, Jawa Barat, mengering pada pertengahan Maret 2019.

Libatkan TNI

Untuk mengurangi dampak kekeringan, Sarwo mengatakan saat ini pemerintah telah mendistribusikan ribuan unit alat pompa yang mampu menghasilkan air pada kedalaman 20 sampi 25 meter.

Selain itu, Kementan juga telah menggandeng personel TNI di sejumlah daerah. Kerja sama melibatkan personel TNI ini telah berlangsung dalam empat tahun belakangan diantaranya meliputi pemetaan wilayah terdampak kekeringan dan pengadaan pompa air.

"Kita dalam melaksanakan operasi militer, selain perang salah satunya adalah mengatasi kekeringan atau bencana alam. Maka itu, kita menjalin bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk melakukan pendampingan," ujar Waster Kasad Brigjen TNI Gathut Setyo Utomo dalam rapat koordinasi mitigasi kekeringan di Gedung Auditorium Kementan, Senin (8/7).

Gathut mengatakan, dukungan lain yang juga sedang dikerjakan TNI adalah mendirikan posko mitigasi kekeringan di daerah-daerah yang terkena dampak. Beberapa diantaranya ada di kawasan Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan provinsi lain diluar pulau Jawa.

Pulau Jawa masih menjadi daerah pemasok beras terbesar yang menjadi makanan pokok sebagian besar orang di Indonesia.

ae/vlz (Jakarta Post, bmkg.go.id, kementan.go.id, Kompas, )