Militer Thailand Lancarkan Kudeta | Fokus | DW | 20.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Militer Thailand Lancarkan Kudeta

Militer mengkudeta pemerintahan PM Thaksin tetapi menyatakan setia pada raja. Ibukota Bangkok berhasil dikuasai tanpa ada satu pelurupun ditembakkan.

Tentara Thailand berjaga dekat kantor PBB di Bangkok, Selasa (19/09).

Tentara Thailand berjaga dekat kantor PBB di Bangkok, Selasa (19/09).

Militer Thailand menguasai ibukota Bangkok Selasa malam (19/09), memecat PM Thaksin Shinawatra, mencabut konstitusi dan menjanjikan segera kembali pada demokrasi setelah melakukan reformasi politik.

Takhsin sendiri dikabarkan telah tiba di ibukota Inggris, London hari ini. Ia menggunakan pesawat sewaan milik Rusia setelah membatalkan pidatonya di markas PBB, di New York.

Sebelumnya PM Thaksin yang tengah menghadiri sidang PBB di New York, menelepon sebuah stasiun televisi Thailand untuk mengumumkan keadaan darurat. Sebuah upaya untuk menghadang kudeta. Seorang jurubicara pemerintah yang mendampingi Thaksin di markas PBB di New York mengatakan, militer tidak akan berhasil dan pihak Thaksin lah yang memegang kontrol.

Namun demikian, tank dan pasukan militer mengambil alih gedung pusat pemerintahan. Militer mengklaim, tentara dan polisi menguasai ibukota dan provinsi-provinsi di sekitarnya.

Ini merupakan kudeta pertama di Thailand dalam 15 tahun terakhir. Kendaraan lapis baja dan tentara bersenjata bersiaga di posisi-posisi strategis di ibukota. Namun perikehidupan di sebagian besar Bangkok berlanjut seperti biasa. Lalu lintas bergerak di atas jalan-jalan yang basah oleh hujan, dan bandar udara beroperasi seperti biasa.

Perebutan hanya akan sementara dan kekuasaan akan segera dikembalikan pada rakyat, kata pensiunan Letnan Jendral Prapart Sakuntanak di seluruh saluran televisi Thailand. Siaran televisi asing, termasuk CNN dan BBC, menghilang dari udara.

Militer meminta seluruh tentara melaporkan diri ke markas dan melarang pasukan bergerak tanpa ijin. Tampaknya, para pimpinan militer khawatir jika kelompok pro Thaksin di tubuh angkatan bersenjata akan melancarkan kudeta balasan.

Thaksin dikudeta di tengah krisis politik yang berasal dari tuduhan bahwa sang PM menumbangkan demokrasi di Thailand yang telah berusia 74 tahun. Belum pernah dalam sejarah Thailand, rakyat begitu terpecah belah, kata Prapart. Sebagian besar rakyat menaruh curiga pada pemerintah yang menjalankan pemerintahan lewat praktik korupsi yang merajalela.

Krisis politik di Thailand sudah berlangsung beberapa bulan. Awal Juli sudah beredar spekulasi bahwa pimpinan militer atau setidaknya sebagian angkatan bersenjata bisa berupaya menguasai situasi.

Beberapa minggu lalu, sejumlah perwira militer ditahan karena terlibat dalam rencana serangan bom terhadap perdana menteri. Di dekat kediaman Thaksin ditemukan sebuah mobil yang memuat bom di bagasinya. Namun beredar spekulasi, bahwa kejadian itu direkayasa untuk memperkuat dukungan bagi Thaksin yang berada dalam posisi sulit.

Lebih dari setahun yang lalu, terbentuk gerakan oposisi besar yang menentang Thaksin. Kelas menengah di negara itu terutama mengkritik kebijakan populis Thaksin yang menyuburkan praktik korupsi dan nepotisme.

Kubu oposisi memboikot pemilu yang ditetapkan Thaksin April lalu. Belakangan, hasil pemilu dinyatakan tidak sah, menyusul ditemukannya kecurangan. Kemudian ditetapkan jadwal baru pemilu, pertengahan Oktober mendatang. Namun beberapa hari lalu diumumkan, pemilu kembali ditunda hingga pertengahan November. Masih tanda tanya, apakah jadwal itu tidak akan berubah, setelah militer Thailand melancarkan kudeta, semalam.