1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Militer Suriah Nyaris Kuasai Timur Aleppo

13 Desember 2016

Kelompok pemberontak Suriah di timur Aleppo kian terdesak oleh pasukan pemerintah. Palang Merah mewanti-wanti terhadap bencana kemanusiaan: Ini adalah kesempatan terakhir buat menyelamatkan nyawa warga sipil Suriah

https://p.dw.com/p/2UBMQ
Syrien syrischer Soldat mit Flagge
Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Ammar

Militer Suriah bersiap merebut semua wilayah yang dikuasai pemberontak di timur Aleppo. Pemerintah di Damaskus mengklaim perang merebut kota terbesar kedua di Suriah itu telah memasuki "fase terakhir." Militer sejauh ini berhasil menguasai 90 persen wilayah timur dengan bantuan Rusia dan Iran.

Menurut kelompok HAM, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), hari Selasa (13/12) militer melakukan pembersihan di kawasan yang telah direbut di sekitar kota tua Aleppo. Direktur SOHR, Rami Abdel Rahman, mengatakan pemerintah sedang mengkonsolidasikan kekuatan menjelang pertempuran terakhir.

Kejatuhan Aleppo akan menjadi pukulan paling telak buat kelompok pemberontak. Kekalahan itu berarti pemerintah akan menguasai lima kota terbesar di Suriah. Aleppo telah dikepung militer sejak bulan Juli. "Kita sedang mengalami momen terakhir menjelang kemenangan," tutur seorang perwira militer Suriah kepada kantor berita AFP.

Syrien Zivilisten verlassen den Osten von Aleppo
Warga sipil di Aleppo berusaha melarikan diri dari pertempuranFoto: Getty Images/AFP/G. Ourfalian

Sementara itu Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki Moon mengecam pemerintah Suriah menyusul munculnya laporan kejahatan terhadap "sekelompok besar warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan," di Aleppo, kata jurubicara Ban, Stephan Dijarric. "Meski PBB tidak bisa memverifikasi laporan tersebut, sekretaris jendral ingin menyampaikan kekhawatirannya kepada semua pihak yang terlibat."

Peringatan serupa diserukan Komite Internasional Palang Merah. Warga sipil di Aleppo saat ini menghadapi risiko besar lantaran "medan pertempuran mulai bergeser mengepung mereka di wilayah timur," tulis organisasi yang bermarkas di Jenewa, Swiss, itu. "Ketika eskalasi perang memuncak dan area timur tenggelam dalam kekacauan, ribuan warga sipil yang tidak berdosa kini kehilangan tempat untuk berlindung."

"Ini mungkin kesempatan terakhir untuk menyelamatkan nyawa mereka."

rzn/yf (afp,ap)