Misi Antariksa Eropa SMART-One | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 05.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Misi Antariksa Eropa SMART-One

SMART-One akan dijatuhkan ke bulan setelah masa tugasnya yang hampir berakhir. Program ini juga memiliki tujuan ilmiah, yaitu meneliti efek fisika dari benturan benda langit terhadap satelit bumi tersebut.

SMART-One ketika mendekati bulan

SMART-One ketika mendekati bulan

Tiga tahun lalu badan antariksa Eropa-ESA, mengirimkan wahana penelitian tidak berawak ke bulan, SMART-One. Ketika 'masa hidup' wahana penelitian itu hampir habis, para pakar di ESA memutuskan untuk menggelar fase akhir yang spektakuler: menjatuhkan wahana penelitian itu ke permukaan bulan.

Ditumbukkan ke Bulan

Beberapa bulan terakhir ini, pusat pengendali ruang angkasa Eropa di kota Darmstadt Jerman, menyalakan mesin penggerak wahana penelitian ini, untuk memindahkan posisinya ke ketinggian 90 kilometer lebih tinggi. Sasarannya, untuk memberikan momentum cukup besar, untuk memberikan daya benturan yang besar pula pada saat tumbukan SMART-One dengan permukaan bulan. Selain itu, dengan manuver terakhir itu, juga diteliti kawasan bulan yang sejauh ini kurang dikenal.

Hari Minggu (03/09) lalu, SMART-one dijatuhkan secara terarah ke sebuah kawasan pegunungan di bulan, dengan kecepatan 7.200 kilometer per jam. Tumbukannya terus diamati dengan seksama di pusat pengendali ESA di kota Darmstadt.

Untuk Dapat Diamati Kejatuhannya

Teleskop pengamat merekam tumbukan itu sebagai kilatan kecil di permukaan bulan. Berkaitan dengan program menjatuhkan SMART-One ke permukaan bulan itu, penanggung jawab programnya di ESA, Bernard Foing menjelaskan:

Jika kami membiarkan wahana penelitian itu pada orbitnya, kemungkinan pertengahan bulan Agustus lalu wahana itu sudah jatuh sendiri ke permukaan bulan, di kawasan yang tidak teramati dari bumi. Manuver koreksi orbiternya bertujuan untuk menjatuhkan wahana di kawasan bulan yang terlihat dari bumi. Dengan begitu publik maupun para astronom profesional dapat mengamati jatuhnya wahana tersebut.“

Roket ion penggerak wahana penelitian SMART-One dinyalakan sebanyak 74 kali. Hal ini dilakukan untuk mengoreksi lintasan orbitnya dan menghabisi sisa terakhir bahan bakar ion yang masih tersisia seberat enam kilogram. Foing lebih lanjut menjelaskan:

SMART-One dijatuhkan ke bulan dengan kecepatan dua kilometer per detik. Kecepatannya lebih rendah dibanding jatuhnya meteorit ke permukaan bulan. Teleskop di bumi mengamati semburan debu yang ditimbulkan oleh tumbukan tersebut, yang dapat mencapai ketinggian beberapa kilometer.“

Sejak akhir bulan Juli, lintasan terendah wahana penelitian itu terus mendekati permukaan bulan. Bulan Agustus lalu, lintasan terrendah SMART-One mencapai ketinggian satu kilometer. Pada saat melintas pada ketinggian satu kilometer itu, SMART-One terus memancarkan gambar-gamber permukaan bulan.

Penelitian Bulan

Program penelitian bulan, yang kini naik daun lagi, akan terus dilanjutkan setelah dijatuhkannya SMART-One. Badan Antariksa Eropa-ESA sudah menjalin kerjasama berikutnya dengan Lembaga Antariksa India untuk penelitian satelit bumi itu. Tahun depan, wahana penelitian India, Chandrayaan-One, akan diluncurkan untuk meneliti kawasan kutub bulan. Foing menjelaskan:

Pada misi penelitian Candrayaan-One tahun 2007 mendatang, ESA akan menerbangkan dua ujicoba dari SMART-One dalam versi yang lebih disempurnakan. Karena wahana penelitian India itu akan mengorbit pada ketinggian hanya 100 kilometer di atas permukaan bulan, maka peralatan infra merah dan röntgen Eropa, akan dapat mengumpulkan data mineral serta komposisi lapisan dalam bulan.“

Tapi terlepas dari kemitraan dengan India, Badan Antariksa Eropa-ESA juga merencanakan misi sendiri tahap berikutnya, yakni meluncurkan wahana penjelajah otomatis tidak berawak ke bulan. Penjelajah tak berawak ini direncanakan akan mengangkut batuan bulan ke bumi. Foing menjelaskan lebih lanjut:

Eropa memiliki kapasitas untuk mengembangkan misi pendaratan di bulan. Dengan pengalaman dari SMART-One, Mars-Express dan program di masa depan Exo-Mars Rover, kami dapat mengembangkan pesawat pendarat berharga relativ murah, yang dapat didaratkan di kawasan kutub bulan, untuk menunjukan kecanggihan teknologi masa depan serta untuk mencari lapisan es.“

Apakah Pernah Ada Kehidupan di Bulan?

Lebih dari itu, pencarian lapisan es yang dimaksud Foing bertujuan mencari keberadaan makhluk hidup di permukaan bulan. Walaupun di bulan tidak ada air dalam bentuk cair, tidak ada atmosfir dan tidak ada medan magnet, tapi paling tidak penelitian itu dapat menemukan jejak fosil makhluk hidup. Demikian keyakinan Bernard Foing.

Dalam sejarahnya, terjadi sejumlah tumbukan asteroid ke permukaan bumi, yang menyebabkan terlontarnya lapisan batuan ke tata surya, dan boleh jadi sampai ke permukaan bulan. Konkritnya, pada zaman hujan meteorit besar-besaran ke permukaan bumi, sekitar empat milyar tahun lalu, sekitar 200 kilogram batuan bumi, berjatuhan pada setiap kilometer persegi permukaan bulan. Saat ini, lapisan debunya itu sudah tertutup lapisan lain. Akan tetapi, kami dapat mencari lapisan debu tipis batuan bumi di lapisan dalam batuan bulan. Sejumlah batuan di lapisan ini dapat mengandung organisme atau paling tidak jejaknya. Dengan itu, kami dapat memperoleh informasi mengenai fosil, yang umurnya lebih tua dari semua fosil yang ditemukan di bumi.“

Lebih Irit

Selain melakukan pemetaan permukaan bulan, guna mencari jejak kehidupan di satelit alami Bumi itu, misi SMART-One juga menandai era baru dalam penerbangan luar angkasa.

Dengan misi wahana penelitian SMART-One, untuk pertama kalinya para peneliti menguji coba apa yang disebut roket penggerak ion. Walaupun memiliki kelemahan, berupa kurang kuatnya daya dorong, tapi roket penggerak ini sangat efisien. Karena itu, wahana penelitian dapat dioperasikan selama bertahun-tahun dengan bahan bakar dalam volume kecil.

Dalam misi SMART-One ini misalnya, hanya diperlukan 80 kilogram gas Xenon sebagai bahan bakar untuk program penelitian selama tiga tahun. Selain itu, wahana penelitian juga memanfaatkan panel sel surya, sebagai sumber energi tambahan.

Wahana penelitian SMART-one yang bobotnya sekitar 370 kilogram, diluncurkan bulan September 2003 dari stasiun ruang angkasa Eropa di Guyana Prancis. Peluncuran SMART-One menggunakan roket pengangkut Ariane-5. Dengan memanfaatkan gaya tarik bulan, SMART-One terbang mendekati bulan dengan lintasan seperti spiral.

Inovasi Lain

Dengan misi SMART-One, ESA juga mengumumkan, berhasil melakukan ujicoba instrumen navigasi terbaru yang bekerja secara otonom (OBAN). Dengan sistem navigasi otonom, wahana penelitian tidak berawak dapat menentukan secara mandiri lintasannya di ruang angkasa.

Selain itu, dalam misi yang sama, ESA juga berhasil mengembangkan sistem komunikasi berbasis teknologi laser yang lebih handal dan akurat. Dalam penerbangannya, SMART-One melakukan kontak dengan stasiun pengendali di Tenerifa-Spanyol, melalui sinar laser, yang memungkinkan pertukaran data dalam jumlah lebih besar.