Mobil Masa Depan | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 07.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Mobil Masa Depan

Harapan akan mobil tanpa emisi gas buang.

Standar emisi yang amat ketat di Eropa, mendorong diciptakannya mobil masa depan yang tidak menghasilkan emisi gas buang yang berbahaya. Demikian pula dengan para peneliti otomotif di Jerman. Sejak beberapa tahun belakangan, industri mobil Jerman terus melakukan penelitian di laboratoriumnya masing-masing. Semua berlomba, mencari model yang terbaik. Memang untuk sampai pada penemuan mesin baru yang kategorinya nol-emisi, masih dibutuhkan kerja keras bertahun-tahun.

Bahan Bakar Alternatif

Sebagian industri otomotif Jerman terutama melirik mesin mobil jenis baru berbahan bakar hidrogen. Alasannya, sumber energinya dapat diperbarui dan merupakan sumber energi masa depan. Mobil uji coba pertama yang menggunakan sel bahan bakar hidrogen bahkan sudah dioperasikan. Akan tetapi para peneliti memperhitungkan, produksi massal mobil berbahan bakar hidrogen, paling cepat dapat dilakukan tahun 2020. Hingga waktunya tiba, harus dilakukan transisi untuk mencari bahan bakar maupun mesin alternatif. Seperti yang dikatakan kepala bagian riset Volkswagen Franz-Josef Paefgen.

Paefgen:Dalam penelitian kami, tema bahan bakar bersama teknologi mesin penggerak alternatif merupakan fokus utama. Sekitar 35 persen anggaran penelitian dicadangkan untuk kedua hal tersebut. Kami telah berusaha keras dan melakukan pengkajian, apa yang akan dilakukan dengan teknologi serta hasil penelitian yang sudah ada. Yang saat ini kami ketahui, penerapan teknologi baru dapat dilakukan, jika kita secara konsekuen melanjutkan langkah tersebut. Kami menyimpulkan bahwa sekitar 50 persen kebutuhan bahan bakar di Eropa dapat dipenuhi dengan bahan bakar alternatif. Separuhnya dengan apa yang disebut bahan bakar biogen, yakni bahan bakar yang mengurangi emisi karbon dioksida.“

Bio Diesel

Tapi disadari, jalan yang harus ditempuh untuk lepas dari ketergantungan pada minyak bumi masih amat panjang. Memang tidak akan terdapat sebuah teknologi yang dapat memecahkan masalah paling tepat melainkan akan terdapat banyak variasinya. Bisa berupa teknologi mesin hybrida yang merupakan kombinasi mesin pembakaran dan motor listrik atau juga penggunaan campuran bio-diesel. Perusahaan otomotif Jerman juga hendak memantapkan diri dalam teknologi bahan bakar campuran bio-diesel dengan menyiapkan mesin penggerak yang sesuai. Target akhir adalah bahan bakar dengan campuran bio-diesel hingga 10 persen. Tentu saja pengembangannya tidak berhenti di situ, seperti diungkapkan ketua perhimpunan industri otomotif Jerman Bernd Gottschalk.

Gottschalk: “Di satu sisi, kami memiliki teknologi unggulan global, seperti dalam teknologi mesin diesel. Dan di sisi lainnya, kami juga mengenali potensi yang dimiliki bahwa dengan apa yang disebut bahan bakar rekayasa, kami memiliki persyaratan ideal untuk pengembangan mesin penggerak masa depan. Karena itulah, penelitian dilakukan bersama mitra dari industri minyak mineral, untuk menciptakan bahan bakar rekayasa berbasis biomassa. Inilah langkah yang dapat memberikan kontribusi pengurangan emisi karbon dioksida hingga 90 persen. Pada dasarnya, bagi semua pihak yang terlibat, inilah solusi yang memberikan keuntungan bagi semua.“

Etanol

Penerapan hasil penelitian ini sekarang dapat dilihat dari penggunaan teknologi bahan bakar fleksibel. Dengan teknologi ini, mesin penggerak menggunakan bahan bakar bensin atau etanol. Dalam cabang teknologi ini, pabrik mobil Ford menjadi pemegang pangsa pasar terbesar di Swedia. Pasalnya di negara itu terdapat jaringan lebih dari 300 pompa bensin khusus yang menjual etanol. Sebaliknya di Jerman, baru akhir tahun lalu dibuka pompa bensin pertama yang menjual bio-etanol. Sebuah langkah kecil yang penting untuk penelitian lebih lanjut, demikian kata direktur Ford Jerman, Bernhard Mattes.

Mattes: “Dalam bidang riset dan pengembangan, kami merupakan industri yang terkemuka di Jerman, dan bahkan juga di seluruh dunia. Jika melihat Ford Motor Company saja, kami memiliki kontribusi sangat besar untuk bidang penelitian dan pengembangan. Karena kami meyakini, mobilitas yang berkesinambungan hanya dapat terwujud, jika kami mengembangkan motor penggerak alternatif. Dan juga jika kami terus melakukan penelitian di bidang lainnya, misalnya dalam bidang elemen baru, dinamika dan keamanan kendaraan.“

Masalah Baru Selalu Muncul

Akan tetapi, justru di bidang inilah, para insinyur di pusat-pusat penelitian pabrik mobil, seringkali terlibat kontroversi. Seperti diungkapkan oleh direktur penelitian Mercedes Car Group Thomas Weber.

Weber: “Kami terus melakukan usaha keras untuk mememecahkan masalah, misalnya saja masalah emisi. Akan tetapi dalam waktu bersamaan, jika emisi diturunkan, maka bobot kendaraan menjadi lebih berat. Atau masalah keselamatan penumpang, tentu saja kami harus membuat mobil yang lebih aman dan untuk itu harus dipasang struktur tahan tabrakan. Dan ini juga akan menaikkan bobot kendaraan. Kami juga mengetahui, penambahan bobot kendaraan sekitar 20 kilogram, berarti peningkatan kebutuhan bahan bakar sebesar satu persen. Artinya, kami harus berusaha lebih keras lagi untuk menjaga bobot mobil tetap ringan, walaupun dilengkapi dengan inovasi teknologi terbaru. Itu berarti, struktur yang lebih ringan, aerodinamik serta mesin penggerak yang lebih efisien. Dan jika kami berhasil menemukan pemecahannya, suatu hari nanti, konflik antara kepentingan pelanggan dan kepentingan lingkungan dapat dipecahkan sekaligus.“

Tantangannya sudah jelas. Suatu hari nanti, kendaraan yang sama sekali tidak mengeluarkan emisi harus diproduksi . Alasannya juga amat sederhana. Dalam 15 tahun mendatang, jumlah mobil di seluruh dunia akan berlipat dua. Dengan mesin penggerak generasi saat ini, berarti tidak akan tersisa lagi udara untuk bernafas bagi manusia.