Moskow Melawat Beijing | Fokus | DW | 21.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Moskow Melawat Beijing

Masa, di mana ketua Partai Komunis dari Moskow dan Beijing berdebat soal idelogi, sudah lama berlalu.

Hu Jintao saat melawat ke Rusia

Hu Jintao saat melawat ke Rusia

Kini, bila orang nomer satu dari Rusia dan Cina bertemu, mereka membicarakan uang dan kepentingan politik luar negeri bersama. Biasanya, kedua hal itu saling bersangkutan.

Presiden Rusia Vladimir Putin tetap berniat menjual senjata kepada Beijing untuk menjamin pemasukan bagi negaranya. Dan Cina ingin memodernisir tentaranya, agar lebih diperhitungkan di kancah politik dunia. Berhubung kebanyakan negara dunia barat menolak menjual roket atau pesawat tempur kepada rezim di Cina, maka Beijing masih bergantung pada Moskow.

Soal moral tak mempengaruhi hubungan Cina dan Rusia. Tentu saja itu memudahkan kerja sama antar kedua negara. Moskow tidak keberatan, bila Cina sesekali melontarkan ancaman ke arah Taiwan atau mendukung rezim Korea Utara. Sebaliknya, Beijing menunjukkan pengertian bagi politik dan kebijakan Kremlin di Chehnya.

Pemerintahan kedua negara sepakat bahwa pihak luar negeri tak berhak mencampuri urusan dalam negeri Rusia atau Cina. Apalagi masalahnya menyangkut pelanggaran hak asasi manusia. Moskow dan Beijing juga mendukung rezim diktator di Asia atau Belarusia. Mereka didorong satu motivasi yaitu menggeser pengaruh negara adi daya Amerika di kawasan Balkan, di Afrika maupun di negara bekas Uni Soviet.

Tapi, bila Putin dan Hu Jintao bertemu hari Selasa, ada pendapat pihak ketiga, yang tetap menjadi pertimbangan, yaitu pendapat presiden Amerika Serikat. Karena, walau Cina dan Rusia sering sepaham, misalnya dalam sengketa nuklir Iran, mereka berusaha keras untuk tidak secara terang-terangan mengambil posisi anti-Amerika.

Baik Moskow maupun Beijing tak berniat memutus hubungan dengan Washington. Beijing misalnya membutuhkan Amerika sebagai pasar ekspornya. Rusia hanya lah pemasok bahan mentah bagi boom perekonomian Cina. Sekarang saja, Produk Domestik Bruto (PDB) Cina sudah empat kali PDB Rusia.

Presiden Rusia berulang kali melawat Asia. Negaranya seolah berusaha mengejar keberhasilan perekonomian sejumlah negara di benua itu. Tampaknya Putin kecewa pada sikap negara Eropa yang sering mengaitkan kerja sama ekonomi dengan sikap moral. Dari sudut pandang Putin, itu menyulitkan suatu kemitraan. Eropa menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia. Bila Rusia ingin menjadi bagian Eropa, maka Rusia pun harus menghormati nilai-nilai tersebut.

  • Tanggal 21.03.2006
  • Penulis Komentar, Miodrag Soric
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJdv
  • Tanggal 21.03.2006
  • Penulis Komentar, Miodrag Soric
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJdv